Wah... Kera Ekor Panjang Serbu Bukit Menoreh

Kompas.com - 17/02/2009, 18:44 WIB
Editor

MAGELANG, SELASA — Ratusan kera ekor panjang menyerbu lahan pertanian dan permukiman di dusun-dusun di sekitar Bukit Menoreh di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Selain merusak dan memakan hasil panen di ladang, kera ini juga datang mendekati rumah penduduk dan memakan bahan makanan, seperti gaplek dan jagung, yang dijemur di pekarangan.

"Jika tidak ditunggui, dalam waktu kurang dari satu jam semua tanaman dan makanan yang dijemur langsung habis tidak bersisa," kata Umar, salah seorang warga Desa Ngargogondo, Kecamatan Borobudur, Selasa (17/2).

Kera ekor panjang ini banyak menyerang kawasan lima desa di Bukit Menoreh, yaitu Desa Sambeng, Candirejo, Ngargogondo, Majaksingi, dan Giripurno. Khusus di wilayah Desa Ngargogondo, serangan satwa liar itu sudah merusak dan menghabiskan hasil panen di areal pertanian seluas 10 hektar.

Umar menerangkan, serangan kera ekor panjang ini sudah mulai terjadi sejak tahun 1960-an. Akan tetapi, selama 10 tahun terakhir, jumlah kera yang turun dari bukit makin tak terkendali. "Jika biasanya hanya satu atau dua ekor, sekarang ini dalam satu kali serangan, kami bisa menjumpai 15-20 kera," ujarnya.

Menurut Umar, maraknya serangan kera ekor panjang ini dimungkinkan terjadi karena banyak pohon buah-buahan di Bukit Menoreh, yang semula menjadi sumber penghasil pangan bagi kera, kini sudah sangat tua dan tidak produktif menghasilkan buah. Sebagian pohon bahkan akhirnya ditebangi warga dan tidak diganti dengan tanaman baru.

"Karena tidak ada bahan makanan lagi di hutan, kera-kera itu pun akhirnya turun bukit dan memakan tanaman apa saja yang mereka jumpai," terangnya.

Tiga bulan lalu, Umar menerangkan, ada seorang warga yang sengaja menunggui lahan untuk menangkap kera ekor panjang. Setelah menunggu sekitar tiga hari, dia berhasil menangkap sedikitnya 300 kera.

Muhbakir, salah seorang warga Desa Candirejo, mengaku sudah enggan menanami lahannya—seluas 1,5 hektar—di lereng Menoreh karena terus diserang kera.

"Kalau tetap ditanami, saya sama saja bersiap-siap merugi karena serangan kera ekor panjang biasanya akan membuat seluruh hasil panen milik saya habis tak bersisa," ujarnya.

Surono, salah seorang petani lainnya, mengatakan, kera ekor panjang sangat sulit dibasmi. Kendatipun sudah diberi umpan makanan beracun dan perangkap, hewan itu selalu saja lolos dan tidak terpancing untuk makan atau masuk dalam kurungan yang telah disiapkan.

"Saat ini, upaya yang dapat kami lakukan adalah menembaknya dengan senapan angin atau meledakkan petasan untuk membuat hewan tersebut takut," ujarnya.

Serangan terparah, menurut Surono, biasanya terjadi saat musim kemarau. Karena demikian sedikitnya makanan yang tersedia, hewan itu mau memakan apa saja, termasuk dedaunan dan berbagai jenis hasil panen yang biasanya tidak dimakan, seperti jahe dan cabai.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X