Ayin Huni Rutan Pondok Bambu

Kompas.com - 24/03/2009, 06:07 WIB
Editor

Jakarta, Kompas - Terpidana Artalyta Suryani alias Ayin (45) dalam perkara penyuapan oknum jaksa Urip Tri Gunawan terkait dugaan korupsi Bantuan Likuiditas Bank Indonesia akhirnya menjalani hukuman di Rumah Tahanan Pondok Bambu.

Ayin dijemput oleh KPK, Senin (23/3) siang di Rumah Tahanan Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri. Sekitar satu jam kemudian Ayin keluar dari Bareskrim dan langsung diserbu wartawan yang telah menunggu sejak pagi.

Ditanya komentarnya, Ayin yang berbalut baju atasan berwarna merah muda itu menebar senyum. ”Kan sudah harus menjalani hukuman, di mana tempat saya bisa terima, Mbak. Enggak ada masalah,” ujar Ayin.

Sejak pagi, sejumlah asisten pribadi Ayin sibuk mengangkuti barang-barang Ayin dari Rutan Bareskrim, seperti kasur busa pegas dan tas-tas yang tampak penuh.

Kedatangan Ayin ke Rutan Pondok Bambu yang semula dijadwalkan sekitar pukul 12.00 ternyata molor hingga pukul 17.00. Selain mengurus administrasi di Mabes Polri, rombongan Ayin juga tertahan kondisi lalu lintas yang macet akibat hujan.

Keterlambatan ini membuat wartawan yang sudah menunggu gelisah. Ayin datang dengan mobil miliknya, Toyota Alphard hitam bernomor B-1368-MO. Dua laki-laki yang ada di mobil itu mengeluarkan sebuah lemari plastik empat laci warna coklat, sebuah bungkusan berisi baju, dan sebuah dispenser portabel.

Artalyta, yang dihukum lima tahun penjara, tiba sekitar pukul 17.00, didampingi oleh penasihat hukumnya, Sophian Sitepu, dan jaksa penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi, Sarjono Turin. Mereka menggunakan mobil Toyota Innova warna hitam.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

”Penyerahan Artalyta ke Rutan Pondok Bambu merupakan pelaksanaan amar putusan Mahkamah Agung untuk kasus dia,” kata Sarjono sesaat sebelum mobilnya masuk ke pintu gerbang rutan. Ayin akan menempati Blok A di sel nomor 14 bersama 3 napi lain.

Sementara itu, Sophian mengatakan akan tetap mengajukan peninjauan kembali untuk kasus ini. ”Kami keberatan karena Artalyta tidak merugikan negara,” ujar Sophian. (ARN/SF)



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X