Erupsi Merapi Meluas

Kompas.com - 27/10/2010, 03:40 WIB
Editor

YOGYAKARTA, KOMPAS - Erupsi Gunung Merapi lebih besar dibanding tahun 2006. Energi yang keluar lebih besar dan alur guguran material Gunung Merapi terus meluas. Material vulkanik menyebar dengan arah guguran ke Magelang, Jawa Tengah, terutama ke Kali Senowo dan Kali Lamat.

Menurut anggota Staf Seksi Gunung Merapi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian Dewi Sri, tanda- tanda erupsi Gunung Merapi tahun ini sangat berbeda dibanding erupsi sebelumnya. ”Perbedaan terutama dari data kegempaan dan deformasi yang terus meningkat,” katanya, Selasa (26/10).

Dewi menambahkan, peluang terjadinya letusan memang terbuka. Magma sudah naik ke permukaan dan guguran telah berwarna coklat, dengan membawa beragam material vulkanik. ”Sekali luncuran guguran bisa berjarak tiga kilometer dari letusan yang biasanya berlangsung secara bertahap,” kata Dewi.

Sampai berita diturunkan pukul 21.00, Posko Utama di Pakem, Sleman, mengevakuasi tujuh orang yang terjebak awan panas di Desa Kinahrejo, Cangkringan, Sleman. ”Awalnya mereka tidak mau diungsikan, kami masih terus mengevakuasi dan belum tahu kondisi mereka,” kata petugas Posko Pakem, Wartono.

Dengan perluasan alur guguran, wilayah desa yang harus diungsikan bertambah. Akibat perluasan alur guguran, tiga desa di alur Kali Senowo dan tiga desa di alur Kali Lamat harus diungsikan. Desa-desa itu adalah Desa Kerinjing, Mangunsoka, Sumber, Keningar, Ngargomulyo, dan Kali Bening.

Saat ini, guguran material vulkanik mengarah ke barat dan selatan ke Kali Krasak, Kali Bebeng, Kali Lamat, dan Kali Senowo. Alur guguran biasanya akan diikuti dengan alur awan panas. Awan panas berupa guguran ataupun letusan normalnya akan dialirkan ke sungai-sungai di Lereng Merapi.

Menurut Dewi, pembangunan dam sabo (bentangan tanggul di sungai yang berfungsi menahan laju lahar) yang terlalu dekat dengan puncak gunung justru berbahaya karena membelokkan awan panas seperti yang pernah terjadi di Kali Gendol pada erupsi 2006. Saat ini, mayoritas dari sekitar 200 dam sabo di lereng Merapi dalam kondisi rusak sehingga tak bisa diharapkan untuk menahan laju sedimen lahar.

”Dam sabo seharusnya tidak dibangun di alur jangkauan awan panas. Normalnya, jangkauan awan panas Merapi adalah 4-7 kilometer. Jadi, lahar tidak mungkin mengalir kurang dari 7 kilometer,” kata Dewi.

Perlengkapan kurang

Dari pemantauan, barak-barak pengungsian di lereng Merapi masih kekurangan perlengkapan, seperti alas tidur, selimut, toilet, kekurangan air bersih, serta tidak ada perlengkapan untuk bayi dan anak balita.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.