Trans-Kalimantan, Jalan Harapan - Kompas.com

Trans-Kalimantan, Jalan Harapan

Kompas.com - 05/02/2009, 03:58 WIB
 
 

Ahmad Arif dan Haryo Damardono

Dari Simanggaris, kami memulainya. Dari desa terujung di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, yang berbatasan dengan Negara Bagian Sabah, Malaysia, ini perjalanan darat menjelajah Kalimantan dilaksanakan hari Kamis (5/2) ini.

Perjalanan darat sepanjang 3.109 kilometer, atau tiga kali jarak Anyer-Panarukan di Pulau Jawa, ini dijadwalkan berakhir di Desa Sajingan, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, yang berbatasan dengan Negara Bagian Sarawak, Malaysia pada Rabu (18/2).

Perjalanan menembus lintas Kalimantan dari timur ke barat telah menjadi obsesi penjelajah Eropa sejak tahun 1800-an. Mayor Georg Muller dan belasan serdadu Belanda memulai upaya perjalanan itu dengan menyusuri Sungai Mahakam ke arah hulu pada tahun 1825. Dari sana, ia mencoba menembus perbukitan di jantung pulau, dan berencana mencapai pesisir barat Kalimantan dengan melalui Sungai Kapuas. Namun, Muller tak pernah sampai ke tujuan. Muller dan pasukannya hilang tak berbekas di rimba raya Borneo—nama lama Pulau Kalimantan.

Anton W Niewenhuis tercatat sebagai penjelajah Belanda pertama yang berhasil menembus pedalaman pulau ini dari Pontianak ke Samarinda dengan menyusuri Sungai Kapuas ke arah hulu, melintas gigir tebing Pegunungan Muller—diabadikan dari nama Georg Muller—dan menghilir Sungai Mahakam. Perjalanan dokter Belanda pada tahun 1894 itu digambarkan sangat berat seperti tertulis dalam buku Di Pedalaman Borneo (PT Gramedia Pustaka Utama, 1994), edisi terjemahan dari catatan perjalanan Niewenhuis yang legendaris, In Central Borneo.

Perjalanan berat itu ironisnya masih harus dialami oleh warga Kalimantan hingga saat ini. Lebih dari seratus tahun berlalu. Belum ada jalan darat yang bisa menyatukan Kaltim hingga Kalbar. Sekitar 20 tahun lalu, yakni pada 6 Juni 1989, empat gubernur di Kalimantan (Kaltim, Kalsel, Kalteng, dan Kalbar) telah mendesak percepatan pembangunan jalan lintas (trans-Kalimantan) yang menyatukan keempat provinsi ini. Namun, Departemen Pekerjaan Umum baru bisa menjanjikan, jalan itu akan terhubung pada akhir 2009.

”Pada akhir 2009, lintas selatan Kalimantan diharapkan sudah terhubung meski di beberapa titik masih harus menyeberang dengan kapal feri, sedangkan lintas utara dan tengah masih harus menunggu anggaran,” kata Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto saat berkunjung ke Redaksi Kompas, 30 Januari lalu.

Jalan trans-Kalimantan saat ini sebagian masih berupa tanah merah, sebagian berupa aspal berlubang yang sering terendam air, dan masih harus melalui sungai yang belum ada jembatannya.

Menyusuri jalan yang sebagian ruas pada awalnya merupakan jalur logging yang dibuat perusahaan-perusahaan kayu ini selalu dibayangi ketidakpastian, dan harus siap-siap bermalam di jalan.

Ironis

Ketertinggalan infrastruktur jalan di Kalimantan menjadi sisi gelap pulau yang selama puluhan tahun dijadikan daerah ”modal” bagi negara ini untuk menyuplai kayu, permata, emas, batu bara, minyak dan gas bumi, bijih besi, hingga kelapa sawit.

Puluhan tahun kekayaan alam pulau ini dikeruk melalui jalur darat dan yang terutama melalui jalur sungai.

Selain jalur darat yang masih belum terhubung, jalur penerbangan udara pun tak bisa merangkai empat provinsi di satu pulau ini dalam satu rute penerbangan. Dari Pontianak (Kalbar) ke Banjarmasin (Kalsel) atau Palangkaraya (Kalteng) dan Samarinda (Kaltim), kita harus transit dulu ke Jakarta. ”Sebuah penerbangan yang mahal dan tidak efisien,” kata Agustin Teras Narang, Gubernur Kalteng yang juga Koordinator Forum Kerja Sama Revitalisasi dan Percepatan Pembangunan Regional Kalimantan.

Teras Narang juga mengeluhkan tentang kota-kota di Kalimantan yang mengalami krisis listrik. ”Tiap malam, kota-kota besar di Kalimantan gelap karena kekurangan pasokan listrik,” katanya.

Gambaran itu kami temukan di Palangkaraya baru-baru ini. Ibu kota Provinsi Kalteng yang didesain oleh Presiden Soekarno sebagai calon ibu kota Indonesia itu menjelma menjadi kota yang kehilangan gairah begitu malam tiba. Jalanan, pasar, dan lapangan kota pun jadi wilayah ”gagap” karena gelap gulita tiada aliran listrik. ”Di pedalaman kondisinya lebih parah. Masih banyak desa yang belum dialiri listrik,” kata Teras.

Palangkaraya hanya salah satu potret saja. Kekurangan listrik ini hampir merata dialami kota-kota pada empat provinsi di Kalimantan. Inilah ironi nyata tentang ketimpangan pembangunan pusat dan daerah. Padahal, 94 persen produksi batu bara nasional diambil dari tanah Kalimantan. Batu bara Borneo telah menerangi kota-kota di Pulau Jawa hingga Korea, Jepang, dan China.

”Jelajah Kalimantan”, atau perjalanan menyusuri jalan darat Nunukan-Sambas, dilakukan Kompas untuk mengingatkan bangsa ini tentang tanah terlupa, yang diperas sumber daya alamnya, tetapi sangat minim infrastrukturnya. Penjelajahan ini didukung oleh Departemen Pekerjaan Umum yang menurunkan tim dan kendaraan-kendaraan gardan ganda mereka. (FUL/BRO/CAS/WHY)


Editor

Close Ads X