Kapolres Polman Tak Beri Perintah Tembak

Kompas.com - 12/06/2011, 14:27 WIB
EditorGlori K. Wadrianto

POLEWALI MANDAR, KOMPAS.com — Kasus penembakan yang menewaskan Sofyan, seorang dosen Universitas Al-Asyariah Mandar, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, kembali diusut.

Tim penyidik Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan dan Barat, Minggu (12/6/2011), menggelar rekonstruksi untuk mengungkap pelaku penembakan. Semula 18 petugas Kepolisian Resor Polman ditahan karena terlibat dalam eksekusi yang berakhir bentrok di Kampus Universitas Al-Asyariah Mandar (Unasman), pertengahan Januari lalu. Namun, hanya satu petugas yang ditetapkan sebagai tersangka.

Kala itu seorang dosen Fisipol Unasman, Sofyan, terjatuh setelah lehernya tertembus peluru aparat. Kontak senjata dan hujan batu antarpolisi dan mahasiswa yang mempertahankan kampus mereka agar tidak dieksekusi petugas berlangsung selama hampir tiga jam sebelum akhirnya petugas memilih mundur untuk menghindari jatuhnya korban lebih banyak.

Belasan adegan diperagakan hari ini, bersama dengan sejumlah saksi dan korban. Adegan juga menggambarkan ketika korban Sofyan sedang berada di tengah kerumunan massa saat bentrokan massa berlangsung.

Keluarga dan kuasa hukum keluarga Sofyan, Haswandi Andimas, Kepala Divisi bidang Politik dan Keamanan LBH Makassar, serta kuasa hukum korban menyatakan sangat menyesalkan sikap Kapolda dan tim penyidik Polda Sulselbar yang dinilai tidak serius.

Penerapan Pasal 359 KUHP, dinilai Haswandi, hanya cocok untuk pelaku kecelakaan lalu lintas, bukan petugas yang terlibat mengggunakan senjata api dalam sebuah bentrokan. Menurut Haswandi, seharusnya penyidik menerapkan Pasal 338 dan 339 karena kasus tersebut dinilai sebagai tindak pidana yang sengaja dilakukan aparat Polres Polman.

"Ini bukan kelalaian tapi sengaja, petugas tahu persis dari kantor ke lokasi membawa senjata tajam. Mereka tahu senjata api bisa mematikan orang. Penyidik seharusnya menggunakan Pasal 338 dan 339 karena sengaja merampas nyawa orang lain," tutur Haswandi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Haswandi juga menilai penanganan kasus Sofyan setengah hati. Alasannya adalah Kepala Polres Polman Ajun Komisari Besar I Gusti Ngurahrai Mahaputra sebagai penanggung jawab lapangan saat kejadian berlangsung tidak ditetapkan sebagai tersangka.

I Gusti Ngurahrai Mahaputra menyebutkan, rekonstruksi ini untuk mengungkap siapa pelaku penembakan. Kapolres mengakui bahwa secara institusi pihaknya memang bertanggung jawab dalam operasi tersebut, tetapi dirinya tidak pernah memberi perintah tembak kepada bawahannya.

Menurut Kapolres, setiap individu anggota Polri bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. "Secara kelembagaan Kapolres memang bertanggung jawab, tetapi juga tidak benar kalau Kapolres dibidik sebagai tersangka, sementara tidak membawa senjata dan tidak pernah memberi perintah tembak kepada anak buahnya," kilah Kapolres.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.