Tsunami Sunyi di Mentawai

Kompas.com - 29/10/2010, 11:11 WIB
EditorA. Wisnubrata

KOMPAS.com — Televisi masih ramai menyiarkan soal letusan Gunung Merapi, Yogyakarta, yang terjadi pada senja hari Selasa (26/10) hingga tengah malam. Beberapa warga diberitakan tewas, termasuk seorang wartawan. Sedangkan ratusan orang di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, tewas dalam senyap.

Tanpa mengecilkan tragedi Merapi, pemberitaan media soal Mentawai memang sangat terlambat. Hingga hari kedua pascabencana, gambaran Mentawai masih samar. Masih sedikit foto dan video dari ladang bencana Mentawai. Sementara pemberitaan seputar Merapi sudah riuh rendah, terutama soal ”drama” sang juru kunci Merapi, Mbah Maridjan.

Negara ini memang belum hadir di pulau-pulau terluar. Maka, ketika bencana melanda kawasan itu, perhatian pun datang terlambat. Bahkan, sekadar kabar soal terjadinya petaka kerap kali datang terlambat. Namun, media ternyata juga tak hadir di sana karena ”tertipu” pernyataan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang mencabut peringatan adanya tsunami. Selain itu, kebanyakan media mengandalkan tebengan. Adapun pihak yang biasa ditebengi (baca: pemerintah) terlambat datang, bahkan terlambat mengetahui adanya tsunami.

Dan, ketika pun kemudian hadir, aspek yang banyak diumbar adalah soal ”drama” setelah bencana dan melupakan mitigasi dan adaptasi. Ke mana saja kita sebelum bencana?

Masih saja kita terkaget dengan bencana gempa dan tsunami. Kenyataan bahwa negeri ini memiliki riwayat panjang petaka gempa dan tsunami seolah-olah dilupakan. Dan, petaka di Mentawai ini sudah jauh hari diperingatkan akan terjadi.

Lalu, di mana sistem deteksi dini tsunami yang dulu disebut-sebut telah disiapkan untuk memagari lautan Nusantara setelah petaka Aceh menelan korban tewas lebih dari 150.000 orang?

Melupakan mitigasi

Empat menit setelah gempa dangkal berkekuatan 7,2 skala Richter pada Senin (25/10) pukul 21.42, BMKG mengklaim telah merilis peringatan potensi adanya tsunami.

”Kami sebarkan peringatan itu melalui berbagai moda komunikasi, seperti layanan singkat melalui telepon seluler, faksimile, ke media, juga ke 12 pemerintah daerah, termasuk ke Mentawai melalui DVB (digital video broadcast),” kata Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Moch Riyadi.

Nyatanya, sirene peringatan tsunami tak pernah berbunyi di pesisir Mentawai karena pemerintah tak pernah memasangnya di sana. Riyadi mengatakan, ”Kami tidak tahu apakah peringatan itu disampaikan ke masyarakat atau tidak. Itu di luar kewenangan kami.”

Halaman:
Baca tentang


    Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    [POPULER NUSANTARA] Umar Patek Minta Kelompok Teroris Hentikan Aksinya | YouTuber Aniaya Kakek

    [POPULER NUSANTARA] Umar Patek Minta Kelompok Teroris Hentikan Aksinya | YouTuber Aniaya Kakek

    Regional
    Kisah di Balik Ulang Tahun Risma, Wartawan 'Kesurupan' hingga Foto di Bawah Pohon Tabebuya

    Kisah di Balik Ulang Tahun Risma, Wartawan "Kesurupan" hingga Foto di Bawah Pohon Tabebuya

    Regional
    5 Fakta Video Viral Cucu Tendang dan Pukuli Kakek, Berawal dari Pakan Ikan yang Masuk Mulut

    5 Fakta Video Viral Cucu Tendang dan Pukuli Kakek, Berawal dari Pakan Ikan yang Masuk Mulut

    Regional
    Cerita di Balik Siswa SD Tewas Disengat Tawon, Ingin Bongkar Sarang yang Resahkan Warga

    Cerita di Balik Siswa SD Tewas Disengat Tawon, Ingin Bongkar Sarang yang Resahkan Warga

    Regional
    Cerita di Balik Aula SMKN 1 Miri Sragen Roboh Timbun 22 Siswa, Berawal dari Hujan Deras

    Cerita di Balik Aula SMKN 1 Miri Sragen Roboh Timbun 22 Siswa, Berawal dari Hujan Deras

    Regional
    Usaha Pemerintah Naikkan Kesejahteraan Petani

    Usaha Pemerintah Naikkan Kesejahteraan Petani

    Regional
    Bocah SD Tewas Terpeleset ke Parit Saat Banjir di Samarinda

    Bocah SD Tewas Terpeleset ke Parit Saat Banjir di Samarinda

    Regional
    Seorang Pemuda Tewas Diduga Dibunuh usai Pesta Miras

    Seorang Pemuda Tewas Diduga Dibunuh usai Pesta Miras

    Regional
    Di Hari Ulang Tahunnya Ke-58, Risma Dikerjai Wartawan

    Di Hari Ulang Tahunnya Ke-58, Risma Dikerjai Wartawan

    Regional
    Gedung SD Nyaris Ambruk, Siswa Ketakuan hingga Kerap Digigit Rayap Saat Belajar

    Gedung SD Nyaris Ambruk, Siswa Ketakuan hingga Kerap Digigit Rayap Saat Belajar

    Regional
    Ridwan Kamil Jamin Gizi Bayi Kembar Siam di Bekasi agar Bisa Dioperasi Pemisahan

    Ridwan Kamil Jamin Gizi Bayi Kembar Siam di Bekasi agar Bisa Dioperasi Pemisahan

    Regional
    Menag Akan Cari Jalan Tengah Terkait Polemik Aset First Travel

    Menag Akan Cari Jalan Tengah Terkait Polemik Aset First Travel

    Regional
    Mantan TNI Ditemukan Tewas dalam Keadaan Sujud, Istri Curiga Akibat Kekerasan

    Mantan TNI Ditemukan Tewas dalam Keadaan Sujud, Istri Curiga Akibat Kekerasan

    Regional
    Cerita Petugas Polsuska yang Melihat Seorang Pria Melompat ke Rel Saat Kereta Api Melaju

    Cerita Petugas Polsuska yang Melihat Seorang Pria Melompat ke Rel Saat Kereta Api Melaju

    Regional
    Dua Kelompok Mahasiswa UNM Makassar Bentrok, 7 Orang Terluka

    Dua Kelompok Mahasiswa UNM Makassar Bentrok, 7 Orang Terluka

    Regional
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X