Ikan-ikan Pun Kalah di Citarum

Kompas.com - 01/05/2011, 13:49 WIB
Editornurulloh

BANDUNG, KOMPAS.com — Sebanyak 14 jenis ikan asli Sungai Citarum diperkirakan punah dalam kurun 40 tahun hingga 2007. Selain oleh perubahan habitat pemijahan dan pembesaran akibat pembendungan sungai, ikan-ikan itu punah karena tak mampu beradaptasi dengan air yang kian tercemar.

Jeje (64), nelayan di Desa Galumpit, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, Rabu (30/3) siang, memejamkan mata sejenak saat diminta mengingat ikan-ikan langka yang pernah tertangkap jaringnya. ”Kebogerang, gabus, dan hampal beberapa kali kena, tetapi lika, arengan, dan balidra sudah lama ngga (tertangkap),” ujarnya.

Ada beberapa jenis ikan yang sudah tidak dia ingat lagi namanya karena bertahun-tahun tak terjaring. Kini, seperti ratusan nelayan lain di perairan Waduk Ir H Djuanda atau Waduk Jatiluhur, Jeje lebih sering menangkap ikan nila, mas, dan patin yang juga banyak dibudidayakan di petak-petak keramba jaring apung, atau bandeng yang benihnya pernah ditebar pemerintah beberapa tahun terakhir.

Nelayan lain yang lebih muda dari Jeje lebih kesulitan menyebut nama-nama ikan asli Citarum. Mereka mengaku belum pernah menangkap atau melihatnya secara langsung. Sejumlah pemancing dan nelayan berusia 28-35 tahun bahkan mengaku baru mendengar beberapa nama ikan seperti genggehek, balidra, dan lika.

Aris (34), pemancing asal Pangalengan, Kabupaten Bandung, yang 2-3 kali dalam sepekan memancing di perairan Waduk Cirata, juga lebih sering menangkap ikan budidaya (tebaran) ketimbang ikan asli. ”Kalau pun dapat ikan asli, biasanya jenis kebogerang atau gabus,” kata Aris.

Endi Setiadi Kartamihardja, peneliti Pusat Riset Perikanan Tangkap dalam Jurnal Iktiologi Indonesia Volume 8 Tahun 2008 menyebutkan, pada kurun 1968-1977 terdapat 31 jenis ikan hidup di Waduk Ir H Djuanda, waduk yang membendung Sungai Citarum di Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Sebanyak 23 jenis di antaranya adalah ikan asli (indigenous species) dan 8 jenis sisanya adalah ikan tebaran.

Akan tetapi, pada penelitian tahun 1998-2007, dari 23 jenis ikan asli, hanya ditemukan 9 jenis yakni hampal (Hampala macrolepidota), lalawak (Barbodes bramoides), beunteur (Puntius binotatus), tagih (Mystus nemurus), kebogerang (Mystus negriceps), lais (Lais hexanema), lele (Clarias bratachus), lempuk (Callichrous bimaculatus), dan gabus (Channa striatus). Sementara ikan tebaran, seperti mas (Cyrpinus carpio) dan mujair (Oreochromis mosammbicus), cenderung bertahan.

Ikan-ikan yang sudah tidak ditemukan lagi dan diduga kuat punah antara lain julung-julung (Dermogenys pusillus), tilan (Macrognathus aculeatus), tawes (Barbodes gonionotus), genggehek (Mystacoleucus marginatus), arengan (Labeo crysophaekadion), kancra (Tor douronensis), nilem (Osteochillus hasselti), dan paray (Rasbora argyrotaenia).

Pencemaran

Kepala Loka Riset Pemacuan Stok Ikan Badan Riset Kelautan dan Perikanan, Didik Wahju Hendro Tjahjo menambahkan, penyebab utama berkurangnya keanekaragam jenis ikan di suatu perairan adalah hilangnya habitat. Pembendungan Sungai Citarum seiring dibangunnya Waduk Ir H Djuanda (1967), Saguling (1985), dan Cirata (1987), merubah ekosistem perairan dari mengalir menjadi tergenang.

Halaman:
Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X