Ini Dia Calon Pembunuh Ulat Bulu

Kompas.com - 11/04/2011, 20:35 WIB
EditorBenny N Joewono

MALANG, KOMPAS.com - Laboratorium Agronomi Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Jawa Timur sudah berhasil menemukan musuh alami ulat bulu yang menyerang panenan mangga di Jawa Timur.

Kepala Lab Agronomi, Dian Indratmi mendapati pada generasi kedua ulat bulu di Malang bisa mati oleh jamur entomo-patogen (penyakit pada hama), atau jamur Beauveria bassiana yang isolatnya justru diambil dari ulat bulu juga. Ini bisa jadi calon pemberantas ulat bulu.  

Dian Indratmi yang dihubungi mendampingi Dekan FPP UMM Dr Damat di Malang (Jawa Timur) hari Senin (11/4/2011) menjelaskan, penelitiannya pada skala laboratorium mendapati ulat bulu bisa mati diserang jamur parasit di tubuhnya. Namun kematian baru bisa didapati pada generasi kedua setelah ulat bulu induk terinfeksi.

Penelitian ini tidak berarti bisa diterapkan pada kondisi serangan ulat bulu massal yang dialami petani mangga Probolinggo. Untuk mencapai upaya itu, katanya, perlu ada uji coba-uji coba lanjutan, terutama menguji efektifitas serangan entomo-patogen pada spesies ulat bulu di Probolinggo.

Sebab ia mengaku belum memiliki contoh spesimen ulat bulu Probolinggo, dan menguji apakah sama dengan ulat bulu yang menyerang di Kota Malang. Sehingga perlu diuji apakah jamur entomo-patogen yang dimilikinya bisa menyerang ulat bulu Probolinggo.

"Sebenarnya saya mengamati kemunculan populasi ulat bulu yang berlebihan sudah sejak satu tahun yang lalu. Namun memang belum muncul serangan ulat bulu yang serius pada lahan tanaman komersial yang berdampak mengancam panen seperti pada lahan mangga di Probolinggo," katanya.

Perihal entomo-patogen, atau penyakit pada hama pengganggu sebenarnya juga sudah muncul pada pustaka. Jamur entomo-patogen sudah diproduksi meski belum secara komersial, terutama oleh balai-balai penelitian.

Semprotan cairan berisi spora entomo-patogen terbukti efektif pada generasi kedua ulat bulu. Ulat bulu generasi pertama masih hidup dan berhasil ber-metamorfosa menjadi kupu-kupu yang bermacam-macam, termasuk kupu-kupu gajah yang berwarna coklat. Lalu kemudian setelah bertelur dan menghasilkan ulat, ulat anakan inilah yang mati karena infeksi entomo-patogen.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan Video Lainnya >

    27th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Verifikasi akun KG Media ID
    Verifikasi akun KG Media ID

    Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

    Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.