Ombak Itu Datang Bergulung-gulung...

Kompas.com - 28/10/2010, 12:47 WIB
EditorMarcus Suprihadi

Adapun data yang disampaikan Bupati Mentawai Edison Salelehubaja kepada Wapres saat di ruang VIP Bandar Udara Minangkabau, Padang, Sumbar, total jumlah korban tewas hingga Rabu sore itu tercatat mencapai 154 orang di Kabupaten Mentawai, Sumbar. Sebanyak 400 orang lainnya dinyatakan hilang dan 4.000 orang lainnya mengungsi ke sejumlah posko dan sekitar lokasi yang aman. Data itu memang terus berubah. Pada Rabu malam lalu angkanya sudah bertambah menjadi 311 orang tewas.

Marni, penduduk Dusun Muntei Baru-baru, mempunyai pengalaman lain lagi. Ia mengaku selamat setelah berjuang mati-matian dengan berpegangan batang kayu dan menghanyutkan ke dataran tinggi. "Waktu itu, saya sedang menunggu siaran televisi setelah terjadi gempa bumi. Apakah akan ada pemberitahuan adanya tsunami atau tidak. Ternyata, tiada. Yang ada justru tertelan ombak," ungkap Marni, yang mengaku keluarganya selamat.

Tinggal lantai rumah

Meskipun harus kehilangan istri dan anaknya, Kepala Dusun Muntei Baru-baru, Jersanius Sanaloisa (48), kini harus lebih tabah dan kuat. Sebab, ia juga harus ikut mengurus pencarian dan ikut mengurus pemakaman di lahan miliknya di selatan dusun. Maklumlah, ia bersama beberapa penduduk lainnya, yang tidak mengungsi, termasuk warga yang masih hidup.

Ombak yang menyapu habis dusunnya kini terlihat hanya menyisakan lantai ubin rumahnya dan ratusan rumah warga Dusun Muntei Baru-baru lainnya. Lantai ubin rumah kepala dusun itulah yang ikut dimanfaatkan sebagai helipad atau landasan tiga heli yang digunakan rombongan Wapres.

"Istri dan anak saya juga jadi korban dan belum ditemukan," ujar Jersanius lirih saat menceritakan kepada Kompas. Ia berada di luar rumah saat terjadi gempa bumi. Lalu, ia masuk ke rumah. "Tiba-tiba bunyi gemuruh wur...wur.... Cepat sekali, sekitar sembilan menit ternyata ombak besar. Awalnya, cuma setinggi delapan meter. Namun, tiba-tiba datang terjangan ombak lagi setinggi pohon kelapa, saya terus berenang menuju hutan," ungkap Jarsenius.

Menurut Jarsenius, sebenarnya kalau gulungan ombak datang dari arah pantai, ia dan ratusan warganya mudah menyelamatkan diri dengan berlari satu arah menuju kawasan hutan yang daerahnya lebih tinggi dibandingkan dusunnya. "Akan tetapi, gulungan ombak seperti berputar-putar dan mengeilingi kami sehingga sulit untuk melarikan diri ke hutan. Sana-sini ombak memutar-mutar sehingga banyak yang tertelan ombak," tambah Jarsenius lagi. Ia tak ingat lagi ketika istri dan anaknya juga tertelan ombak.

Kini, ia dan beberapa penduduk dusun yang tersisa serta anggota Tim SAR masih harus menguburkan 67 jasad warganya di lahan miliknya yang kini tengah digali. Sementara ia pun masih menanti jasad istri dan anaknya ditemukan kembali. (Suhartono)

Halaman:
Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    2.070 Pasien Covid-19 Sembuh di RS Lapangan Surabaya, Khofifah: Syukurlah, Nol Kematian

    2.070 Pasien Covid-19 Sembuh di RS Lapangan Surabaya, Khofifah: Syukurlah, Nol Kematian

    Regional
    Menkominfo Sebut 12.548 Desa dan Kelurahan di Indonesia Belum Dapatkan Layanan 4G

    Menkominfo Sebut 12.548 Desa dan Kelurahan di Indonesia Belum Dapatkan Layanan 4G

    Regional
    Gubernur Gorontalo Minta Pjs Bupati Sukseskan Pilkada Bebas Covid-19

    Gubernur Gorontalo Minta Pjs Bupati Sukseskan Pilkada Bebas Covid-19

    Regional
    Klaster Setda Kudus, 6 PNS Terjangkit Virus Corona dan 1 Meninggal Dunia

    Klaster Setda Kudus, 6 PNS Terjangkit Virus Corona dan 1 Meninggal Dunia

    Regional
    Khofifah Tunjuk 6 Penjabat Sementara Gantikan Kepala Daerah yang Cuti Kampanye

    Khofifah Tunjuk 6 Penjabat Sementara Gantikan Kepala Daerah yang Cuti Kampanye

    Regional
    Tertangkap Hendak Curi Sapi, 2 Warga Muara Enim Tewas Dihakimi Massa

    Tertangkap Hendak Curi Sapi, 2 Warga Muara Enim Tewas Dihakimi Massa

    Regional
    Ganjar Lantik 6 Penjabat Sementara untuk Gantikan Walkot dan Bupati yang Maju Pilkada

    Ganjar Lantik 6 Penjabat Sementara untuk Gantikan Walkot dan Bupati yang Maju Pilkada

    Regional
    Maju di Pilkada Cilegon, Ini Jumlah Harta Kekayaan Pesinetron 'Cinta Fitri'

    Maju di Pilkada Cilegon, Ini Jumlah Harta Kekayaan Pesinetron "Cinta Fitri"

    Regional
    Diduga Stres karena Pisah dengan Istri, Pria Ini Ditemukan Tewas Bunuh Diri

    Diduga Stres karena Pisah dengan Istri, Pria Ini Ditemukan Tewas Bunuh Diri

    Regional
    Ingin Hapus Stigma RS Jadi Tempat Penularan Covid-19, Begini Cara Bupati Madiun...

    Ingin Hapus Stigma RS Jadi Tempat Penularan Covid-19, Begini Cara Bupati Madiun...

    Regional
    Masuk Tim Pengacara Bambang Trihatmodjo, Busyro Muqoddas Coreng Citra Sendiri

    Masuk Tim Pengacara Bambang Trihatmodjo, Busyro Muqoddas Coreng Citra Sendiri

    Regional
    Pemprov NTT Batalkan Larangan Warga Gelar Pesta di Tengah Pandemi Covid-19

    Pemprov NTT Batalkan Larangan Warga Gelar Pesta di Tengah Pandemi Covid-19

    Regional
    Harta Kekayaan Calon Petahana yang Lawan Kotak Kosong di Pilkada Semarang

    Harta Kekayaan Calon Petahana yang Lawan Kotak Kosong di Pilkada Semarang

    Regional
    Sumsel Ajukan 5 PJS Bupati ke Mendagri

    Sumsel Ajukan 5 PJS Bupati ke Mendagri

    Regional
    Soal Nama Calon Wakil Bupati Tak Ada di Surat Penetapan, Ini Penjelasan KPU

    Soal Nama Calon Wakil Bupati Tak Ada di Surat Penetapan, Ini Penjelasan KPU

    Regional
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X