Ini Meriam Pengusir Kuntilanak

Kompas.com - 09/09/2010, 12:51 WIB
EditorIgnatius Sawabi

KOMPAS.com — Gelondongan kayu mabang yang dibentuk silinder berongga tampak berjejer rapi dalam kelompoknya masing-masing, biasanya lima buah, di tepian Sungai Kapuas yang membelah Kota Pontianak.     Sudah sepekan sebelum Lebaran tiba, kayu besar silinder yang dibentuk sebagai meriam karbit itu sudah bertengger dan sekali-kali dinyalakan di malam hari.     "Ini namanya permainan meriam karbit. Ini sudah menjadi tradisi dan dimainkan masyarakat tepian Sungai Kapuas setiap tahunnya," kata seorang kerabat Kesultanan Pontianak, Syarif Usmulyani, menjelaskan.     Setiap malam hari sebelum dan sesudah Lebaran dengan puncaknya malam Lebaran, suara dentuman satu meriam dengan meriam lainnya akan memecahkan angkasa Kota Khatulistiwa itu.     Tak kurang dari 40 kelompok warga yang bermain meriam karbit ini, menurut data yang ada di Dinas Pariwisata Kota Pontianak.     Setiap kelompok itu jumlah anggotanya bervariasi, mulai dari 15 hingga 30 orang yang mewakili "gang" atau RT, atau gabungan beberapa "gang" atau RT di kampung tepian Kapuas.     Setiap kelompok biasanya memiliki lima meriam, tetapi ada beberapa yang memiliki sampai belasan meriam. Kebanyakan lokasi meriam ditempatkan di tepian Sungai Kapuas di sekitar Jembatan Kapuas dengan kedudukan yang saling berhadapan, tetapi dibatasi bentang sungai yang lebarnya sekitar 600 meter itu.     "Mereka berjejer di masing-masing tepi sungai yang berhadapan, seakan siap-siap berperang," kata Usmulyani. Dentuman yang bersahut-sahutan itu mengundang daya tarik masyarakat Kota Pontianak, bahkan wisatawan dari luar Kalbar menontonnya.     Dentuman meriam karbit ini sangat keras, dapat terdengar dari radius 3 hingga 5 kilometer.

Napak tilas     Menurut penuturan Usmulyani, permainan meriam karbit terkait dengan awal berdirinya Kota Pontianak. Berawal dari perjalanan Syarif Abdurrahman menyusuri Sungai Kapuas untuk menemukan areal yang bisa didiami, konon rombongan itu mendapat gangguan.     "Konon, selama delapan hari menebang pohon, para pengikut Syarif Abdurrahman mendapat gangguan para kuntilanak. Boleh jadi kata 'kuntilanak' ini bertransformasi menjadi Pontianak," tuturnya.     Namun, dalam cerita rakyat Melayu, kata Pontianak pun berarti perempuan yang meninggal ketika melahirkan, kemudian rohnya bergentayangan di desa-desa untuk meneror warga. Disarankan oleh tetua Melayu agar warga memelihara kuku panjang dan tajam sehingga bila bersua sang Pontianak, dapat menancapkan kuku tajam pada lehernya agar berubah jadi perempuan cantik.     "Tapi, Sultan Syarif Abdurrahman memilih cara lain. Dia menembakkan meriam ke arah hutan, yang diyakini sumber bunyi-bunyian seram pengganggu pengikutnya," cerita Usmulyani.     Dari kejadian mengusir gangguan itu di zaman kesultanan akhirnya meriam karbit menjadi sering digunakan, tetapi beralih fungsi sebagai penanda saat berbuka puasa di bulan Ramadhan.     Meriam dibunyikan saat memasuki azan maghrib yang tujuannya untuk memberitahukan masyarakat Pontianak bahwa waktu maghrib tiba.     "Maklum saja, pada saat itu masjid-masjid belum memiliki alat pengeras suara seperti saat ini. Selain itu, populasi penduduk yang jarang dan terpisah-pisah jelas menyulitkan mendengar suara azan," beber kerabat Keraton Kadriah yang juga tokoh Melayu itu.     Namun, kondisi saat ini adalah tradisi meriam karbit dimainkan mulai jelang Lebaran dengan puncaknya malam takbiran hingga tiga hari setelah Lebaran, selepas senja hingga hampir tengah malam.     Bagi Kota Pontianak kini, menurut Kepala Dinas Pariwisata Kota Pontianak Utin Khadijah, tradisi ini mengangkat nama daerah karena ini merupakan tradisi khas satu-satunya yang ada di Tanah Air.     "Permainan rakyat meriam karbit ini jelas memiliki nilai pesona budaya yang menarik. Tidak hanya masyarakat Pontianak, namun dari luar kota pun berdatangan menyaksikan," kata Utin.     Bahkan, pada tahun 2007, meriam karbit Kota Pontianak telah memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia dan berulang kembali pada tahun 2009.     Untuk mengembangkan kebudayaan ini, Utin berkomitmen akan terus melestarikannya, salah satu usaha yang bisa dilakukan adalah dengan menggelar festival meriam karbit setiap tahun.

Setiap kelompok biasanya memiliki lima meriam, namun ada beberapa yang memiliki sampai belasan meriam. Kebanyakan lokasi meriam ditempatkan di tepian Sungai Kapuas di sekitar Jembatan Kapuas dengan kedudukan yang saling berhadapan, namun terbatasi bentang sungai yang lebarnya sekitar 600 meter itu.      "Mereka berjejer di  masing-masing tepi sungai yang berhadapan, seakan siap-siap berperang," kata Usmulyani. Dentuman yang bersahut-sahutan itu mengundang daya tarik masyarakat Kota Pontianak, bahkan wisatawan dari luar Kalbar menontonnya.      Dentuman meriam karbit ini sangat keras, dapat terdengar dari radius tiga hingga lima kilometer.




Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Api Muncul dari Bekas Longsoran Tanah Hebohkan Warga di NTT

Api Muncul dari Bekas Longsoran Tanah Hebohkan Warga di NTT

Regional
Lima Warga Diterjang Banjir dan Longsor di Pasaman, Satu Tewas dan Satu Hilang

Lima Warga Diterjang Banjir dan Longsor di Pasaman, Satu Tewas dan Satu Hilang

Regional
Polisi Gerebek Tambang Emas Ilegal di Sungai Melawi, Satu Penambang Ditangkap Sisanya Kabur

Polisi Gerebek Tambang Emas Ilegal di Sungai Melawi, Satu Penambang Ditangkap Sisanya Kabur

Regional
5 Fakta Penipuan Wedding Organizer di Cianjur, Tergiur Harga Murah hingga Korban Terus Bertambah

5 Fakta Penipuan Wedding Organizer di Cianjur, Tergiur Harga Murah hingga Korban Terus Bertambah

Regional
Tebing Longsor di Sukabumi, 5 Kepala Keluarga Diungsikan

Tebing Longsor di Sukabumi, 5 Kepala Keluarga Diungsikan

Regional
Dalam 4 Tahun, 81.686 Koperasi di Indonesia Dibubarkan, Ini Sebabnya

Dalam 4 Tahun, 81.686 Koperasi di Indonesia Dibubarkan, Ini Sebabnya

Regional
Riau Bakal Hadapi Kemarau Panjang, TNI Gunakan Alat Canggih Atasi Karhutla

Riau Bakal Hadapi Kemarau Panjang, TNI Gunakan Alat Canggih Atasi Karhutla

Regional
Bupati Bogor Tawarkan Liburan kepada Yusuf Sepulang dari Wuhan

Bupati Bogor Tawarkan Liburan kepada Yusuf Sepulang dari Wuhan

Regional
Bocah 2 Tahun Asal Aceh Diduga Dijual di Malaysia, Ini Kronologinya

Bocah 2 Tahun Asal Aceh Diduga Dijual di Malaysia, Ini Kronologinya

Regional
Korban Penipuan Wedding Organizer di Cianjur Tergiur Potongan Harga 50 Persen

Korban Penipuan Wedding Organizer di Cianjur Tergiur Potongan Harga 50 Persen

Regional
Di Balik Penonaktifan Dosen Unnes yang Diduga Hina Jokowi, Status 8 Bulan Lalu hingga Kasus Plagiarisme

Di Balik Penonaktifan Dosen Unnes yang Diduga Hina Jokowi, Status 8 Bulan Lalu hingga Kasus Plagiarisme

Regional
Korban Penipuan Wedding Organizer di Cianjur Terus Bertambah Jadi 24 Orang

Korban Penipuan Wedding Organizer di Cianjur Terus Bertambah Jadi 24 Orang

Regional
Tertipu Wedding Organizer Abal-abal, Bayar Puluhan Juta Rupiah dan Hanya Dapat Bunga Kering

Tertipu Wedding Organizer Abal-abal, Bayar Puluhan Juta Rupiah dan Hanya Dapat Bunga Kering

Regional
Anggaran Perbaikan Tak Mencukupi, 6.128 Ruang Kelas SD di Tasikmalaya Masih Rusak

Anggaran Perbaikan Tak Mencukupi, 6.128 Ruang Kelas SD di Tasikmalaya Masih Rusak

Regional
[POPULER NUSANTARA] Gubernur Kalteng Evakuasi Kecelakaan | Dosen Unnes Dibebastugaskan karena Diduga Hina Jokowi

[POPULER NUSANTARA] Gubernur Kalteng Evakuasi Kecelakaan | Dosen Unnes Dibebastugaskan karena Diduga Hina Jokowi

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X