Transparansi Bisnis Hewan Kurban

Kompas.com - 11/11/2010, 09:45 WIB
Editor

Oleh ROCHADI TAWAF

Maraknya perdagangan hewan kurban di berbagai kota dengan investasi yang cukup besar kini mulai tampak dengan bisnis yang tertata rapi. Banyaknya orang yang berbisnis hewan kurban mengindikasikan bahwa bisnis ini sangat menggiurkan dengan keuntungan yang tidak sedikit.

Pada dasarnya tingginya keuntungan dalam bisnis hewan kurban terutama disebabkan tidak transparannya transaksi antara konsumen dan produsen. Hal itu cenderung merugikan konsumen, yaitu dengan bertambahnya penikmat bebas di antara produsen dan konsumen.

Pasalnya, pembeli hewan kurban umumnya tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang ternak yang akan dibeli. Mereka cenderung melakukan transaksi dilandasi dengan tingkat emosional yang sangat tinggi (panic buying). Dalam bahasa sehari-hari, orang menyebutnya beli bogoh. Pada kondisi seperti ini posisi tawar konsumen sangat lemah mengingat mungkin akan sangat sulit menemukan lagi hewan kurban dengan kondisi dan kualitas yang dikehendaki.

Pada umumnya pembeli hewan kurban merupakan orang-orang yang mampu dan akan membeli ternak pada kurun waktu pendek. Pengertian orang mampu adalah mereka telah mempersiapkannya, mulai dari niatan dengan dananya secara bersama. Pada kondisi seperti itu boleh pula dikatakan sangat tidak mungkin konsumen menggagalkan pembeliannya untuk melakukan kurban tahun ini dan menangguhkannya sampai tahun depan.

Jika harga hewan kurban cukup mahal dan tidak terjangkau dengan dana yang tersedia, ia akan mengalihkannya ke ternak yang lebih murah. Perilaku inilah yang dimanfaatkan penikmat bebas untuk meraup keuntungan. Seolah para penikmat bebas ini menjadi dewa penolong konsumen dengan pelayanan sampai di rumah.

Dari sisi peternak, momen Idul Adha ini telah dipersiapkan lama, bahkan cenderung merupakan pasar andalannya ketimbang hari-hari biasa. Peternak sadar betul, tanpa repot-repot memelihara ternaknya secara intensif untuk menaikkan produksi (berat badan), toh dengan menghitung selisih harga saja otomatis ia sudah mendapatkan keuntungan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Perilaku produsen seperti ini dimanfaatkan pula oleh para pelaku bisnis (pedagang perantara/belantik) dengan memberikan imbalan lebih kepada peternak untuk mendapatkan kepastian pasokan di pasar.

Tidak sehat

Berdasarkan fenomena tersebut, bisnis hewan kurban telah berkembang menjadi industri besar dengan jaringan usaha yang menasional dan banyak dikelola oleh lembaga profesional karena menjanjikan keuntungan yang menggiurkan. Namun, jika dicermati, ketidaktransparanan bisnis hewan kurban menunjukkan bahwa bisnis ini tidak sehat dan harus segera dibenahi untuk dapat meningkatkan produktivitas dan iklim usaha peternakan yang kondusif.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.