"Food Estate" Merauke Terkendala Harga

Kompas.com - 28/06/2010, 03:43 WIB
Editor

Jakarta, Kompas - Investasi pertanian pangan dan energi skala luas di Merauke, Papua-Merauke Integrated Food and Energy Estate—bakal terkendala harga komoditas pangan yang tak lagi liar. Sementara janji pemerintah memberikan fasilitas investasi berupa pembangunan infrastruktur juga belum terealisasi.

Menurut Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian Universitas Lampung Bustanul Arifin, Minggu (27/6) di Jakarta, harga komoditas pangan domestik ataupun internasional tidak lagi liar. ”Ini akan menjadi salah satu pertimbangan utama investor untuk merealisasikan investasinya di Merauke,” katanya.

Dari diskusi dengan sejumlah pengusaha yang berminat menanamkan modalnya di Merauke, terungkap bahwa untuk komoditas jagung, investasi akan menjanjikan dan memberikan keuntungan bagus bila harga jagung minimal Rp 3.000 per kilogram jagung pipilan kering.

Hitungan sederhana menunjukkan, dengan produktivitas jagung 6 ton per hektar, pendapatan kotor pengusaha per hektar Rp 18 juta. Namun, dari penelusuran Kompas, saat ini harga jagung hanya sekitar Rp 2.200 per kilogram di tingkat petani. Sampai ke pengguna sekitar Rp 2.300-Rp 2.400.

Kecenderungan yang bagus justru pada komoditas beras. Harga beras kualitas medium saat ini mencapai Rp 5.500 per kilogram. Saat ini harga beras dalam negeri lebih tinggi dibandingkan dengan beras Vietnam atau Thailand untuk kualitas yang sama.

Peluang ada pada komoditas kedelai. Namun, kendala budidaya kedelai sangat kompleks karena banyaknya serangan hama, belum lagi soal produktivitas yang rendah. Adapun untuk komoditas gula masih menghadapi tantangan fluktuasi harga. Bustanul menengarai ada empat komoditas yang akan dikembangkan di Merauke, yakni beras, jagung, sedikit kedelai, dan gula.

Bustanul menyatakan, pertimbangan bisnis tetap akan menjadi pertimbangan utama para pengusaha yang berminat berinvestasi di Merauke. Jika hitung-hitungan bisnis menguntungkan, investor akan masuk.

Selain kendala tren harga komoditas, kendala lain yang bakal dijumpai terkait implementasi food estate adalah kesulitan pengusaha mendapatkan orang-orang yang memiliki kapasitas dalam mengelola bisnis besar tanaman semusim yang memiliki risiko tinggi.

Sampai saat ini belum terlihat orang yang punya kapasitas menonjol yang mampu mengelola lahan pertanian pangan dalam skala hingga puluhan ribu bahkan ratusan ribu hektar. Padahal, semua tahu, membudidayakan tanaman musiman tidak mudah.

Sedikit kurang pasokan air, gangguan iklim atau kendala hama dapat mengakibatkan kerugian besar. Kehadiran manajer lapangan yang andal dan menguasai teknik budidaya pertanian pangan skala luas mutlak diperlukan agar bisnis sukses.

Kendala lainnya adalah ketidakpastian kebijakan oleh pemerintah pusat yang dapat dijadikan pegangan bagi daerah dan swasta dalam melakukan investasi. Padahal, swasta dan pemerintah memerlukan dukungan kebijakan sebagai payung untuk bisa merealisasikan kegiatan. (MAS)



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X