Malaria Enggan Pergi, Korban Pun Terus Berjatuhan

Kompas.com - 01/12/2009, 07:31 WIB
Editoracandra
JAKARTA, KOMPAS.com — Kekeringan, penggurunan, hingga konflik bukanlah persoalan akhir terkait perubahan iklim di Afrika. Ancaman malaria tak bisa dilupakan.

 

Perubahan iklim, yang telah dan akan menjadi salah satu pokok bahasan terpanas generasi sekarang, memantapkan posisi rentan Afrika. Kekhawatiran bertambah karena penyebaran malaria erat terkait dengan kenaikan suhu.

Data WHO tahun 1996 mengungkap, 90 persen angka kematian dunia akibat malaria terjadi di Afrika, khususnya bagian selatan gurun Sahara. Sebagian besar korban berusia di bawah lima tahun. Itu berarti, sekitar satu juta jiwa meninggal karena malaria. Sekitar 85 persen adalah anak balita.

Kondisi lingkungan beberapa negara tropis Afrika menjadi tempat subur bagi penyebaran malaria. Seiring menghangatnya suhu, kawasan dataran tinggi pun beranjak rentan oleh penyebaran virus malaria.

Dalam kasus malaria, epidemi memang tidak hanya dipengaruhi satu faktor saja, misalnya perubahan iklim yang ditandai meningkatnya suhu global. Namun, salah satu hasil kajian menyebutkan bahwa peningkatan suhu tetap akan menempatkan puluhan juta penduduk dunia dalam posisi rentan.

Terus meningkat

Makalah lokakarya adaptasi Afrika tahun 2004 menyebutkan, kasus malaria meningkat di dataran tinggi Rwanda dan Tanzania yang berasosiasi dengan kondisi suhu terkini. Di dunia, bila pemanasan global tidak teratasi dengan baik, ancaman malaria meningkat dua kali lipat.

Berdasar prediksi, sejumlah dataran tinggi lain di Afrika akan berada dalam kondisi rentan, seperti sebagian kawasan Etiopia, Kenya, Rwanda, dan Burundi. Setidaknya itu prediksi tahun 2080. Hal yang relatif sama diperkirakan terjadi di Somalia bagian tengah dan Angola.

Fakta-fakta di atas merupakan tanda bahaya bagi komunitas internasional untuk turut membantu Afrika. Secara ekonomi, malaria dan beberapa penyakit akut lainnya menggerogoti keuangan seluruh negara Afrika, hingga lebih dari 12 juta dollar AS per tahun.

Tanpa campur tangan global, perkembangan Afrika akan terus terhambat oleh persoalan kesehatan dan sumber daya manusia. Tingkat bolos sekolah akibat malaria yang sering kali kambuh tergolong tinggi.

Bahkan, tak sedikit di antara anak-anak yang terjangkit malaria berakhir fatal; kerusakan otak hingga kematian. Kematianlah yang paling sering. (GSA)



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X