Budaya Panji Perlu Dihidupkan

Kompas.com - 18/11/2008, 19:24 WIB

TRAWAS, SELASA - Pengaruh Budaya Panji dalam sistem pertanian Nusantara yang mengedepankan sistem organik perlu dihidupkan kembali untuk menjamin kemandirian di sektor tersebut. Hal itu mengemuka pada hari pertama pertemuan dan pementasan bertajuk Pasamuan Budaya Panji Internasional ke-2, Selasa (18/11) di di Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup atau PPLH Seloliman dan Candi Jolotundo Udayana, Trawas, Mojokerto.

Salah seorang narasumber pada sesi pertanian ramah lingkungan yang berasaskan Budaya Panji, Agus Bimo, menyebutkan konsep pertanian dalam Budaya Panji adalah soal tantra atau kesuburan. "Jadi bagaimana memperlakukan tanah (lahan) seperti menyayangi istri dan ini hubungannya dengan konservasi alam. Budaya Panji tidak berhenti pada aspek romantika asmara," ujarnya.

Ia menambahkan, pada zaman dahulu konsep pertanian organik berdasarkan kearifan Budaya Panji disebarluaskan dengan mudah lewat dongeng yang diwariskan lewat bahasa tutur. Peran dongeng pada masyarakat pertanian itu terbukti sangat bagus karena memperkenalkan cara-cara mulai dari memilih benih, mengolah lahan, hingga produksi pangan yang didasarkan pada prinsip-prinsip organik.

"Dulu ya saya juga sekadar tahu itu sebagai dongeng saja, ternyata belakangan saya baru tahu dari Lydia (Lydia Kieven, salah seorang pakar seni Jawa kuno asal Cologne, Jerman) bahwa semua itu berintikan Budaya Panji," ujar Agus.


Editor

Close Ads X