Nelayan Kendal Menangis...

Kompas.com - 07/03/2011, 15:02 WIB
EditorGlori K. Wadrianto

KENDAL, KOMPAS.com - Nelayan di kawasan pantai utara Kabupaten Kendal Jawa Tengah menangis. Pasalnya, harga ikan di pesisir Kendal turun drastis. Padahal, cuaca di laut sedang buruk dan tangkapan ikan sedikit.

Biasanya saat kondisi seperti itu, harga ikan bisa naik dua kali lipat. Namun entah mengapa ternyata harga ikan saat ini justru turun meski kondisi di laut kurang menguntungkan bagi nelayan.

Masroah salah satu pedagang ikan di Pasar Krumpyung sebelah tempat pelelangan ikan (TPI) Kelurahan Bandengan Kendal mengatakan, harga ikan laut dan ikan payau di Kendal banyak yang turun.

Ikan bandeng misalnya, di musim paceklik harga jualnya bisa mencapai Rp 17.000 per kilogram. Tapi sekarang, pada saat ikan sepi, harga bandeng malah turun menjadi Rp 12.000 per kilogram.

Begitu pun ikan teri yang hanya seharga Rp 4000 hingga Rp 5000 per kolinya. Padahal biasanya bisa mencapai Rp 8.000. "Tidak berbeda dengan harga ikan lain, hampir semuanya turun. Padahal, pada saat sepi tangkapan, harusnya naik," papar Masroah.

Ia mengaku tak tahu penyebab harga ikan yang merosot. Padahal biaya operasional melaut nelayan tidak sedikit. Akibat kenaikan harga ikan, aktifitas di pasar dan TPI (tempat pelelangan ikan) yang ada di sekitar wilayah Kendal nampak sepi.

Pasar Krumpyung di sebelah TPI Kelurahan Bandengan Kendal misalnya, Senin pagi (7/3/2011) tampak sepi. Hanya terlihat beberapa bakul ikan yang menjajakan dagangannya. Padahal biasanya pasar tersebut nampak ramai oleh padagang dan pembeli.

Dengan adanya beberapa bakul saja, tentunya pembeli tidak memiliki pilihan untuk memilih ikan. Selain membuat harga ikan jadi turun, perubahan cuaca di pesisir Kendal yang ekstrim, membuat para nelayan tidak berani melaut.

Cuaca yang tidak menguntungkan itu, berdampak pada tangkapan ikan. Sejumlah nelayan Kelurahan Bandengan Kecamatan Kota Kendal dan Kecamatan Rowosari, untuk beberapa minggu terakhir lebih memilih aktivitas lain untuk mencukupi kebutuhan rumah tangganya.

"Kami tidak berani melaut. Selain berbahaya untuk perahu kecil, tangkapan juga semakin sedikit. Para nelayan menunggu cuaca baik untuk kembali minyang (melaut)," kata Subadi, nelayan asal Bandengan Kendal. 



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X