Kasus Malaria di Bangka Belitung Menurun

Kompas.com - 20/11/2008, 23:50 WIB
Editor

PANGKALPINANG, KAMIS - Kasus penyakit malaria di Provinsi Bangka Belitung (Babel) hingga Oktober 2008 sebesar 12,5 per seribu penduduk atau mengalami penurunan dibanding pada 2007 mencapai 37,23 per mil atau per seribu penduduk.
     
"Sejak 2006 hingga 2008 angka kasus malaria terus mengalami penurunan.Pada 2006 terdapat 47,97 kasus,pada 2007 sebesar 37,23 kasus dan sampai Oktober 2008 mampu ditekan hingga angka 12,5 persen," ujar Kasubdin P2PL Dinas Kesehatan Babel,dr Helmi Sofi di Pangkalpinang,Kamis.

Menurut dia, terus menurunnya angka kasus penyakit malaria itu karena sistem pengobatan yaitu diagnosa dini dengan menggunakan konfirmasi labor berjalan cukup efektif.

"Di samping sosialisasi dan penyuluhan terus dilakukan di tengah masyarakat tentang bahaya penyakit malaria,"ujarnya. Menurut dia, tingginya kesadaran masyarakat dan membiasakan budaya hidup sehat dengan membersihkan lingkungan agar tidak menjadi sarang nyamuk sebagai pembawa wabah penyakit malaria, juga sangat menentukan dalam menekan angka kasus penyakit malaria.

"Selain itu, sejak Maret 2008 kami sudah mulai melakukan pendataan atau pendeteksian terhadap penderita malaria dengan sistem Annual Parasite Incidence (API) yaitu pedataan dengan sistem peralatan laboratorium," ujarnya.

Menurut dia, pendataan dengan sistem API lebih cepat dan akurat karena memakai peralatan laboratorium dibanding dengan sistem pendataan yang dilakukan sebelumnya yaitu sistem Annual Malaria Incidence (AMI).

"Mengenai persediaan obat tidak perlu dikhawatirkan karena tersedia dan mudah mendapatkan di sejumlah puskesmas di kabupaten dan kota," ujarnya.

Ia mengimbau kepada masyarakat untuk tidak memakan sembarangan obat  jika belum diketahui secara pasti apakah terserang malaria atau tidak.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Sering ditemukan warga memakan obat anti malaria yang dibeli di sejumlah warung karena mereka memvonis dirinya terserang demam malaria, padahal belum tentu demikan. Untuk itu, segera periksa ke puskesmas untuk memastikannya agar tidak sembarangan memakan obat yang mendatangkan efek bahaya pada dirinya,"ujarnya.

Helmi Sofi mengatakan, ditargetkan pada 2015 daerah itu bebas dari penyakit malaria dan hal itu sejalan  dengan program Pemprov Babel mewujudkan Babel sehat.

"Kasus penyakit malaria sangat rentan terjadi di Babel karena mobilitas penduduknya sangat tinggi sebagai daerah tujuan merantau bagi penduduk asal luar provinsi,"ujarnya.

Dengan tingginya mobilitas penduduk tersebut,kata dia,sangat dimungkinkan darah di dalam tubuh para perantau yang datang ke Babel membawa plasmadium malaria.

"Ketika warga membawa plasmadium malaria digigit nyamuk dan kemudian nyamuk tersebut kembali menggigit warga lainya yang belum terserang penyakit malaria,maka akan menular dengan cepat,"ujarnya.

Menurut dia, kasus seperti ini sering tejadi di Babel sehingga menyebabkan angka kasus malaria tinggi.Namun belakangan mengalami penurunan karena lingkungan pemukiman penduduk mulai bersih dari sarang nyamuk dan penanganan dini secara cepat dan tepat.



25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X