Pemerintah Dirikan Museum Transmigrasi - Kompas.com

Pemerintah Dirikan Museum Transmigrasi

Kompas.com - 02/05/2010, 15:47 WIB

GEDONG TATAAN, KOMPAS.com - Pemerintah membangun museum khusus untuk mendokumentasikan catatan sejarah keberhasilan proses transmigrasi di Indonesia, khususnya di Lampung. Museum ini digadang-gadang menjadi landmark baru di Provinsi Lampung.

Museum yang dinamakan Museum Nasional Ketransmigrasian RI ini berlokasi di Desa Bagelen, Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, Lampung. Atau, sekitar 30 kilometer arah timur dari Bandar Lampung.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Museum Nasional Ketransmigrasian Suwardi, mengungkapkan, museum ini sengaja dibangun di Pesawaran karena alasan historis. "Transmigrasi yang pertama kalinya di Indonesia dilakukan di Desa Bagelen ini, di tahun 1905," tuturnya.

Pada masa itu, ungkapnya, transmigrasi diinisiasi oleh Pemerintah Hindia Belanda. Namun, saat itu namanya dikenal sebagai program kolonialisasi. Sebanyak 155 keluarga dari Kedu, Jawa Tengah, dipindahkan ke Lampung untuk perluasan daerah perkebunan di luar Jawa.

Museum Ketransmigrasian ini dianggap sebagai monumen transmigrasi Indonesia. Menurut Suwardi, keberadaan museum ini akan memperkuat citra Lampung sebagai provinsi transmigrasi di tanah air. Transmigrasi telah menghidupkan 13 kabupaten-kota di provinsi ini.

Bahkan beberapa kabupaten/kota seperti Tulang Bawang (dulu dikenal dengan nama Unit II), Pringsewu, Kota Metro, dan Kabupaten Mesuji muncul menjadi kota-kota baru sebagai dampak kesuksesan transmigrasi penduduk dari Pulau Jawa.

Kabupaten Mesuji adalah contoh keberhasilan Kota Terpadu Mandiri atau kota di tengah hutan. Di sini sudah berdiri berbagai sarana prasarana, pemukiman, pusat-pusat ekonomi warga, tuturnya. Padahal, dahulu, wilayah Mesuji adalah hutan-hutan belantara.

Museum Ketransmigrasian memiliki sejumlah koleksi yang diantaranya foto-foto, mata uang, alat-alat untuk membuka areal hutan, diorama-diorama, film dokumenter, yang terkait ketranmigrasian di tanah air.

Bola raksasa

Museum ini juga memiliki beberapa koleksi yang unik berupa sepuluh anjungan daerah asal transmigrasi yang biasa kita lihat di Taman Mini Indonesia Indah, serta bola besi raksasa untuk membuka lahan. Diamater bola besi ini lebih dari 1,5 meter dengan rantai 40 meter. Di masa lalu, alat ini digunakan untuk menebangi pepohonan dan semak belukar.

Namun, diakui Suwardi, barang-barang koleksi museum ini jumlahnya masih terbatas. Beberapa kaca etalase masih kosong, belum diisi barang-barang koleksi. Hal inilah yang menjadi saah satu alasan penundaan peresmian museum ini.

Menurut rencana, museum yang mulai dibangun tahun 2005 ini akan mulai dibuka umum (soft opening) selambatnya Juni mendatang. Namun, belum diketahui kapan akan diresmikan.

Di dalam rencana desain pengembangannya, menurut M. Widiastuti, Kepala Seksi Pelayanan Museum Ketransmigrasian, di sekitar areal museum akan dibangun pula sejumlah s arana wisata diantaranya water boom, gedung teater, dan fasilitas agro wisata.

"Namun, rencana ini bergantung ada tidaknya investasi nantinya. Kami bermimpi, museum ini bisa jadi ikon baru di Lampung. Menjadi kawasan sejarah, sekaligus juga wisata di Lampung," tutur Suwardi kemudian.

Dari 20 hektar total areal kawasan terpadu museum yang direncanakan, baru 6,3 hektar yang telah terealisasi, yaitu digunakan untuk pembangunan fasilitas utama museum. Adapun pendanaan pembangunan museum ini bersumber dari APBN.

 

 


Editorwah

Close Ads X