Tarakan Kembali Mencekam, 1 Tewas

Kompas.com - 29/09/2010, 04:01 WIB
Editor

Tarakan, Kompas - Situasi di Kota Tarakan, Kalimantan Timur, kembali mencekam menyusul pecahnya bentrokan antarwarga di simpang empat Grand Tarakan Mall, Selasa (28/9) malam. Satu orang dilaporkan tewas dan dua lainnya mengalami luka parah. Belum diketahui persis apakah kasus ini terkait kerusuhan sehari sebelumnya.

Saat dikonfirmasi dari Kota Samarinda semalam, Direktur Intelkam Kepolisian Daerah Kaltim Komisaris Besar Rudi Pranoto hanya membenarkan adanya bentrokan itu. ”Ya, ya, ya, kami masih berusaha mengatasi situasi ini,” katanya singkat.

Korban tewas belum diketahui identitasnya. Korban luka dikabarkan bernama Yudi dan Kalun. Sejumlah warga dan wartawan Tribun Kaltim yang dihubungi per telepon mengatakan, dua kelompok massa itu tiba-tiba berhadapan di simpang empat Grand Tarakan Mall dan bentrok pukul 21.30 Wita. Semua aktivitas usaha langsung terhenti.

Sebelumnya, sore hari, satu rumah di kawasan Juata Kerikil dibakar sekelompok orang yang belum diketahui identitasnya.

Sebagaimana diberitakan, Senin lalu terjadi bentrokan dan kerusuhan di kota tersebut. Bentrokan melibatkan warga setempat dan warga pendatang.

Bentrokan dipicu kematian seorang tokoh adat yang juga imam masjid bernama Abdullah (45), Minggu malam. Abdullah meninggal dunia akibat mengalami banyak luka tusukan setelah berupaya melerai perkelahian yang melibatkan anaknya.

Kepolisian Resor Kota Tarakan kemarin menyatakan telah menahan tiga tersangka penganiayaan/pengeroyokan Abdullah. Mereka berinisial Br (20), Aa (16), dan Ln (20).

Menurut Kepala Bidang Humas Polda Kaltim Komisaris Besar Antonius Wisnu Sutirta, penangkapan ketiga tersangka berdasarkan informasi dari sembilan saksi yang ditahan. ”Polisi masih mengejar sejumlah tersangka lain yang diduga terlibat pengeroyokan di kawasan Perumahan Juwata Permai yang juga menyebabkan Rahmat (25), putra Abdullah, terluka,” ujar Wisnu Sutirta.

Penangkapan ketiga tersangka itu, lanjut Wisnu, terdengar oleh massa yang prihatin dan mendukung pihak korban. Mereka kemudian mendatangi Kantor Polresta Tarakan pukul 14.00 dan menuntut agar tersangka diserahkan kepada mereka.

Polisi berupaya meredam kemarahan itu dengan mempersilakan perwakilan massa melihat tersangka dan meminta mereka memercayai proses hukumnya kepada polisi. ”Akhirnya, mereka setuju,” ujar Wisnu.

Wakil Wali Kota Tarakan Suhardjo Trianto mengatakan, polisi, pemerintah, dan kelompok warga sepakat, pengeroyokan yang menyebabkan tewasnya Abdullah adalah murni tindak pidana dan tidak terkait dengan latar belakang kesukuan. (BRO)

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.