BIMP-EAGA Terancam Macet

Kompas.com - 22/02/2011, 18:31 WIB
EditorAloysius Gonsaga Angi Ebo

MANADO, Kompas.com - Jaringan perdagangan dan pariwisata kawasan pertumbuhan ekonomi BIMP-EAGA terancam macet menyusul tertutupnya akses transportasi resmi baik udara dan laut dari Manado dan Sangihe ke sejumlah kota di Filipina bagian Selatan.  

Shelley Sondakh Kepala Sekretariat BIMP-EAGA Sulut (Brunei Indonesia Malaysia Philippine East ASEAN Growth Area) di Manado, Selasa (22/2/11) mengatakan, tertutupnya akses transportasi ke Filipina setelah kapal laut bersubsidi KM Sunlia melayari kota Tahuna (Sangihe) menuju Gland City, provinsi Sarangani, Filipina berhenti operasi sejak Desember tahun lalu.  

"Inilah satu-satunya transportasi ke Filipina yang berhenti," katanya. Sejak tahun 1995 hubungan Manado-Davao cukup lancar dengan transportasi udara melalui penerbangan Bouraq, kemudian diganti oleh Merpati, Lion Air dan Sriwijaya Air. Transportasi laut masih didukung oleh pelayaran kapal PT Pelni KM Awu dari Bitung menuju Pelabuhan Santa Anna, Davao.

Menurut Shelley jaringan transportasi udara dan laut akhirnya berhenti dengan alasan load factor rendah, baik penumpang maupun angkutan barang.                    

Ketiadaan dana

Wakil Bupati Sangihe Jabes Gaghana mengatakan terhentinya hubungan laut Tahuna-Gland City disebabkan terbatasnya dana subsidi dari pemerintah kabupaten. Kontrak KM Sunlia dengan pemerintah kabupaten Sangihe hanya setahun. Semula kapal kayu berkapasitas 400 orang penumpang itu melayari jalur Tahuna-Gland City dua kali dalam sebulan.       

"Volume perdagangan cukup tinggi dari pelaku ekonomi dua negara. Dari Tahuna kami bawa hasil perkebunan dan bahan otomotif, orang Gland City membawa minuman ringan," katanya. Ia tidak menyebut berapa banyak dana subsidi.

Shelley selanjutnya mengatakan, transportasi antara Indonesia dan Filipina terutama Sulut dan Mindanau Selatan dalam konteks BIMP-EAGA sangat penting, terutama dalam hubungan kekerabatan masyarakat kedua wilayah yang sudah terjalin cukup lama.

Ketiadaan transportasi mengganggu agenda BIMP EAGA yang telah menjalin kerjasama pariwisata ekowisata. Indonesia menawarkan 13 provinsi yang masuk BIMP EAGA dalam jaringan ekowisata.

Oleh karena itu, ujar Shelley, pertemuan bilateral antara Presiden Filipina dan Susilo Bambang Yudhoyono di Jakarta 8- 9 Maret mendatang juga membahas masalah transportasi ini. "Kami sudah laporkan masalah ini ke Gubernur (Sarundajang) untuk menjadi bahan pertemuan dua kepala Negara," katanya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X