Pengungsi Banjir Tangse Jatuh Sakit

Kompas.com - 17/03/2011, 22:13 WIB
EditorI Made Asdhiana

PIDIE, KOMPAS.com - Seminggu tinggal di pengungsian, ratusan warga korban banjir bandang di Kecamatan Tangse, Pidie, Nanggroe Aceh Darussalam, mulai mengalami gangguan kesehatan, Kamis (17/3/2011). Diare, demam, dan sesak napas banyak dialami pengungsi, terutama anak-anak dan perempuan lanjut usia.

"Kalau malam disini dingin dan hujan. Tenda dan tikar jadi basah. Belum semua dapat bantuan selimut. Kami jadi kedinginan. Yang tak kuat sudah sakit-sakit, termasuk dua keponakan saya ini," ujar Siti Maryam (30), pengungsi di tenda u tama meunasah Desa Ranto Panyang.

Pengungsi yang sakit mendapatkan pengobatan gratis dari sukarelawan medis Dinas Kesehatan Pidie dan dari Palang Merah Indonesia. Namun, keterbatasan obat memaksa pengungsi yang sakit agak parah dirujuk ke puskesmas di kecamatan.

Sayangnya, sampai saat ini belum ada bantuan transportasi untuk korban di pengungsian yang berobat ke puskesmas. Banyak warga yang terpaksa jalan kaki sejauh 7 kilometer menuju kota kecamatan.

Korban yang bertahan di pengungsian umumnya ibu-ibu, remaja putri dan anak-anak. Kaum pria banyak yang memilik pulang untuk membersihkan atau memperbaiki rumah. Namun, tak sedikit pula yang terpaksa tetap memilih di pengungsia karena rumah mereka hancur sama sekali.

"Lagi pula kalau pun pulang kami tak bisa apa-apa. Sawah dan kebun sudah hancur kena banjir. Rumah ambruk, dan tetangga-tetangga juga mengungsi. Walaupun di pengungsian tak enak, tapi kami tak punya pilihan lain," ujar Sawiya (46), warga Desa Sarah Panyang.

Untuk memenuhi kebutuhan mandi, cuci, dan kakus, pengungsi memilih pergi ke sungai. Walaupun air sungai saat ini agak keruh akibat sisa gerusan banjir bandang, mereka tak peduli. Beraktivitas cuci dan mandi di sungai bagi mereka lebih bebas dan nyaman dibanding di toilet bersama seperti saat mereka tinggal di pengungsian Blang Dhot dari hari pertama hingga hari ketiga lalu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Distribusi bantuan ke desa-desa terisolasi, khususnya Blang Pandak dan Sarah Panyang masih tersendat. Bukan hanya medan yang masih tertutup material banjir, tapi juga tak adanya kendaraan operasional yang siap setiap saat mendistribusikan bantuan.

"Bantuan banyak yang menumpuk di posko-posko. Padahal, warga yang terisolasi sangat membutuhkan bantuan logistik ini segera," kata Fajeriyanto, koordinator pengungsi di Ranto Panyang.

Bahkan, kendaraan wartawan yang meliput di lokasi bencana banjir bandang tersebut pun akhirnya dipakai untuk turut mengantar bantuan hingga batas desa Ranto Panyang-Blang Pandak oleh para relawan. Sampai di batas desa, relawan memanggul kardus-kardus berisi bantuan logistik menuju Desa Blang Pandak dengan berjalan kaki.

"Medan untuk berjalan kaki ini sangat berat karena masih terputus. Tapi kami harus mengantar bantuan ini karena warga di Blang Pandak sangat membutuhkannya," ujar Zulfikar, relawan sebuah organisasi sosial.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.