Cerita Makhluk Misterius Budaya Dayak (3-Habis)

Kompas.com - 16/02/2010, 10:44 WIB
EditorAbi


Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Severianus Endi

PONTIANAK, KOMPAS.com - Stepanus Djuweng (48), pendiri Institut Dayakologi Kalbar, sebuah lembaga riset adat istiadat masyarakat Dayak, pernah melakukan penelitian tentang togukng. Dari berbagai wawancara dengan tetua di sejumlah kampung di Simpang Dua, tergambar bahwa togukng memang punya nilai mistis dan keturunan manusia biasa.

"Pangkalnya bermula dari kisah seorang penduduk kampung Banjur Karab, bernama Kek Catok. Suatu hari, Kek Catok ini menghilang, dan keluarganya mencari kemana-mana, tapi tak kunjung bertemu," papar Djuweng. Legenda itu diperkirakan terjadi sekitar 100-an tahun silam. Kepergian Kek Catok diduga karena bertemu togukng di alam kehidupan 'sebelah sana'.

Djuweng menceritakan kembali, suatu saat Kek Catok pergi berburu di hutan belantara dengan senjata tradisional berupa sumpit.  Tiba-tiba ia melihat seekor kelempiau, kemudian disumpitnya. Kelempiau (kera) itu tiba-tiba pula menghilang, dan terjatuhlah Kek Catok ke suatu lubang. Ia kemudian terdampar di pontatn, yakni suatu panggung terbuat dari bambu yang digunakan masyarakat Dayak sebagai tempat jemuran padi,

"Jadi, kelempiau yang disumpit Kek Catok rupanya perwujudan togukng dalam bentuk lain," kata Djuweng.

Dari atas pontatn itu, Kek Catok melihat sekeliling, ternyata sebuah kampung tua dengan rumah betang. Dia bertemu dua orang perempuan, seorang ibu dan seorang gadis. Gadis itu merupakan adik bungsu dari enam saudara yang semuanya laki-laki. Saat itu, keenam laki-laki tersebut sedang pergi membalas dendam ke orang di Kampung Tiokng Kanakng yang telah membutuh ayah mereka.

Lazimnya rumah betang, memiliki suatu ruang di bawah atap yang disebut tempara. Kedua perempuan itu memasangkan ke tubuh Kek Catok baju layang angin, yakni baju yang bisa membuat seseorang bisa terbang, kemudian menyembunyikan dia tempara. Baju layang angin itu milik mendiang ayah sang gadis dan enam saudaranya.

Di tempara itu, Kek Catok berlindung di balik tujuh lapis badakng, yakni semacam bakul besar khas masyarakat Dayak yang biasa digunakan untuk mengangkut padi. Lalu, enam saudara laki-laki kembali dari Kampung Tiokng Kanakng, dan mencium bau mirip asam kamantatn (sejenis mangga hutan).

"Wah, ini bau manusia, seperti harum asam kamantatn. Kamu menyembunyikan manusia di sini ya," tutur Djuweng, mencoba merekonstruksi kisah itu.

Para lelaki mencari sampai ke tempara, dan menemukan tujuh lapis badakng yang tertungkup. Saat badang itu dibuka, ajaib, Kek Catok bisa terbang dan kabur melintasi tujuh  buah gunung.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.