JEO - News



Nursaka, 
Bolak-balik Malaysia-Indonesia demi Sekolah

Jumat, 30 November 2018 | 16:10 WIB

Ini perjalanan Nursaka (8), bocah SD yang melintasi perbatasan Indonesia-Malaysia setiap hari demi bersekolah, mulai dari rumahnya di Tebedu, Malaysia, hingga ke sekolah di Entikong, Indonesia, dan kembali ke rumahnya. Nursaka adalah secercah harapan dari perbatasan.

"DUA minggu lalu saya tanya, sepedanya kok enggak dipakai.. Katanya belum bisa (naik sepeda)..." demikian kabar terbaru dari Kepala Sub Seksi Informasi Kantor Imigrasi Entikong, Judi Susilo, tentang Nursaka (8).

Masih terbayang wajah Nursaka yang berseri-seri dan matanya yang berbinar ketika sebuah sepeda yang diidam-idamkannya tiba dua bulan sebelumnya, tepatnya pada hari Jumat, 14 September 2018. Sebuah sepeda gunung dengan warna merah putih bertuliskan hadiah dari Presiden RI Joko Widodo.

Sepeda itu datang ke Entikong dibawa langsung oleh staf istana dari Jakarta beberapa hari setelah keinginan untuk mendapatkan sepeda dari Jokowi diungkapkannya dalam wawancara dengan Radio Republik Indonesia (RRI) Entikong.

Sepeda dari Jokowi merupakan jawaban dari keinginan Nursaka. Namun ternyata keinginannya yang paling dalam adalah bertemu langsung  dengan Jokowi.

"Pak Jokowi, Saka mau ketemu Bapak..." ungkapnya.

Bocah Nursaka seketika tenar setelah videonya yang diunggah di akun Twitter resmi milik Direktorat Jendral Imigrasi @Ditjen_Imigrasi viral di media sosial. Judi ada di belakangnya.

Video berdurasi 1 menit tersebut menceritakan kisah Nursaka yang setiap hari melintasi perbatasan Indonesia dan Malaysia demi bersekolah. Saka, panggilan akrabnya, merupakan warga negara Indonesia yang tinggal di Tebedu, Malaysia, tetapi bersekolah di Entikong, Indonesia.

Setiap hari, dia melewati Pos Lintas Batas Negara (PLBN) dengan menunjukkan Pas Lintas Bantas (PLB) yang dipegangnya. PLB adalah dokumen perjalanan yang dimiliki khusus warga perbatasan.

 

Darsono (53) ayah Nursaka membantu memakaikan pakaian seragam sekolah, Kamis (13/9/2018).

KOMPAS.com/YOHANES KURNIA IRAWAN
Darsono (53) ayah Nursaka membantu memakaikan pakaian seragam sekolah, Kamis (13/9/2018).

Bolak-balik Malaysia-Indonesia

Hari masih gelap. Waktu baru menunjukkan pukul 05.30 waktu Malaysia, atau pukul 04.30 WIB, pada 12 September lalu. Suasana ruangan berukuran 4x3 meter yang semula sunyi menjadi ramai.

“Saka, bangun. Sudah pukul 05.30, Nak,” terdengar suara Darsono (53) membangunkan anaknya.

Tak berselang lama, bocah berpostur gempal yang bernama lengkap Nursaka ini pun bangun.  Dia kemudian minum air putih hangat yang disiapkan oleh ayahnya sebelum membangunkannya tidur.

Setelah minum, Saka kemudian bergegas menuju kamar mandi. Selang beberapa menit kemudian, dia keluar dengan handuk melingkar di pinggangnya. Sang ayah pun menghampirinya dan membantunya memakai seragam sekolah merah putih.

Tepat ketika Saka selesai berpakaian, Julini, sang ibu, terbangun. Sementara itu, adik Saka yang nomor dua, Yoga (5), dan adik bungsunya Nurman (1,5) masih terlelap tidur di kamarnya.

“Buku dan PR nya jangan lupa dibawa ya, Saka,” pesan sang ibu saat melihat Saka yang sudah berpakaian seragam lengkap dengan dasi dan topi merah.

Saka kemudian meraih tasnya dan kembali memeriksa isinya. Semua lengkap. Dia pun kemudian bergegas menuju teras mengenakan sepatu.

Waktu di arloji sudah menunjukkan pukul 05.00 WIB atau pukul 06.00 waktu setempat. Suasana di luar rumah masih sangat gelap. 

Saka kemudian berpamitan kepada ibunya dan menuju sebuah kantin yang terletak di tepi jalan Tebedu, Sarawak, Malaysia, yang berjarak sekitar 200 meter dari tempat tinggalnya. 

Di kantin itu, Saka ditemani sang ayah yang mencarikan tumpangan untuk dia berangkat menuju Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong. Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya yang biasa disapa Babe datang mengendarai mobil sedan proton keluaran lama.

“Saka nanti berangkatnya sama Babe ini ya,” ujar Darsono kepada Saka yang dijawab dengan anggukan. 

Jam dinding kantin menunjukkan pukul 07.00 waktu Malaysia. Pria yang dipanggil Babe tadi kemudian mengajak Saka untuk naik ke mobilnya. Saka pun mengikuti dari belakang.

Perlahan, mobil kemudian berjalan menuju PLBN Entikong. Perjalanan dari rumah Saka menuju PLBN ditempuh kurang dari 10 menit, dengan jarak tempuh sekitar 3 kilometer.

Tiba di PLBN, Saka kemudian turun dari mobil dan berjalan menyeberang melintasi batas Indonesia-Malaysia. Dia kemudian menuju gedung megah buah karya pemerintahan Presiden Jokowi itu dan masuk melalui pintu kedatangan.

Saat tiba di konter pemeriksaan dokumen imigrasi, Saka kemudian mengeluarkan sebuah buku bersampul warna merah kepada petugas Imigrasi untuk di stempel.

Buku merah itu adalah Pas Lintas Batas (PLB) milik ibunya yang turut menyertakan foto Saka beserta kedua adiknya sebagai tanggungan pemilik dokumen tersebut.

Dengan ramah, petugas imigrasi menyambut dan melemparkan senyum kepada Saka. Setelah proses di Imigrasi usai, Saka kemudian menuju ke arah luar gedung. Tepat di pintu masuk, seorang ibu setengah baya mengenakan helm terlihat sudah menunggunya.

Ibu itu adalah ojek langganan yang saban hari menjemput Saka dari PLBN Entikong menuju sekolahnya di Sontas. Begitu juga saat pulang sekolah.

Saka kemudian naik ke atas motor bersama ibu tersebut dan menuju sekolahnya di Sontas, Kecamatan Entikong, dengan biaya Rp 10.000 per hari. Jarak dari PLBN menuju sekolahnya berkisar 4-5 kilometer.

Nursaka (8), bocah SD asal Indonesia yang melintasi perbatasan Indonesia-Malaysia setiap hari demi bersekolah. Dia tinggal bersama keluarganya di di Tebedu, Malaysia, dan berangkat ke sekolah setiap hari di Entikong, Indonesia.
KOMPAS.com/Yohanes Kurnia Irawan
Nursaka (8), bocah SD asal Indonesia yang melintasi perbatasan Indonesia-Malaysia setiap hari demi bersekolah. Dia tinggal bersama keluarganya di di Tebedu, Malaysia, dan berangkat ke sekolah setiap hari di Entikong, Indonesia.

"Saya Indonesia"

Lonceng tanda masuk sekolah berbunyi. Para siswa yang sebelumnya terlihat masih bermain di halaman maupun di kelas, segera menuju lapangan di halaman sekolah.

Waktu sudah menujukkan pukul 07.00 WIB. Saka yang sudah sejak 30 menit lalu tiba di sekolah juga bergegas menuju barisan. Dengan postur tubuh yang gempal, Saka terlihat menonjol dibandingkan rekan-rekannya dalam barisan.

Semangat Nursaka untuk bersekolah sangat tinggi. Meski harus bolak-balik setiap hari dari Tebedu, Sarawak, Malaysia, menuju Sontas di Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, Indonesia, niat untuk bersekolah tak pernah surut.

Nursaka bahkan termasuk siswa dengan prestasi di atas rata-rata, meski tak terlalu menonjol di kelasnya. Saat ini, dia duduk di Kelas 3 SD Negeri 03 Sontas, sekitar 4 kilometer dari Pos Lintas Batas Negara (Entikong). Sehari-hari, Nursaka dinilai aktif dalam kegiatan belajar mengajar. 

“Anaknya pendiam, tapi penurut,” ujar Yakobus Suharno, wali kelas Nursaka, Kamis (13/9/2018).

Nursaka juga tak pernah absen di kelas. Dia selalu masuk sekolah, kecuali sakit atau hujan deras yang menghalangi. Meski demikian, kerap pula dalam keadaan sakit, Nursaka memaksakan diri untuk masuk sekolah, walau akhirnya tertidur di dalam kelas.

Saka juga punya keyakinan kuat untuk memilih mengikuti kemauan orangtuanya bersekolah di Indonesia.

“Karena saya warga Indonesia,” ujarnya.

Terkadang, apabila sedang musim arus mudik atau hari besar lainnya, Saka terlambat datang ke sekolah karena perlintasan ramai dan macet. Saka juga tak pernah lalai dalam mengerjakan pekerjaan rumah.

“Anaknya rajin mengerjakan PR. Dulu pernah saya suruh push-up karena tidak mengerjakan PR, tapi karena badannya yang besar, dia ngos-ngosan dan tidak berani lagi untuk tidak mengerjakan PR-nya,” ungkap Yakobus.

Di sekolah, Nursaka bergembira bermain dengan teman-temannya. Dia ikut berlarian berkejaran ke sana-ke mari. Namun, menurut Yakobus, Nursaka juga tergolong anak yang pendiam dan sedikit penyendiri.

Senada dengan Yakobus, Kepala SD Negeri 03 Sontas, Halijah juga mengungkapkan keseharian Saka di sekolah. Sejak duduk di kelas 1, Saka dikenal sebagai siswa yang baik.

“Pengamatan kami, anaknya tidak terlalu nakal. Prestasi juga bagus, meski tidak terlalu menonjol,” ungkap Halijah.

Nursaka, menurut dia, merupakan satu-satunya siswa yang tinggal di Tebedu. Sebelumnya juga pernah ada, namun sudah cukup lama.

“Dulu biasanya, kalau mereka mau bersekolah di sini (Entikong), biasanya mereka pindah dan tinggal di sini,” ungkap Halijah. 

Saka sendiri mulai bersekolah di Entikong saat masuk TK Kartika. Saat itu, setiap hari secara bergantian ayahnya, Darsono, dan ibunya, Julini, mengantar dan menemani Saka mulai dari berangkat hingga pulang sekolah bolak-balik melintasi perbatasan.

Darsono mengaku, mereka menyekolahkan Saka di Entikong demi kemudahan mendapatkan akses pendidikan seperti warga Indonesia lainnya.

Pasalnya, jika harus menyekolahkan Saka di Tebedu, banyak syarat khusus yang harus dipenuhi. Oleh karena itu, mereka memilih Entikong meski Saka harus bolak-balik setiap hari.

Darsono memiliki harapan besar terhadap putra sulungnya itu. Bagaimanapun kondisinya, dia akan berupaya agar Nursaka tetap bersekolah.

“Kehidupan kami di sini sudah susah, bertani menumpang kebun punya orang. Di Entikong pun kita sudah tidak punya apa-apa lagi. Jadi bagaimana pun saya upayakan Saka harus bisa tetap sekolah di tempat kita sendiri, di Indonesia,” katanya.

Sementara itu, Saka juga punya keyakinan kuat untuk memilih mengikuti kemauan orangtuanya bersekolah di Indonesia.

“Karena saya warga Indonesia,” ujarnya singkat.

arrow-left
arrow-right
Nursaka, bocah SD yang setiap hari seberang batas lintas negara demi sekolah

Nursaka, bocah SD yang setiap hari seberang batas lintas negara demi sekolah

Nursaka (8), bocah SD asal Indonesia yang melintasi perbatasan Indonesia-Malaysia setiap hari demi bersekolah. Dia tinggal bersama keluarganya di di Tebedu, Malaysia, dan berangkat ke sekolah setiap hari di Entikong, Indonesia. Di luar jam sekolah, Nursaka membantu ayahnya mengumpulkan kaleng bekas atau merawat ayam peliharaan.

1/5
Nursaka, bocah SD yang setiap hari seberang batas lintas negara demi sekolah

Nursaka, bocah SD yang setiap hari seberang batas lintas negara demi sekolah

Nursaka (8), bocah SD asal Indonesia yang melintasi perbatasan Indonesia-Malaysia setiap hari demi bersekolah. Dia tinggal bersama keluarganya di di Tebedu, Malaysia, dan berangkat ke sekolah setiap hari di Entikong, Indonesia. Di luar jam sekolah, Nursaka membantu ayahnya mengumpulkan kaleng bekas atau merawat ayam peliharaan.

2/5
Nursaka, bocah SD yang setiap hari seberang batas lintas negara demi sekolah

Nursaka, bocah SD yang setiap hari seberang batas lintas negara demi sekolah

Nursaka (8), bocah SD asal Indonesia yang melintasi perbatasan Indonesia-Malaysia setiap hari demi bersekolah. Dia tinggal bersama keluarganya di di Tebedu, Malaysia, dan berangkat ke sekolah setiap hari di Entikong, Indonesia. Di luar jam sekolah, Nursaka membantu ayahnya mengumpulkan kaleng bekas atau merawat ayam peliharaan.

3/5
Nursaka, bocah SD yang setiap hari seberang batas lintas negara demi sekolah

Nursaka, bocah SD yang setiap hari seberang batas lintas negara demi sekolah

Nursaka (8), bocah SD asal Indonesia yang melintasi perbatasan Indonesia-Malaysia setiap hari demi bersekolah. Dia tinggal bersama keluarganya di di Tebedu, Malaysia, dan berangkat ke sekolah setiap hari di Entikong, Indonesia. Di luar jam sekolah, Nursaka membantu ayahnya mengumpulkan kaleng bekas atau merawat ayam peliharaan.

4/5
Nursaka, bocah SD yang setiap hari seberang batas lintas negara demi sekolah

Nursaka, bocah SD yang setiap hari seberang batas lintas negara demi sekolah

Nursaka (8), bocah SD asal Indonesia yang melintasi perbatasan Indonesia-Malaysia setiap hari demi bersekolah. Dia tinggal bersama keluarganya di di Tebedu, Malaysia, dan berangkat ke sekolah setiap hari di Entikong, Indonesia. Di luar jam sekolah, Nursaka membantu ayahnya mengumpulkan kaleng bekas atau merawat ayam peliharaan.

5/5

 

Kaleng bekas dan nasi sisa

Darsono memboyong istrinya ke Tebedu sejak Nursaka lahir. Sebelumnya, keluarga ini tinggal dan memiliki usaha rumah makan di daerah Entikong. Tempat usahanya itu menumpang di rumah milik saudara Darsono.

Namun, usaha mereka tak berlangsung lama karena bangkrut akibat bon utang dari pelanggan yang membuat perputaran modal usaha menjadi terhambat.

Darsono kemudian memutuskan pindah ke Tebedu menumpang tinggal di rumah adiknya yang memiliki suami warga setempat. Adik Darsono memiliki usaha rumah makan yang dikelola adiknya yang lain.

Rumah yang ditempati Darsono saat ini merupakan rumah deret berbentuk letter L dengan empat pintu. Rumah itu milik adiknya dan disewakan. Letaknya berada persis di belakang bangunan rumah makan. Masing-masing pintu memiliki ukuran yang berbeda.

Rumah yang ditempati Darsono memiliki ukuran sekitar 8x6 meter dengan 4 ruang di dalamnya. Dua ruangan difungsikan sebagai kamar, satu ruangan untuk ruang keluarga, sementara satu ruang lainnya difungsikan untuk dapur dan kamar mandi.

Di situ mereka tidak dikenakan sewa rumah. Mereka hanya perlu membayar tagihan listrik dan air. Di belakang rumah deret itu, terhampar kebun dengan luas sekitar setengah hektar yang menjadi mata pencaharian Darsono sehari-hari.

Tanah itu milik adiknya, yang dia pinjam secara gratis untuk digarap. Aneka tanaman sayuran seperti cabe, terong, kacang, dan sayuran lainnya ada di kebun yang memiliki kontur berbukit itu.

Selain berkebun, Darsono juga memelihara ternak seperti ayam, bebek dan kelinci. Dari hasil menjual hasil kebun itulah, Darsono menghidupi keluarga dan membiayai anaknya sekolah.

Setiap pukul 05.00 sore waktu setempat, Darsono selalu membawa kedua anaknya, Nursaka dan Yoga, untuk mengambil nasi sisa di salah satu rumah makan yang berada sekitar 2 kilometer dari tempat tinggal mereka. Nasi sisa itu digunakan untuk memberi makan hewan ternak yang mereka pelihara.

Di sela mengambil nasi sisa untuk ternak, Darsono mengajak anak-anaknya berkeliling kompleks pertokoan Tebedu, pom bensin, dan perkampungan menggunakan mobil minibus butut keluaran lawas bekas milik adiknya yang dipinjamkan kepadanya.

Mereka lalu singgah di setiap tempat sampah yang ditemui untuk mencari kaleng bekas minuman. Nursaka dan adiknya selalu bersemangat mengumpulkan kaleng-kaleng bekas itu.

Kaleng-kaleng itu nantinya akan dijual ke pengepul yang datang dari Kuching setiap beberapa bulan sekali. Hasilnya ditabung Nursaka di sebuah celengan plastik berbentuk ayam berwarna biru yang dimilikinya sejak kecil.

Aktivitas berkeliling dan mengumpulkan kaleng setiap sore merupakan salah satu upaya Darsono supaya anaknya tidak jenuh di rumah.

“Saya memberi motivasi kepada anak-anak untuk mewujudkan keinginan mereka dengan cara menabung. Misalnya mereka ingin membeli sesuatu, kayak sepeda atau lainnya, saya tanamkan semangat menabung itu. Mereka pun semangat mengumpulkan kaleng-kaleng bekas itu,” ujar Darsono.

Saka merupakan sosok anak yang gemar menabung. Setiap kali mendapatkan uang, entah itu dari hasil menjual kaleng atau diberi oleh orang-orang seperti petugas imigrasi atau polisi yang mencarikannya tumpangan untuk pulang saat di PLBN, uang itu selalu dia tabung.

“Uangnya untuk bantu biaya kuliah kakak. Nanti kalau kakak sudah kerja, bisa gantian biayai saya sekolah,” ujar Saka polos.

Pasalnya, uang yang ditabungnya sejak usia dua tahun dalam celengan, pernah dibongkar dan digunakan sang ayah untuk membantu biaya kuliah kakaknya di Jember.

Tak hanya mencari kaleng, Saka dan adiknya juga selalu ikut membantu sang ayah di kebun belakang rumah mereka. Entah itu hanya sekedar memberi makan ayam, memasukkan ayam ke dalam kandang saat sore tiba, atau memberi makan kelinci dan mengumpulkan telur bebek.

“Setiap hari ya begini ini, kecuali hujan atau mereka sedang sakit,” ungkap Darsono.

Setiap Saka tiba di rumah pulang dari sekolah siang hari, sang ayah selalu menyuruhnya untuk istirahat dan tidur siang.

Untuk mengerjakan PR dari sekolah, biasanya dilakukan Saka di sela menunggu tumpangan mobil di PLBN Entikong atau saat tiba di rumah. Kadang Saka mengerjakan PR pada malam hari ketika kedua adiknya sudah tidur. Saka mengerjakan PR dibantu dan ditemani kedua orangtuanya secara bergantian.

Nursaka (8), bocah SD asal Indonesia yang melintasi perbatasan Indonesia-Malaysia setiap hari demi bersekolah. Dia tinggal bersama keluarganya di di Tebedu, Malaysia, dan berangkat ke sekolah setiap hari di Entikong, Indonesia. Setiap hari, dia harus terus membawa pas batas negara dan melintasi Imigrasi.
KOMPAS.com/Yohanes Kurnia Irawan
Nursaka (8), bocah SD asal Indonesia yang melintasi perbatasan Indonesia-Malaysia setiap hari demi bersekolah. Dia tinggal bersama keluarganya di di Tebedu, Malaysia, dan berangkat ke sekolah setiap hari di Entikong, Indonesia. Setiap hari, dia harus terus membawa pas batas negara dan melintasi Imigrasi.

Seperti anak sendiri

Bagi para petugas Imigrasi yang bertugas di PLBN Entikong, Nursaka sudah dianggap keluarga sendiri.

Keberadaan dan aktivitas Nursaka pun diketahui masyarakat luas berkat video yang dibuat serta unggah Imigrasi Entikong dan viral. Video tersebut diunggah pada 7 September 2018 dan menuai reaksi positif dari warganet maupun masyarakat Indonesia.

Kepala Sub Seksi Informasi Kantor Imigrasi Entikong, Judi Susilo mengungkapkan, ide pembuatan video ini berawal dari rasa semangat nasionalisme Nursaka yang tinggal di Tebedu, Sarawak, Malaysia dan memilih untuk bolak-balik ke perlintasan batas negara untuk bersekolah di Entikong.

Judi mengatakan, meski baru berusia 8 tahun, Saka terdaftar sebagai pelintas batas resmi. Saka memiliki dua dokumen keimigrasian, yaitu buku paspor internasional dengan sampul berwarna hijau dan buku Pas Lintas Batas (PLB) bersampul warna merah milik ibunya yang memuat foto tiga anaknya termasuk Saka sebagai tanggungan.

Khusus PLB, dokumen tersebut hanya bisa dimiliki oleh warga yang tinggal di perbatasan yang sudah ditentukan sesuai kesepakatan bilateral antara Indonesia dan Malaysia melalui kebijakan Sosek Malindo.

Salah satu kebijakan tersebut adalah kemudahan melintas bagi warga yang memegang kartu namun dibatasi jarak tertentu sesuai dengan aturan dan kebijakan masing-masing negara.

“Awalnya dalam video itu, kami mau menyampaikan pesan melalui anak ini bahwa anak ini (Nursaka) paham aturan dan membawa dokumen resmi untuk melintasi perbatasan,” ungkap Judi.

“Anak ini memiliki semangat kuat untuk sekolah, meski harus bolak-balik setiap hari melintasi dua negara,” tambahnya.

Sejak tahun 2016, Saka panggilan akrabnya sudah mulai sering terlihat di pos imigrasi, terutama saat jam pulang sekolah. Dia mulai terlihat melintas antara pukul 06.00 hingga pukul 06.30 WIB setiap paginya ketika akan berangkat menuju sekolahnya.

Awalnya, dulu Saka sering terlihat berada di pos pemeriksaan perlintasan kendaraan dari PLBN Entikong menuju border Tebedu Sarawak. Di pos itu, Saka menunggu jemputan dari ayahnya. Terkadang, Saka menunggu sambil tertidur di pos tersebut apabila sang ayah belum datang menjemputnya.

Saka sering terlihat di pos tersebut pada jam-jam pulang sekolah sekitar pukul 11.00 WIB. Lama-kelamaan, Saka pun mulai dikenal oleh para petugas yang saban hari bertugas di pos tersebut, baik itu petugas imigrasi maupun anggota kepolisian yang bertugas di pos itu.

Hingga akhirnya, sang ayah tak bisa lagi menjemputnya karena sibuk bekerja di kebun. Saka kemudian menumpang kendaraan yang disetop oleh para petugas imigrasi yang semuanya dipanggil "Oom".

Tanggung jawab menitipkan Saka di kendaraan yang benar dan tepat seolah sudah menjadi bagian tersendiri bagi para petugas imigrasi di PLBN Entikong.

Mereka sudah menganggap Saka seperti bagian dari keluarga mereka sendiri, terlebih karena Saka adalah pelintas batas resmi sehingga secara tidak tertulis menjadi tanggung jawab para petugas ini.

Kendaraan yang ditumpangi Saka biasanya milik orang Entikong atau orang tempatan yang sudah dikenal dan biasa melintas. Sehingga para petugas ini memastikan betul, bahwa kendaraan yang akan ditumpangi Saka bisa mengantar Saka pulang ke rumahnya.

“Tidak sembarangan kendaraan yang petugas-petugas di sini untuk dititipi Saka, hanya yang sudah benar-benar dikenal dan tahu tempat tinggal Saka. Terkadang juga ada petugas yang kebetulan akan melintas ke sana, mengantar Saka pulang ke rumahnya,” tambah Judi.

Senada dengan Judi, Penelaah Keimigrasian Kanim Entikong, Valentino Manus, mengungkapkan bahwa Saka awalnya terlihat sering berada di pos lantai keberangkatan (drivethru) kendaraan.

Sembari menunggu kendaraan yang akan ditumpangi, Saka kerap diajak bercanda oleh para petugas imigrasi. Terkadang pula, para petugas ini juga mengajari dan membantunya dalam mengerjakan PR.

Saka, lanjut Valentino, cenderung pendiam. Apabila tak diajak ngobrol atau berinteraksi, Saka biasanya duduk dan diam di pos tersebut hingga tertidur.

“Bapaknya kadang sampai datang menjemput kalau Saka ketiduran di Pos. ‘Ada lihat Saka, enggak’, tanya bapaknya nyariin Saka. ‘Itu di situ lagi tidur’, jawab petugas sambil nunjukkin Saka yang lagi lelap tertidur,” ungkap Valentino.

Saka juga tak jarang ditraktir para petugas ini makan atau minum. Dia juga sering diberi uang sekedar untuk jajan atau ditabung di rumah.

Keberadaan Saka juga kerap membawa kebahagiaan bagi para petugas. Saka kerap diminta menyanyi lagu-lagu nasional atau lagu lainnya dengan imbalan uang jajan.

Saka juga tak pernah lupa mengucapkan terima kasih dalam setiap kesempatan. Apakah itu saat sudah dapat tumpangan kendaraan, atau saat ditraktir dan kasih uang oleh petugas.

“Terima kasih Oom, terima kasih Oom,” kata Valentino menirukan ucapan Saka.

Terkait dengan dokumen perlintasan berupa PLB yang digunakan Saka untuk melintas setiap hari, sesuai dengan standard operational procedure, harus selalu dicap ketika akan melintas.

Namun, merujuk pada kebijakan Sosek Malindo, terkadang satu minggu sekali baru melakukan cap PLB karena dokumen PLB yang dimiliki Saka masih menumpang milik ibunya. 

“Jadi kesehariannya itu, PLB hanya dibawa sesekali sama Saka untuk dicap, mungkin seminggu sekali. Kecuali mereka mau melakukan perjalanan jauh, misalnya ke Serian atau Kuching, harus cap paspor, karena PLB enggak bisa dan tidak berlaku sampai di sana,” ungkap Valentino.

“Dia tidak setiap hari ngecap PLB di border, tapi minimal seminggu sekali itu ada,” tambahnya.

Nursaka saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di ruang kelas 3, SD Negeri 03 Sontas, Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, Kamis (13/9/2018).
KOMPAS.com/Yohanes Kurnia Irawan
Nursaka saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di ruang kelas 3, SD Negeri 03 Sontas, Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, Kamis (13/9/2018).

Ingin jadi dokter gigi

Hari mulai gelap. Saka beserta kedua adiknya baru saja selesai mandi. Setelah berpakaian, Saka kemudian mengambil buku dari dalam tasnya.

Sebuah buku gambar dan pensil berwarna dikeluarkannya dari dalam tas. Saka kemudian berupaya mengingat petunjuk dari gurunya yang memberi PR menggambar di sekolah tadi pagi. Sembari mengernyitkan dahi, Saka kemudian menggoreskan pensil berwarna membuat pola gambar.

Kedua adiknya ingin mengikuti aktivitas abangnya itu. Namun selalu dicegah oleh ibu dan ayahnya.

Malam itu, Rabu (12/9/2018), waktu menunjukkan pukul 19.30 waktu setempat. Julini, sang ibu kemudian menyuruh Saka beserta adiknya untuk makan malam. Saka kemudian membereskan bukunya lalu memasukkannya kembali ke dalam tas. Mereka pun makan bersama saat itu.

Setengah jam kemudian, saat selesai makan malam, Saka kembali mengambil tasnya. Kali ini, Saka akan belajar matematika dipandu oleh ibunya. 

Buku dengan lembaran kotak-kotak kecil dibukanya satu per satu sampai menemukan halaman yang kosong. Tak lama kemudian, sang ibu mulai menyebutkan angka-angka serta pembagi bilangan.

“Delapan belas dibagi dua, dua belas dibagi tiga, sembilan dibagi tiga,” Julini menyebutkan sejumlah angka dengan menggunakan rumus pembagi matematika.

Bocah kelahiran Maret tahun 2010 itu pun menuliskan apa yang diucapkan ibunya. Saat soal sudah diberikan, Saka kemudian satu per satu mengerjakan soal yang diberikan ibunya itu, sementara sang ibu menggendong adiknya yang paling kecil ke halaman rumah.

Sepuluh menit kemudian, Saka keluar membawa bukunya. Sang ibu kemudian mengoreksi satu per satu jawaban yang dituliskan Saka.

Begitulah gambaran aktivitas Saka saat berada di rumahnya pada malam hari. Dengan telaten, baik ibu maupun ayahnya bergantian menemaninya belajar.

“Saka kalau sudah besar mau jadi apa?”

 “Mau jadi dokter,” jawabnya.

 “Jadi dokter apa?”

 “Dokter gigi. Supaya kalau orang sakit gigi, giginya dicabut. Kan kalau sakit gigi, mau makan kan susah,” jawabnya polos.

Keinginan Saka untuk menjadi dokter, menurut sang ibu, berawal ketika Saka pernah menjalani perawatan di rumah sakit. Saat itu, dia memperhatikan secara detail aktivitas para dokter maupun perawat yang merawatnya. 

“Supaya bisa jadi dokter, Saka harus belajar yang giat,” ucap Saka saat ditanya upayanya untuk mewujudkan cita-citanya itu.

Saka juga sosok yang gemar menabung. Setiap mendapatkan uang, dia selalu memasukkan uang itu ke dalam celengan.

 “Untuk biaya sekolah nanti,” ujar Saka polos.

Darsono bercerita bahwa anaknya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Saat sang ayah sedang mencangkul di kebun, misalnya.

“Dia tanya, kenapa dicangkul. Habis dicangkul diapakan lagi, begitu seterusnya sampai rasa penasarannya terjawab,” ucap Darsono.

Sang ayah menaruh harapan yang sangat besar terhadap anaknya itu. Paling tidak seperti nama yang diberikannya untuk putra sulungnya, Nursaka. Nur artinya cahaya dan Saka berarti bersinar atau tonggak, selain karena dia lahir bertepatan dengan Tahun Baru Saka.

Nursaka (8) menunjukkan buku Pas Lintas Batas (PLB) usai melintas di PLBN Entikong saat hendak menuju sekolahnya, Kamis (13/9/2018). Nursaka adalah bocah SD asal Indonesia yang melintasi perbatasan Indonesia-Malaysia setiap hari demi bersekolah. Dia tinggal bersama keluarganya di di Tebedu, Malaysia, dan berangkat ke sekolah setiap hari di Entikong, Indonesia.
KOMPAS.com/Yohanes Kurnia Irawan
Nursaka (8) menunjukkan buku Pas Lintas Batas (PLB) usai melintas di PLBN Entikong saat hendak menuju sekolahnya, Kamis (13/9/2018). Nursaka adalah bocah SD asal Indonesia yang melintasi perbatasan Indonesia-Malaysia setiap hari demi bersekolah. Dia tinggal bersama keluarganya di di Tebedu, Malaysia, dan berangkat ke sekolah setiap hari di Entikong, Indonesia.

Pulang ke Tanah Air

“Kalau kamu mau jadi orang, kamu harus belajar yang rajin, jangan malas, harus sekolah, supaya enggak seperti bapakmu ini...”

Kalimat itu terlontar dari Darsono, pria kelahiran Banyuwangi tahun 1965, saat menasehati putra pertamanya, Nursaka, sore itu. Dialah yang selalu memberi motivasi kepada sang anak untuk meraih cita-cita di masa mendatang.

“Saya ingin Saka kelak bisa menjadi orang, entah itu pegawai negeri, biar gak seperti bapaknya yang petani menumpang di tempat orang,” ucap Darsono, Rabu malam saat Kompas.com menginap di rumahnya.

Bagi Darsono, masa depan ada di tangan anak-anaknya sehingga dia selalu bertekad bagaimana pun caranya, Nursaka harus tetap bersekolah.

Darsono pun bermimpi suatu saat bisa kembali ke Tanah Air. Pasalnya, sejumlah rintangan kerap mereka hadapi ketika di Malaysia. Setiap akhir tahun, keluarga ini selalu was-was apabila ada razia gabungan.

Kadang rumah mereka dikepung dan anak-anak ketakutan. Namun selalu lolos karena dokumen keimigrasian mereka lengkap dan ada keluarga penjamin untuk mereka tinggal di sana.

“Rumah diserbu, dikepung kayak tapal kuda, anak-anak ketakutan. Sudah sering, setiap tahun selalu ada,” ujarnya.

Seumpama modal usaha sudah terkumpul, Darsono ingin segera kembali tinggal di Indonesia dan membuka usaha sembako atau penyedia bahan material bangunan yang bisa dikelola bersama istrinya.

“Yang penting ada usaha, supaya istri saya ada aktivitas, saya juga bisa cari tumpangan lahan kebun punya orang untuk dikerjakan,” pungkasnya.

 

Walaupun banyak negeri kujalani
yang mahsyur permai di kata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah ku rasa senang
Tanah ku tak kulupakan
Engkau kubanggakan...

(Tanah Airku - Ibu Sud)