Salin Artikel

Mengenal Lebaran Mandura di Palu, Tradisi Unik untuk Mempererat Tali Persaudaraan

Kebiasaan yang telah menjadi tradisi itu adalah Lebaran Mandura, yang dirayakan oleh mayoritas masyarakat adat Kaili (suku asli Palu) yang tinggal di Kampung Baru.

Tradisi itu dirangkaikan dengan pawai mandura – makanan khas yang disajikan masyarakat setempat saat momen Lebaran – serta pawai obor yang menjadi tradisi khas masyarakat Palu, khususnya warga Kampung Baru.

Kegiatan yang syarat aksi religi tersebut dimulai sepekan setelah 1 Syawal atau seminggu usai perayaan Idulfitri 1445 Hijriah yang jatuh pada 10 April silam.

Ketua Adat Kampung Baru, Husein Hi Moh Saleh, menuturkan Lebaran Mandura yang digelar pada Selasa (16/04) ini untuk mempererat tali persaudaraan dan menjadi simbol kemenangan warga setelah puasa Syawal – yang utamanya dilaksanakan selama enam hari setelah Idulfitri secara berturut-turut.

“Lebaran ini sebagai perayaan kemenangan dan untuk mempererat tali persaudaraan di Kampung Baru seusai menjalankan puasa sebulan penuh dan dilanjutkan puasa Syawal enam hari,” ujar Husein kepada wartawan M Taufan yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Selasa (16/04).

Husein mengatakan, Lebaran Mandura sudah sembilan kali digelar di Kampung Baru. Awalnya, tradisi ini dimulai pada 2015 dan terus berlanjut sampai saat ini.

“Perayaan lebaran ini ditandai dengan pawai mandura keliling kota di sore hari menjelang buka puasa Syawal dan pawai obor di malam hari seusai salat Isya,” ungkapnya.

Pengamat Kebudayaan Sulteng, Amin Abdullah, menilai, Lebaran Mandura adalah festival yang telah membudaya di Kampung Baru.

Semangat pelaksanaan Lebaran Mandura, menurut Amin, tumbuh dari masyarakat lokal yang konsisten menjaga dan menggelar tradisi ini tiap tahun.

“Lebaran Mandura beda dengan festival pada umumnya, karena berlangsung berdasarkan kearifan lokal yang sudah ada sejak zaman dulu,” kata Amin kepada BBC Indonesia di Palu, Kamis (18/4/2024).

Bermula dari makanan tradisional masyarakat adat asli Palu, lanjut Amin, mandura menjadi simbol untuk mempererat tali persaudaraan melalui kearifan lokal.

“Karena kebiasaan orang Kaili di setiap hari-hari besar keagamaan pasti mengkonsumsi mandura. Setelahnya menyucikan diri dengan bermaaf-maafan,” ungkap Amin.

Mandura juga menjadi salah satu bekal warga ketika berangkat melaksanakan ibadah haji ke Mekah di Arab Saudi, menurut Husein.

“[Tradisi itu] terus berjalan, mandura kemudian menjadi makanan yang juga wajib disajikan pada setiap Idulfitri dan Iduladha,” ujarnya kemudian.

Husein kemudian menjelaskan bahwa makanan khas Lebaran itu terbuat dari tiga jenis beras ketan yang dibungkus daun pisang. Masing-masing warna memiliki makna tersembunyi di baliknya.

Warna merah berarti berani menegakkan kebenaran dan mampu mengakui kesalahan. Pada momen Idulfitri, warna ini diartikan untuk saling merangkul serta saling memaafkan.

Warna putih berarti suci bersih, hati merasa ikhlas, sehingga apapun kesalahan secara ikhlas akan saling memaafkan.

Kemudian, warna hitam sebagai simbol keadilan dan kejujuran. Pun, kata “mandura” memiliki makna filosofi tersendiri, kata Husein.

Kata itu merupakan akronim dari tiga suku kata, yakni “man”, “du” dan “ra”. Man artinya manusia, Du artinya dunia serta Ra artinya fitra.

“Oleh karena itu makna mandura merupakan manusia yang kembali ke fitrah setelah sebulan penuh berpuasa,” imbuhnya.

Ketua Panitia Lebaran Mandura, Akbar S H, mengungkapkan bahwa Lebaran Mandura serupa dengan Lebaran Ketupat yang dirayakan oleh masyarakat di berbagai daerah di Indonesia.

Akbar menjelaskan perayaan Lebaran Mandura digelar selama tiga hari, yakni sejak Selasa (16/04) hingga Kamis (18/04).

Rangkaian acara Lebaran Mandura dimulai sejak Selasa (16/04) sore dengan pawai mandura keliling kota. Satu unit mobil pick-up khusus berisikan mandura yang dibuat khusus dan ditata rapi berbentuk piramida, serta dihiasi berbagai bentuk pernak-pernik.

Tampak puluhan warga baik pengendara kendaraan roda dua dan roda empat mengikuti pawai tersebut.

Lepas salat Isya, pawai obor dengan berjalan kaki menggotong mandura dilaksanakan. Mandura lantas diarak ke lokasi acara, tempat di mana warga telah menunggu.

Pada puncak acara, warga kemudian berebut mandura.

“Rebutan mandura sudah kebiasaan warga di Kampung Baru. Di situ puncak acaranya dan tahun ini disiapkan sekitar 300-an mandura,” jelas Akbar.

Tahun ini, menurut Akbar, tak hanya warga Kampung Baru yang mengikuti perayaan Lebaran Mandura, tapi juga warga Palu pada umumnya.

“Ini sebenarnya hanya acara anak Kampung Baru. Tapi seiring berjalannya waktu, kami berharap Lebaran Mandura bisa dikenal secara luas,” jelas Akbar.

Agar tradisi ini makin dikenal luas, penyelenggara menggabungkan perayaan Lebaran Mandur dengan napa yang dikenal sebagai Kampung Baru Fair.

Selama pelaksanaan Kampung Baru Fair, berbagai kegiatan yang kental dengan nilai religi digelar, seperti pertunjukan musik marawis, tarian zapin, dan penampilan aksi religi lainnya yang digelar pada hari pertama.

Sementara pada hari ketiga, Kampung Baru Fair memberi ruang bagi pengusaha kecil menengah dan warga untuk menjajakan produknya. Salah satunya adalah Fatma Anis Lamura, warga Kampung Baru yang menjajakan mandura.

Fatma menjelaskan bahwa proses pembuatan mandura cukup mudah. Setelah dicuci bersih, beras ketan itu kemudian dimasak dengan campuran santan kelapa.

“Untuk waktu masaknya itu tergantung banyaknya mandura. Kalau banyak bisa sampai delapan jam dimasak, kalau sedikit paling lima jam,” aku Fatma

Tahun ini, Fatma hanya memproduksi mandura sebanyak 25 ikat yang dibuat dari enam liter beras ketan. Dia mematok harga Rp30 ribu per biji yang berisi lima mandura.

“Mandura bisa dimakan dengan berbagai lauk, seperti opor ayam, olahan daging sapi, dan ikan,” jelas Fatma.

Lebaran Mandura yang dirangkaikan dengan Kampung Baru Fair menjadi salah satu tempat hiburan warga. Seperti yang diakui Nur Hayati.

Menurutnya, selain menyediakan pelbagai macam kuliner, Lebaran Mandura dan Kampung Baru Fair juga menampilkan pertunjukkan musik yang bisa disaksikan secara gratis.

“Habis lebaran seperti sekarang masyarakat kan butuh hiburan, dengan adanya Lebaran Mandura dan Kampung Baru Fair ini bisa menjadi hiburan, apa lagi lokasinya dalam kota dan gratis. Makanya saya datang bersama keluarga,” ungkap Nur.

Warga lainnya, Rahmat Basri mengaku, Lebaran Mandura adalah kegiatan yang selalu dirindukannya seusai Idul Fitri.

“Saya dari tiga tahun lalu selalu ikut acara ini. Selain saya dapat pengetahuan tentang budaya di sini, juga dapat hiburan dari artis-artis yang hadir,” paparnya.

Rahmat menyebutkan, setiap tahun Lebaran Mandura dan Kampung Baru Fair mempertunjukkan hiburan yang berbeda. Hal itu menjadi daya tarik warga sehingga mau berkunjung.

“Tahun ini tidak kalah meriah, karena pas di acara urban ada penampilan artis ibu kota, yakni Gilang Ramadan. Kebetulan saya hobi musik, jadi senang sekali dengan acara ini,” imbuhnya.

Wakil Wali Kota Palu, Reny A Lamadjido menyebutkan, perayaan tradisi Lebaran Mandura telah menjadi perhatian pemerintah Palu sejak sembilan tahun lalu, kali pertama tradisi ini digelar.

“Kami sangat mendukung kegiatan seperti ini, karena kita bisa lihat UMKM juga diberdayakan sehingga bisa berkembang dengan baik. Di samping perkenalan tradisi,” kata Reny.

Adapun, pemerintah Palu juga sudah menjadikan Lebaran Mandura sebagai kegiatan rutin tahunan.

Wartawan di Palu, M Taufan, berkontribusi untuk liputan ini.

https://regional.kompas.com/read/2024/04/20/161700278/mengenal-lebaran-mandura-di-palu-tradisi-unik-untuk-mempererat-tali

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke