Tan Soe Le, Perintis Pupuk Bekas Cacing Itu Meninggal - Kompas.com

Tan Soe Le, Perintis Pupuk Bekas Cacing Itu Meninggal

Kompas.com - 26/02/2009, 19:54 WIB

YOGYAKARTA, KAMIS — Romo Fransiskus Xaverius Tan Soe Ie SJ (80) , Kamis (26/2) dimakamkan di Makam Girisonta, Ungaran. Pastor yang merintis pupuk kascing atau bekas cacing untuk para petani ini meninggal, Rabu (25/2) dini hari lalu di Rumah Sakit Panti Rapih karena sakit. Romo Tan, begitu biasa disapa, telah menjalani perawatan intensif sejak 4 Februari lalu di RS Rapih, Yogyakarta.

"Beliau meninggal dini hari sekitar pukul 03.00, diindikasi karena penyakit kanker," ungkap Indra Gunawan, Pengurus Harian Yayasan Pangkal Sejahtera, yang dekat dengan Romo Tan, Kamis (26/2) di Yogyakarta. Romo Tan adalah pembina sekaligus pendiri Yayasan Pangkal Sejahtera yang bergerak di bidang pertanian itu.

Menurut Indra, sebelum dirawat di RS Panti Rapih, Rm Tan sempat dirawat di RS Panti Nugroho, Pakem, Sleman, selama tiga hari, pada 2-4 Februari. Indra menuturkan, Rm Tan sebelum meninggal mengaku mengalami keluhan daya penglihatan berkurang. "Sekitar 3-4 tahun lalu Rm Tan juga pernah mengalami gangguan pita suara. Beliau juga pernah menjalani operasi jantung, tetapi itu sudah lama," katanya.

Romo Tan tercatat berkarya terakhir di Gereja Maria Asumpta Pakem sejak tahun 2002. Selain menjadi pastor paroki, sampai akhir hayatnya Romo Tan berkarya di Dusun Ponggol, Hargobinangun, Pakem, yaitu memproduksi dan mengembangkan pupuk kascing yang tidak lain dibuat dari kotoran cacing. Pupuk ini ditujukan bagi peningkatan kesejahteraan petani. Untuk mengelola dan mengembangan pupuk kascing tersebut, Romo Tan sekitar 3,5 tahun lalu mendirikan Yayasan Pangkal Sejahtera.

"Beliau berpesan pupuk kascing itu sangat bermanfaat bagi petani dan diperlukan petani. Karena itu, harus dikembangkan untuk memajukan para petani," kata Indra.  

Romo Tan lahir di Gowongan, Yogyakarta, 16 Desember 1928. Ia masuk novisiat Serikat Jesus (SJ) tahun 1950 dan ditahbiskan sebagai pastor anggota SJ pada tahun 1963. Romo Tan pernah menjadi pamong di Seminari—lembaga pendidikan calon-calon pastor—Mertoyudan, Magelang, 1966-1969. Ia juga pernah menjadi pastor Paroki Baciro, Yogyakarta, tahun 1970-1976, kemudian di Tangerang tahun 1977-1985, hingga berkarya di Dare, Timor Timur, tahun 1985-2002.  

Indra mengungkapkan, Romo Tan berharap Gereja Katolik dan negara lebih memerhatikan petani. Selama ini petani kurang diperhatikan pemerintah. Obsesi Romo Tan adalah meningkatkan kesejahteraan petani kecil.


Editor

Close Ads X