Dua Tahun Mengaborsi 10 Perempuan

Kompas.com - 12/11/2008, 10:43 WIB
Editor

SURABAYA, RABU — Seorang dokter yang sedang asyik mengaborsi digerebek polisi. Ia ditangkap ketika menggugurkan janin yang dikandung remaja berusia 15 tahun. Hal itu dilakukan di tempat praktiknya, Jalan Pogot 44, Surabaya. Yang mencengangkan, dokter aborsi itu telah berpraktik selama dua tahun tanpa terendus. Namun, kini dokter bernama Yohanes Anthony Christian (49) alias Tony ini meringkuk di sel tahanan Polwiltabes Surabaya.

Kanit Idik III Polwiltabes Surabaya AKP Leonard Sinambela mengatakan, penangkapan dilakukan setelah polisi menyelidiki sejak lama praktik dokter umum yang menurutnya tidak umum ini.

“Faktanya, dokter itu ternyata melakukan tindakan yang diduga aborsi,” ujar Leonard. Ketika menggerebek, polisi menemukan sebungkus plastik berisi kaki mungil janin dan potongan daging merah yang diperkirakan hasil aborsi. Selain itu, juga kotoran janin berlumuran darah.

Di meja praktiknya juga ditemukan kapas medis, alat tes kehamilan, satu set alat operasi aborsi, obat-obatan untuk kandungan, buku daftar pasien, surat persetujuan tindakan aborsi, dan sejenisnya.

Leonard memastikan bahwa Yohanes memang seorang dokter, tetapi bukan ahli kandungan. Keahlian aborsi yang dipraktikkan ternyata diakui tersangka sebagai hasil belajar secara otodidak.

Temuan itu kemudian mengungkap pengakuan bahwa praktik aborsi telah dilakukan sejak dua tahun silam. Kebanyakan pasien adalah perempuan yang hamil di luar nikah. “Selama 2008 sudah ada sedikitnya10 perempuan yang diaborsi,” tandas Leonard.

Tony terancam terjerat Pasal 348 KUHP jo 349 KUHP serta Pasal 75 Ayat (1) dan Pasal 76 UU RI 29/2004 tentang Praktik Kedokteran.

Selain itu, para perempuan yang menggugurkan kandugannya juga bakal dijerat. Dalam KUHP Pasal 346 disebutkan bahwa hukuman maksimum empat tahun bagi wanita yang sengaja menggugurkan kandungan atau menyuruh orang lain melakukannya.

Seorang yang menggugurkan kandungan wanita dengan seizin wanita dapat dijerat KUHP Pasal 348 dengan hukuman maksimum 5 tahun 6 bulan dan bila wanita itu meninggal, hukuman maksimum 7 tahun.

Selain itu, dokter yang mengaborsi bakal ditambah hukuman sepertiganya dan pencabutan hak pekerjaannya. Sebab, dalam Pasal 80 UU Kesehatan tercantum tenaga medis yang melakukan tindakan medis terhadap ibu hamil yang tidak dalam keadaan darurat untuk menyelamatkan jiwa ibu dan atau janin bisa dipidana penjara maksimal 15 tahun dan denda Rp 500 juta. uca



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Eks TKI Alami Gangguan Jiwa, Hidup dengan 4 Anaknya yang Kurang Gizi, Popok Sampai Berulat

Eks TKI Alami Gangguan Jiwa, Hidup dengan 4 Anaknya yang Kurang Gizi, Popok Sampai Berulat

Regional
Perahu Wisata Terbalik di Bendungan Cikoncang, Banten, 3 Orang Tewas

Perahu Wisata Terbalik di Bendungan Cikoncang, Banten, 3 Orang Tewas

Regional
Oknum Polisi yang Todongkan Pistol ke Pengunjung Saat Ribut di Warung Tuak Diperiksa Propam

Oknum Polisi yang Todongkan Pistol ke Pengunjung Saat Ribut di Warung Tuak Diperiksa Propam

Regional
Perwira Polisi Bawa 16 Kg Sabu, Kapolda: Kita Harap Hakim Beri Hukuman Layak ke Pengkhianat Bangsa Ini

Perwira Polisi Bawa 16 Kg Sabu, Kapolda: Kita Harap Hakim Beri Hukuman Layak ke Pengkhianat Bangsa Ini

Regional
'Fun Bike' Diwarnai Joget, Ada Peserta Tak Bermasker, Polisi: Acara Tak Berizin, Kami Minta Bubarkan Diri

"Fun Bike" Diwarnai Joget, Ada Peserta Tak Bermasker, Polisi: Acara Tak Berizin, Kami Minta Bubarkan Diri

Regional
Adu Jotos di Warung Tuak, Polisi Todongkan Pistol ke Pengunjung, Ini Kronologinya

Adu Jotos di Warung Tuak, Polisi Todongkan Pistol ke Pengunjung, Ini Kronologinya

Regional
Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 24 Oktober 2020

Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 24 Oktober 2020

Regional
UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 25 Oktober 2020

UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 25 Oktober 2020

Regional
Kronologi 2 Satpam Divonis Bersalah atas Kasus Pembunuhan, Gegara Membela Diri Saat Diserang dengan Sajam

Kronologi 2 Satpam Divonis Bersalah atas Kasus Pembunuhan, Gegara Membela Diri Saat Diserang dengan Sajam

Regional
UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 25 Oktober 2020

UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 25 Oktober 2020

Regional
UPDATE Covid-19 di Sulteng, Sultra, Maluku, Malut, Papua, dan Papua Barat 25 Oktober 2020

UPDATE Covid-19 di Sulteng, Sultra, Maluku, Malut, Papua, dan Papua Barat 25 Oktober 2020

Regional
Terlibat Perjudian, Oknum Kades di Grobogan Terancam 10 Tahun Penjara

Terlibat Perjudian, Oknum Kades di Grobogan Terancam 10 Tahun Penjara

Regional
Gerakan 'Rakyat Bantu Rakyat' di Yogyakarta, Siapkan Makanan untuk Buruh Gendong di Masa Pandemi

Gerakan "Rakyat Bantu Rakyat" di Yogyakarta, Siapkan Makanan untuk Buruh Gendong di Masa Pandemi

Regional
UPDATE Covid-19 di Jatim, DIY, Bali, NTT, NTB, Kalbar dan Kalsel 25 Oktober 2020

UPDATE Covid-19 di Jatim, DIY, Bali, NTT, NTB, Kalbar dan Kalsel 25 Oktober 2020

Regional
Dampak Gempa Pangandaran, 15 Rumah di Ciamis dan Garut Rusak

Dampak Gempa Pangandaran, 15 Rumah di Ciamis dan Garut Rusak

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X