MOSES, Mendeteksi Malaria Lebih Cepat

Kompas.com - 11/05/2009, 18:02 WIB
Editor

JAKARTA, KOMPAS.com - Malaria sampai saat ini masih menjadi salah satu penyakit yang mematikan. Padahal jika ditangani dengan cepat, malaria tidak akan sampai merenggut nyawa. Untuk memastikan seseorang terkena malaria, harus melalui pemeriksaan darah.

Daerah-daerah yang jauh dari kota, membuat pendeteksian berjalan lama. Akibatnya penderita lambat ditangani, dan banyak penderita meninggal.

Untung sekarang ini masalah ini dapat diatasi. Empat mahasiwa dari Institut Teknologi Bandung, mengembangkan sistem pendeteksian malaria yang mereka beri nama MOSES (Malaria System and Endemic Survilance).

Dengan sistem yang mereka kembangkan tersebut, tim yang diberi nama Big Bang keluar sebagai juara pertama pada Imagine Cup. Alasan tim Big Bang yang diawaki oleh David Samuel, Dody Dharma, Dominikus Damas dan Samuel Simon membuat MOSES adalah, mereka merasa kaget ternyata penyakit malaria cukup banyak diderita oleh masyarakat hingga menyebabkan kematian karena terlambatnya penanganan.

"Sebenarnya malaria kalau baru dua hari enggak kenapa-kenapa, tapi kebanyakan penderita enggak sadar. Kalau pun sadar untuk mengecek malaria harus ada pemeriksaan darah, pada tempat terpencil laboratoriumnya tidak bisa ngecek darah. Harus dibawa sampai ke kota, butuh berhari-hari," terang Damas, salah seorang personil Bang Bang. Mulai dari situlah para mahasiswa tingkat III ini membuat MOSES.

Awalnya mereka melakukan studi pendahuluan pada Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Barat. Dari sana mereka menemukan yang paling dibutuhkan lebih ke epidemologi penyakit malaria tersebut. Lalu mereka mencoba menggabungkan ilmu yang mereka dapat dengan literatur yang ada.

"Dalam prosesnya pasti ada kesulitan. Apalagi kami enggak ngerti medical, coba baca literatur saja. Jadi harus bolak-balik ke dokter dan ke dinkes," terang Damas.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Setelah mendapat gambaran apa yang harus dilakukan, Damas dan rekan-rekannya, pada bulan November 2008 mulai membuat sistem tersebut. Setelah melakukan percobaan beberapa kali, akhirnya Big Bang berhasil menemukan formula yang pas.

Dengan menggunakan perangkat lunak Microsoft Technology, akhirnya MOSES pun lahir. Optic glass yang terdapat dikamera menghasilkan gambar yang sama seperti yang terlihat di mikroskop. Gambar itulah yang dikirim ke server yang berada di Rumah Sakit Besar.

Selain menerima, server juga akan mengenali apakah dalam darah tersebut ada penyakit terinfeksi malaria. Hasil akan keluar beberapa menit setelah itu, dengan begitu waktu tidak akan habis terbuang dalam perjalanan.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X