Ada Bantuan, Keraton Cirebon Tak Terawat

Kompas.com - 12/03/2011, 02:10 WIB
Editoryuli

CIREBON, KOMPAS - Kondisi bangunan Keraton Kasepuhan dan Kanoman di Kota Cirebon, Jawa Barat, memprihatinkan. Beberapa sudut bangunan sudah lapuk dan atap-atap gedung maupun bangsal banyak yang bocor.

Kondisi itu seperti ditemui di Bangsal Pagelaran, Keraton Kasepuhan, Jumat (11/3/2011). Bangsal yang diperkirakan dibangun pada abad ke-15 itu dipakai sebagai tempat pertemuan sejak masa kepemimpinan Sunan Gunung Jati. Hingga kini, bangsal itu masih difungsikan. Namun, beberapa bagian atapnya hampir ambrol dan berlubang karena hujan.

Sultan Sepuh Cirebon XIV Raja Arief Natadiningrat mengatakan, pihaknya memang sedang berbenah untuk menjaga bangunan cagar budaya tersebut. Keterbatasan dana disebut sebagai kendala perawatan keraton.

Sejak 2009, ada bantuan dari Pemerintah Kota Cirebon Rp 50 juta per tahun. Bantuan itu cukup untuk keperluan operasional dan perawatan keraton selama dua bulan. "Setiap bulannya, keraton memerlukan dana perawatan Rp 25 juta. Biaya operasional itu juga termasuk gaji bagi 80 pegawai keraton," kata Arief.

Pada tahun 2010, Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga mulai rutin memberikan bantuan bagi perawatan keraton. Untuk keperluan Festival Keraton Nusantara pada 2010 lalu, misalnya, Keraton Kasepuhan Cirebon, mendapatkan kucuran dana Rp 800 juta per tahun.

Dari pemerintah pusat, Arief mengaku belum ada anggaran khusus yang diberikan kepada keraton, terkecuali dalam bentuk proyek-proyek pambangunan. Beberapa tahun lalu, misalnya, pemerintah pusat merenovasi kolam dan jalan di dalam lingkungan Keraton Kasepuhan. Di luar itu, pihak keraton harus mencari pembiayaan sendiri bagi perawatan bangunan cagar budaya tersebut.

Kondisi lebih memprihatikan ditemui di Keraton Kanoman. Kompleks keraton yang berjarak sekitar dua kilometer dari Keraton Kasepuhan ini kondisinya juga tak terawat.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Bagian dalam keraton, terutama ruangan tempat sultan bertahta, misalnya, diisi kursi lama yang sudah lusuh. Debu di mana-mana. Begitu pula tempat duduk Sultan yang usianya sudah ratusan tahun dibiarkan jebol tak terawat.

Museum peninggalan benda kuno di Keraton Kanoman juga ditata seadanya. Tidak ada penjaga yang secara khusus menerangkan sejarah benda-benda kuno di sana.

Mohammad Raharja, kerabat dalam Keraton Kanoman, menuturkan, keterbatasan dana menjadi penyebab terbengkalainya keraton. "Kami tidak memiliki abdi dalem atau petugas yang secara khusus merawat keraton. Tidak ada biaya untuk menggaji mereka," katanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.