Australia Tetap Gagal Sumbat Kebocoran Minyak

Kompas.com - 26/10/2009, 12:11 WIB
Editorhertanto

KUPANG, KOMPAS.com — Upaya keempat yang dilakukan PTTEP Australasia untuk menyumbat kebocoran minyak di ladang Atlas Barat Montara di Laut Timor yang meledak pada 21 Agustus tetap saja gagal.

"Upaya penyumbatan keempat dilaksanakan pada Minggu (25/10), tetapi tidak jadi dilaksanakan karena operator ladang minyak Montara asal Thailand itu belum menemukan peralatan yang tepat untuk menyumbat sumur minyak yang bocor itu," kata pemerhati masalah Laut Timor, Ferdi Tanoni, di Kupang, Senin (26/10).

Dia mengemukakan hal itu setelah menerima laporan dari jaringan Yayasan Peduli Timor Barat (YPTB) di Canberra, Australia, tentang kondisi terkini yang dihadapi perusahaan minyak milik mantan PM Thailand Thakshin Shinawatra itu dalam upaya menghentikan kebocoran minyak mentah (crude oil) dari ladang Montara.

Tanoni yang juga Ketua YPTB itu mengatakan, hingga saat ini muntahan minyak mentah itu terus mencemari Laut Timor yang tiap harinya mencapai sekitar 500.000 liter atau sekitar 1.200 barrel.

"Upaya penyumbatan itu sudah tiga kali dilakukan oleh PTTEP Australasia, tetapi tetap saja gagal. Mereka berusaha kembali untuk melakukan penyumbatan, tetapi tetap saja gagal," ujar penulis buku Skandal Laut Timor Sebuah Barter Politik Ekonomi Politik Canberra-Jakarta.

Berdasarkan laporan jaringan YPTB dari Canberra, kata mantan agen imigrasi Kedutaan Besar Australia itu, upaya penyumbatan berikutnya akan dilakukan pada Selasa (27/10), sambil mencari sebuah teknologi baru untuk menghentikan bocoran minyak dari ladang Montara.

Mencermati makin buruknya situasi tersebut, dia mengharapkan pemerintah pusat segera mengambil langkah-langkah pencegahan untuk meminimalkan kerugian yang dialami para nelayan dan petani rumput laut yang berada di pesisir selatan Pulau Timor dan Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Sejak akhir Agustus lalu, dampak dari pencemaran itu sudah dirasakan oleh para nelayan di Kupang yang telah menjadikan Laut Timor sebagai sumber kehidupannya. Hasil tangkapan mereka turun drastis," ujar Tanoni.

Demikian pula halnya dengan para petani rumput laut di sepanjang pantai selatan Pulau Rote. Ribuan hektar rumput laut di wilayah itu gagal panen karena sudah tercemar minyak mentah yang berasal dari Laut Timor.

"Saya hanya mengingatkan bahwa kejadian pencemaran Laut Timor ini bila tidak segera dihentikan akan sama, bahkan lebih besar, dari bencana Exxon Valdez di Laut Alaska, Amerika Serikat, pada 1989," kata Tanoni.

"Walaupun sudah 20 tahun kejadian tersebut, dampaknya masih juga dirasakan oleh para nelayan dan masyarakat pesisir di Alaska," katanya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X