Norwegia Tak Akan Berubah

Kompas.com - 25/07/2011, 03:54 WIB
Editor

Oslo, Minggu - Perdana Menteri Norwegia Jens Stoltenberg menegaskan, Norwegia tidak akan meninggalkan nilai-nilai demokrasi dan keterbukaan yang selama ini dijunjung tinggi setelah tragedi pengeboman dan penembakan yang menewaskan 93 orang di negara itu.

Penegasan Stoltenberg itu disampaikan saat memberikan sambutan dalam misa khusus untuk memperingati para korban di Katedral Oslo, Minggu (24/7). Raja Norwegia Harald V dan istrinya, Ratu Sonja, turut larut dalam duka pada acara yang dihadiri ribuan warga Oslo itu.

Stoltenberg mengatakan, pengeboman di kompleks gedung pemerintahan di pusat kota Oslo dan penembakan terhadap para peserta kemah musim panas angkatan muda Partai Buruh di Pulau Utoya itu adalah tragedi nasional.

Meski demikian, ia menandaskan, tragedi itu tidak akan membuat Norwegia meninggalkan nilai-nilai yang dijunjung tinggi selama ini. ”Kita akan tunjukkan demokrasi yang lebih, keterbukaan yang lebih, dan kemanusiaan yang lebih, tetapi tanpa disertai kenaifan,” kata Stoltenberg, yang lolos dari bom di gedung tempat ia berkantor.

Partai Buruh, partai yang dipimpin Stoltenberg, diduga menjadi sasaran serangan karena selama ini mendukung multikulturalisme dan kebijakan imigrasi yang memungkinkan imigran dari berbagai kelompok etnik masuk Norwegia.

Anti multikulturalisme

Anders Behring Breivik (32), satu-satunya tersangka pelaku dua serangan tersebut, adalah penganut paham ultrakanan yang membenci pandangan multikulturalisme dan arus masuknya imigran dari luar, terutama dari negara-negara berpenduduk Muslim. Breivik pernah menjadi anggota Partai Kemajuan (Framstegspartiet/FrP), yang berhaluan ultrakanan dan pengkritik kebijakan pro-imigran, serta aktif sebagai anggota forum diskusi gerakan supremasi kulit putih Neo-Nazi di internet.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

”Dia ingin merusak Partai Buruh dan menghentikan perekrutan (anggota baru) partai itu dengan cara seburuk mungkin. Ia menganggap anggota partai itu sebagai Marxis,” tutur pengacara Breivik, Geir Lippestad, kepada surat kabar Verdens Gang.

Breivik datang ke Pulau Utoya sekitar dua jam setelah ia meledakkan bom di Oslo. Di pulau itu, sekitar 600 anggota angkatan muda Partai Buruh sedang mengikuti kaderisasi partai.

Breivik menyamar sebagai polisi dan berhasil mengumpulkan para peserta kemah, yang berusia 13-30 tahun, dengan berpura-pura ingin menyampaikan sesuatu terkait kejadian di Oslo. Begitu para peserta berkumpul, pemuda itu mengeluarkan senapan otomatis dan mulai menembak.

Brit Aanes (42), pendeta yang turut hadir dalam misa di Katedral Oslo, mengatakan, kejadian ini mengingatkan betapa rumitnya isu multikulturalisme. ”Dari satu sisi, ada bagusnya pelaku bukan dari kelompok teroris Muslim. Tetapi, ini lebih menakutkan karena menunjukkan betapa rumitnya urusan imigrasi dan interaksi antar-agama ini,” katanya.

Pengamat mempertanyakan apakah aparat keamanan Norwegia telah kecolongan karena terlalu sibuk mencegah serangan dari jaringan Al Qaeda sehingga meremehkan ancaman dari dalam negeri. ”Meski ancaman utama terhadap masyarakat demokratis di dunia ini masih berasal dari (kelompok) ekstremis Islam, peristiwa mengerikan di Norwegia menjadi peringatan bahwa ekstremisme kulit putih ultrakanan juga menjadi ancaman besar, dan kemungkinan akan bertambah besar,” kata James Brandon dari lembaga pemikir Quilliam dari London. (AP/AFP/Reuters/DHF)



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.