Menikmati Pameran Patung di Mal - Kompas.com

Menikmati Pameran Patung di Mal

Kompas.com - 21/04/2011, 12:00 WIB

oleh Efix Mulyadi 

(catatan pameran “Intersection: Indonesian Contemporary Sculpture”)

Berpameran patung di mal? Bagaimana memajang karya-karya seni di tengah ikon-ikon dunia konsumtif yang tampil dengan angkuh, gemerlap, dan penuh pesona? Maklum, hampir semua “brand” ternama di dunia telah hadir di berbagai mal kelas atas Jakarta, termasuk di Grand Indonesia Shopping Town, tempat pameran “Intersection: Indonesian Contemporary Sculpture” ini berlangsung tanggal 6-24 April 2011. Maka, perlu siasat jitu agar karya-karya seni terasa kehadirannya, sebisa mungkin menyedot perhatian, tanpa merusak suasana bisnis belanja dan rekreasi setempat.

Ternyata itu tidak mudah. Di sebuah pintu masuk, tampak tergantung patung yang nyaris tidak terkenali. “Floating Eye”, karya Entang Wiharso tersebut, menampilkan sebentuk mata dengan tonjolan lampu di salah satu sisinya. Dengan panjang 60an cm dan tebal 20 cm, patung itu seolah termakan oleh ketinggian dan keluasan ruang.

Untungnya, kondisi ekstrim seperti tersebut di atas tidak menimpa sebagian besar patung lain. “Aku dan Anjingku” ciptaan Niko Ricardi yang menggambarkan robot manusia dan robot anjing, tampak menyatu dengan koridor setempat, lantai, bahan dan warna dinding, tata lampu, serta lalu lalang anak-anak muda bergaya kota yang serba ceria. Dunia robot, mesin, atau materi yang menyodorkan ikatan kasih sayang segera menjadi ironi di tengah aksi kekerasan antar-manusia yang telah menjadi cerita sehari-hari.

Suasana belanja dan rekreasi yang serba nyaman, menyediakan latar yang tepat guna untuk patung Noes Salomo yang menonjolkan kesan logam dengan imaji futuristik pada garapannya “Motor Beauty”. Suasana serupa juga cocok untuk komentar sosial Edi Priyatno, ”Kau dan Aku Bekas…”, berupa sosok anjing berjas berdiri dengan sebelah tangan bertumpu pada payung. “Magnificat” karya Sigit Santoso berujud perempuan hamil dengan perut transparan sehingga janin terlihat, tampak menonjol di sebuah selasar. “Love-Fear #2/3” garapan Astari berupa tas belanja setinggi manusia dewasa seperti ikan berenang di air: semua yang terkait dengan materi kritiknya tersedia lengkap di sini.

Bahkan ada yang mendapat faktor plus justru lantaran berada di mall, sebutlah seperti “Party” karya Anggar Prasetyo. Ujudnya sebuah meja dengan botol dan gelas minuman di atasnya terbuat dari perunggu bercat putih. Meja tanpa kaki itu disangga oleh ujung taplak yang menjuntai di kiri dan kanan sampai lantai. Diapit dua pohon artifisial, dan berbatas dinding kaca dengan pemandangan bagian kota yang berselimut semen, membuat meja itu meniupkan nafas kehidupan.

Pameran yang menghadirkan karya 50 pematung dari berbagai kota ini memperlihatkan satu sisi perkembangan seni patung Indonesia, dengan perluasan istilah ”patung” itu sendiri. Kuratornya, Hardiman dan Asikin Hasan, tidak mendaku pameran mereka telah lengkap menghadirkan seluruh potensi kreatif seni patung, namun toh cukup memberi gambaran yang memadai.

Pengunjung bisa menikmati patung-patung yang ekspresif dan penuh muatan makna kemanusiaan dari karya Dolorosa Sinaga, namun juga permainan bentuk dan ruang yang mempesona dari instalasi batu gantung karya Yani Mariani, maupun satu paket patung berukuran raksasa yang cenderung realistik garapan Dunadi. Patung-patung berpemukaan licin yang nyaman dipandang, dan diperkirakan mampu menghibur pengunjung kebanyakan seperti karya Laksmi, Agapetus, Adi Gunawan, atau Ali Rubin, juga dihadirkan. Dari segi usia dan masa kreatif para peserta, rentangannya luas sejak G Sidharta Soegijo (lahir 1932), Amrus Natalsya (1933), dan Arsono (1940), sampai seniman Nyoman Nuarta (1951) atau Heri Dono (1960), bahkan sampai Putriani Mulyadi (lahir 1987).

Suasana rekreasi tergambar dari sejumlah pengunjung berpotret dengan latar karya-karya patung di tengah pameran ini. “Meski pameran ini cukup berat buat keuangan saya, namun saya terhibur melihat mereka menikmati patung di mall,” tutur Andi Yustana, pemilik Andi’s Gallery yang menyelenggarakan pameran ini bersama pihak pengelola mall.

Membuat pameran di mall boleh disebut sebagai langkah “jemput bola” dengan mendatangi calon penonton. Ruang-ruang mall yang bersih, sejuk, dan jarang sangat berjubelan pengunjung memungkinkan tercipta sebuah suasana penikmatan seni yang lebih nyaman dan produktif. Dan jangan lupa, kegiatan seni rupa belakangan ini juga cenderung menjadi ungkapan gaya hidup. Tidak heran pengelola mall tertarik untuk bekerjasama, dan beberapa majalah gaya hidup sering menjadi pendukung kegiatan.

Keadaan seperti ini belum terbayang terjadi pada dekade yang lalu. Pameran “The Soul of Arts” pada tahun 2004 di Plaza Senayan, Jakarta, adalah yang pertama, atau paling tidak salah satu yang mengawalinya. Dalam sebuah tulisan di koran Kompas (25 April 2004) saya menyebutnya “guncangan” karena ada karya yang menaruh logika pasar tradisional di tengah budaya mall. Itu sebuah perlawanan yang kini terasa jenaka, namun sungguh mengena bukan hanya karena kedalaman pesan dan penampilan, tapi juga lantaran hadir di sebuah mall. Ada unsur tanah, ada gabah, peti-peti kayu yang tersusun menyerupai pasar tradisional, dan seterusnya.

Dan tentu yang fenomenal adalah karya Teguh Ostenrik yang menggantung sekitar 500 wajan (penggorengan) dari atap di atas lobi atrium Pacific Place, Jakarta, setinggi tujuh lantai. Itu bagian dari sebuah pameran seni “A Mace” bulan Agustus 2009.

Kini sejumlah galeri seni rupa bahkan berpameran permanen di mall, sebutlah itu di Grand Indonesia dengan zona Jakarta Art Districk. Secara bergiliran mereka menggelar pameran khusus di ruang bersama, sementara pengunjung juga masih tetap bisa menikmati karya seni di ruang tetap. 

Efix Mulyadi, wartawan dan pengelola Bentara Budaya


EditorRobert Adhi Kusumaputra

Terkini Lainnya


Close Ads X