Perahu Rasikin dan Waduk Jatiluhur

Kompas.com - 30/03/2011, 14:57 WIB
EditorGlori K. Wadrianto

PURWAKARTA, KOMPAS.com — Dengan menenteng kunci mesin perahu dan satu jeriken kecil berisi 5 liter solar, Rasikin (35) bergegas ke bibir Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, ketika matahari masih malu-malu terbit.

Setelah tangki terisi solar dan mesin dinyalakan, Rasikin mengarahkan perahu ke tengah waduk. Rasikin harus melewati ribuan keramba jaring apung yang memadati waduk.

Jauh di dua titik di kampung lain, 15 murid SMP I Sukasari di Kampung Cikahuripan, Desa Kertamanah, Sukasari, tengah menunggu Rasikin untuk membawa ke tempat menimba ilmu. Setelah melihat perahu Rasikin dari kejauhan, tujuh murid yang menunggu di Gunung Buleut langsung mendekati bibir waduk.

Rasikin kembali mengarahkan perahu bantuan dari pemerintah itu ke tengah waduk setelah semua murid naik. Di Kampung Bunipasir, Rasikin kembali mengangkut delapan murid lain.

Tak lama berselang, ayah dua anak itu mengarahkan perahu kembali ke lokasi sandar pertama kali yang berjarak 200 meter dari SMP. Lama waktu yang diperlukan Rasikin untuk menjemput sekitar 90 menit.

Peran Rasikin penting bagi murid. Tanpanya, mereka kesulitan ke sekolah lantaran jalur darat rusak parah. Jika musim hujan, jalan terputus. Kalau sudah begitu, tingkat kehadiran siswa akan rendah. Di atas air bukan tanpa bahaya. Rasikin harus menjaga murid dari gelombang air yang cukup tinggi saat musim hujan.

Atas jasanya, setiap murid hanya membayar Rp 2.000 untuk pergi pulang. ”Itu buat beli solar aja. Kalau enggak punya uang, enggak perlu bayar,” kata Rasikin kepada Kompas.com saat menjemput murid, Rabu (30/3/2011).

Menjemput murid adalah bagian dari rutinitasnya sebagai penjaga sekolah. Pekerjaan utamanya, yakni menjaga dan membersihkan sekolah yang berdiri sejak tahun 2003 itu. Dari hasil kerja kerasnya selama sebulan Rasikin hanya mendapat honor Rp 160.000 per bulan.

Sebelumnya, Rasikin mendapat honor lebih layak, Rp 500.000 per bulan. Namun, setelah ada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional yang mewajibkan belanja pegawai 20 persen dari dana bantuan operasional sekolah (BOS), honor Rasikin dan Saeful, penjaga sekolah lain, terpaksa dipangkas oleh pihak sekolah.

Untuk tambahan, Rasikin piket atau menjaga sekolah hingga pagi. Hasil piket selama sebulan ia mendapat tambahan Rp 200.000. ”Jadi, total Rp 360.000. Ngeri, gimana cukup buat keluarga. Istri cuma ibu rumah tangga. Jadi, sering banyak utang,” ucap warga RT 9 RW 5 Kampung Cikauripan itu.

”Saya sudah bekerja dari tahun 2004, tapi sampai sekarang belum ada pengangkatan. Padahal, umur semakin tua,” ucapnya.

Sukiman, Kepala Sekolah SMP I Sukasari, berharap pemerintah memperhatikan pegawai tidak tetap seperi Rasikin. ”Guru masih mending ada tunjangan, seperti dia kan enggak ada,” ucapnya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Curhat Nakes Terpapar Covid-19 yang Bikin Gugus Tugas Syok: Bersihkan Tempat Tidur hingga Beli Vitamin Sendiri

Curhat Nakes Terpapar Covid-19 yang Bikin Gugus Tugas Syok: Bersihkan Tempat Tidur hingga Beli Vitamin Sendiri

Regional
Jejak Hewan Liar di Jalur Pendakian Semeru, Macan Tutul Jawa atau Anjing Hutan?

Jejak Hewan Liar di Jalur Pendakian Semeru, Macan Tutul Jawa atau Anjing Hutan?

Regional
Lunasi Utang Pilkada Rp 1 M, Mantan Calon Bupati Ngaku Kepepet Edarkan Uang Palsu

Lunasi Utang Pilkada Rp 1 M, Mantan Calon Bupati Ngaku Kepepet Edarkan Uang Palsu

Regional
Jadi Korban Order Fiktif, Pengemudi Ojol Dapat Ganti Rugi dari GrabFood

Jadi Korban Order Fiktif, Pengemudi Ojol Dapat Ganti Rugi dari GrabFood

Regional
Kronologi Seorang Perempuan di Makassar Dikeroyok Tetangga gegara Status Facebook, Pelaku Ditangkap

Kronologi Seorang Perempuan di Makassar Dikeroyok Tetangga gegara Status Facebook, Pelaku Ditangkap

Regional
Kasus Meningkat, RSUD Banten Kembali Dijadikan Pusat Rujukan

Kasus Meningkat, RSUD Banten Kembali Dijadikan Pusat Rujukan

Regional
Sekda DIY Sebut Tambang Liar Rugikan Daerah karena Tak Terkontrol

Sekda DIY Sebut Tambang Liar Rugikan Daerah karena Tak Terkontrol

Regional
Penderita Covid-19 di Salatiga Berasal dari Penularan Luar Daerah

Penderita Covid-19 di Salatiga Berasal dari Penularan Luar Daerah

Regional
38 Karyawan RSUP Soeradji Klaten Sembuh, 12 Orang Sudah Kembali Bekerja

38 Karyawan RSUP Soeradji Klaten Sembuh, 12 Orang Sudah Kembali Bekerja

Regional
Mayat Perempuan Tanpa Busana Mengambang di Kali Bugen Semarang

Mayat Perempuan Tanpa Busana Mengambang di Kali Bugen Semarang

Regional
Kota Kupang Berubah Jadi Zona Cokelat Covid-19, ASN Diwajibkan WFH

Kota Kupang Berubah Jadi Zona Cokelat Covid-19, ASN Diwajibkan WFH

Regional
Kecelakaan Beruntun Truk Elpiji, Honda Jazz, dan Motor, Satu Orang Tewas, 3 Luka

Kecelakaan Beruntun Truk Elpiji, Honda Jazz, dan Motor, Satu Orang Tewas, 3 Luka

Regional
Satu Pegawai Positif Covid-19, Kantor Disdukcapil Blora Tutup Sepekan

Satu Pegawai Positif Covid-19, Kantor Disdukcapil Blora Tutup Sepekan

Regional
Hujan Disertai Angin Kencang Landa Bogor, Rumah Rusak dan Kendaraan Terguling

Hujan Disertai Angin Kencang Landa Bogor, Rumah Rusak dan Kendaraan Terguling

Regional
Banten Dipastikan Punya Pemakaman Khusus Covid-19 di Kota Serang

Banten Dipastikan Punya Pemakaman Khusus Covid-19 di Kota Serang

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X