Gereja Tanjung Sakti, Tertua di Sumsel - Kompas.com

Gereja Tanjung Sakti, Tertua di Sumsel

Kompas.com - 19/05/2010, 17:32 WIB

PAGARALAM, KOMPAS.com — Gereja Santo Mikhael di Kecamatan Tanjung Sakti, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, merupakan bangunan tertua dan memiliki nilai sejarah di provinsi itu.

"Bagi umat Katolik, gereja ini merupakan yang tertua di Sumsel dan dahulunya menjadi gereja misionaris untuk wilayah Sumbagsel. Sejak dibangun tahun 1898 hingga kini belum pernah dilakukan perbaikan atau rehab total, mengingat bangunannya masih baik dan belum ada kerusakan," kata Pastur Joko di Pagaralam, Rabu (19/5/2010).

Dia menyebutkan, Gereja Santo Mikhael pertama kali dibangun oleh Pastor Jan Van Kamper SCJ untuk penyebaran agama Kristen di Sumsel. Gedung untuk ibadat ini dibangun pada 19 September 1898, sebelum Indonesia merdeka. Gereja ini pada zaman penjajahan Jepang pernah terhenti aktivitasnya karena digunakan menjadi gudang, tetapi setelah itu kembali difungsikan.

"Awalnya ukuran gereja ini sekitar 5 x 9 meter di atas lahan kurang dari seperempat hektar, dibangun dengan semipermanen menggunakan kayu berkualitas terbaik. Buktinya sudah lebih 112 tahun kondisi bangunan masih utuh dan belum pernah dilakukan pergantian," kata dia lagi.

Namun, menurut dia, bangunan gereja ini seolah hanya memiliki nilai sejarah bagi masyarakat Sumsel, mengingat jemaatnya sudah banyak berkurang, hanya tinggal sekitar 60 orang. Sedangkan pasturnya paling lama menjabat, yaitu Bruder Jacobus Zinken sekitar 30 tahun.

"Dahulunya yang menjadi pastor di gereja ini kebanyakan dari Belanda langsung, setelah Romo Brader Jacobus Zinken meninggal, baru digantikan oleh pastor berkewarganegaraan Indonesia," ujar dia lagi.

Kondisi bangunan gereja itu masih dalam bentuk aslinya, dan hingga kini belum dilakukan penggantian baik bahan maupun bentuk bangunan sejak dibangun ratusan tahun lalu. Kayu yang digunakan untuk membuat gereja juga khusus diambil dari jenis kualitas nomor satu atau lebih dikenal oleh masyarakat lokal dengan kayu tenam, lagan, atau cemaro.

Menurut warga setempat, Zili, di Tanjung Sakti cukup banyak memiliki peninggalan sejarah termasuk gereja, tugu pahlawan, dan beberapa bangunan pada masa perjuangan. Namun, kondisinya kurang terpelihara dengan baik.

"Memang ada beberapa bangunan bersejarah termasuk gereja tua itu, tapi pemeliharaannya kurang baik sehingga banyak yang tidak terawat. Padahal, cukup banyak perjalanan sejarah yang bisa digali di daerah ini termasuk sumber daya alamnya banyak belum tergali," ujar dia pula.

Dia membenarkan, gereja itu umurnya sudah lebih dari 100 tahun dan cukup banyak perjalanan sejarah yang dapat digali dengan banyak bangunan peninggalan sejarah di Tanjung Sakti tersebut.


Editorksp

Close Ads X