Salin Artikel

Kisah Sedih Bus Perintis Angkutan Pedesaan di Soloraya: Hidup Segan Mati Pun Tak Mau

Namun, semua itu kini tinggal kenangan. Bus perintis angkutan pedesaan di Soloraya, Jawa Tengah itu hanya menyisakan empat unit yang beroperasi.

Tidak hanya Karunia Mulya. Elegi ini juga terjadi pada sejumlah perusahaan otobus (PO) yang merintis angkutan pedesaan di Soloraya.

Bus Damar Sasongko jurusan Solo-Sukoharjo, Sunar Adi jurusan Solo-Sukoharjo, Taqwa Solo-Karanggede dan lain-lain juga mengalami nasib sama.

"Sekarang yang masih beroperasi masuk terminal ada Damar Sasongko, Karunia Mulya, dan Taqwa," kata Kepala Urusan (Kaur) Lalu Lintas Terminal Tipe A Tirtonadi Solo, Sunardi.

Ditemui Kompas.com Selasa (5/7/2022), penurunan angkutan perintis di pedesaan Soloraya sudah terjadi sejak lama.

Sepinya penumpang ditengarai menjadi salah satu penyebabnya. Kondisi ini diperparah dengan munculnya wabah Covid-19.

Alih-alih melakukan peremajaan, justru banyak perusahaan otobus (PO) bus perintis yang mengurangi jumlah armadanya.

"Dengan tergerusnya zaman sekarang untuk PO-PO sendiri sudah tidak bisa bergerak ataupun melakukan peremajaan," kata Sunardi.

Menurutnya, menurunnya jumlah penumpang bus perintis dikarenakan masyarakan saat ini lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi.

Sehingga, sudah sedikit masyarakat yang menggunakan angkutan pedesaan sebagai transportasi utama dalam kebutuhan sehari-hari.

"Sebetulnya penumpang ada. Tapi tidak seperti dulu. Sekarang banyak warga yang menggunakan sepeda motor ke sana ke mari," kata Sunardi.

Dikatakan Sunardi, para sopir dan kernet bus perintis pedesaan memilih tetap bertahan melakoni pekerjaan tersebut karena demi mencukupi kebutuhan keluarga.

Sementara mereka tidak memiliki pekerjaan lain selain mengoperasikan bus-bus tersebut.

Meski tetap beroperasi, para sopir dan kernet bus perintis pedesaan harus pandai membagi antara uang setoran juragan atau pemilik bus dengan operasional.

"Sementara ini hanya untuk mempertahankan karyawan yang sudah jalan di situ. Biar mereka punya pekerjaan karena menyangkut kehidupan keluarganya," ungkap dia.

"Kalau saya mengatakan PO-PO itu sekarang itu hidup segan mati pun tak mau. Jadi seperti Surya Jaya tidak jalan, Atmo sekarang tidak jalan (digantikan pariwisata), Sunar Adi, dan Setyorini tidak jalan," sambung dia.

Seorang kernet bus Karunia Mulya, Muhsin (51) mengatakan, penurunan jumlah penumpang dan pengurangan armada sudah terjadi sejak sebelum pandemi Covid-19.

Biasanya penumpang bus paling banyak dari karyawan pabrik. Karena banyak karyawan yang menggunakan sepeda motor sendiri sehingga jumlah penumpang menurun.

"Ditambah pandemi semakin parah. Dulu armadanya sampai 13 unit bus. Sekarang yang jalan tinggal empat unit," kata dia.

Dia menambahkan setiap hari bus beroperasi dari pagi hingga sore. Jarak tunggu antara bus satu dengan lainnya cukup lama sekitar 1,5 jam karena hanya empat bus yang berjalan.

Terakhir berangkat dari Terminal Tirtonadi menuju ke Batu Jamus sekitar pukul 15.45 WIB. Dahulu bus terakhir berangkat dari terminal sekitar pukul 17.30 WIB.

"Sebenarnya ada jam ke Jamus karena perhitungan saya rugi tenaga, solar kan tidak ada. Biaya untuk menutup operasional dan solar itu tidak ada. Jadi mendingan saya istirahat dilanjutkan sore," ungkap dia.

"Sekarang penumpangnya berkurang. Apalagi ini masa panen lebih parah lagi penumpangnya. Banyak pedagang kasur yang libur," sambung dia.

Dikatakan dia sistem zonasi PPDB online juga menjadi pengaruh dalam penurunan penumpang.

"Dulu banyak banyak anak-anak sekolah ke Solo. Sekarang tidak ada. Dulu kita mengantar anak sekolah sama pedagang dan karyawan. Sekarang banyak karyawan naik sepeda motor sendiri dan ada yang dijemput dari pabrik," kata dia.

https://regional.kompas.com/read/2022/07/05/210630478/kisah-sedih-bus-perintis-angkutan-pedesaan-di-soloraya-hidup-segan-mati-pun

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke