Salin Artikel

7 Fakta Enrekang, dari Julukan Kota Danke hingga Penghasil Kopi Arabika yang Kualitasnya Mendunia

KOMPAS.com - Kabupaten Enrekang adalah salah wilayah di Provinsi Sulawesi Selatan.

Ibukota kabupaten ini berada di Kota Enrekang yang berjarak sekitar 236 kilometer sebelah utara Kota Makassar.

Kabupaten Enrekang memiliki luas 1.786,01 kilometer persegi dan terbagi dalam 12 kecamatan.

Adapun kabupaten Enrekang berbatasan dengan Kabupaten Tana Toraja di sebelah utara, Kabupaten Luwu di sebelah selatan, Kabupaten Sidrap di sebelah timur, dan Kabupaten Pinrang di sebelah barat.

Enrekang tak hanya dilimpahi dengan keindahan alam, namun juga menyimpan berbagai fakta unik yang membuat daerah ini menjadi istimewa

Simak dulu beberapa fakta menarik Enrekang pada ulasan berikut ini.

Enrekang merupakan satu-satunya wilayah di Sulawesi Selatan yang menjadi penghasil danke.

Danke merupakan produk keju lokal dari bahan dasar susu kerbau atau sapi yang diolah secara tradisional.

Proses penggumpalan susu atau pembentukan curd menggunakan enzim dari daun dan buah pepaya yang membuat susu menjadi padat dan memisahkan kandungan protein dengan air.

Hasil penggumpalan ini kemudian dimasak lalu dicetak dalam tempurung kelapa yang dibelah menjadi dua.

Tekstur danke menyerupai tahu dengan warna putih kekuningan dan rasa gurih beraroma keju parmesan.

Cara menikmatinya adalah dengan dimakan bersama beras ketan wangi yang bernama Pulu' Mandoti yang juga hanya tumbuh di tempat tersebut.

Melansir laman resmi Pemprov Sulawesi Selatan, menurut pengembangan wilayahnya Enrekang dibagi kedalam dua kawasan yaitu Kawasan Barat Enrekang (KBE) dan Kawasan Timur Enrekang (KTE).

KBE meliputi Kecamatan Alla, Kecamatan Anggeraja, Kecamatan Enrekang dan Kecamatan Cendana, dengan total luas sekitar 659,03 kilometer persegi atau meliputi 36,90 persen dari wilayah Kabupaten Enrekang

Sementara KTE meliputi Kecamatan Curio, Kecamatan Malua, Kecamatan Baraka, Kecamatan Bungin dan Kecamatan Maiwa, dengan total luas sekitar 1.126,98 kilometer persegi atau 63,10 persen dari wilayah Kabupaten Enrekang.

Wilayah KBE menjadi pusat kegiatan perdagangan dan industri, sementara wilayah KTE memiliki potensi pertanian tanaman pangan dan hortikultura serta tanaman perkebunan dan kehutanan.

3. Suku Massenrempulu

Kebudayaan Enrekang yang khas dikenal dengan sebutan Massenrempulu yang berada diantara kebudayaan yaitu Bugis, Mandar dan Tana Toraja.

Ciri khas daerah budaya Massenrempulu yang secara garis besar terbagi atas 3 bahasa dari 3 rumpun etnik yang berbeda, yaitu bahasa Duri, Enrekang dan Maiwa.

Ada baju adat khas Massenrempulu dan tarian khas Massenrempulu yaitu tarian mabendu dangke, tari mabindu deppa tetakan, tari panen pulu mandoti.

Kondisi ini membuat Dinas Kebudayaan Enrekang pada 2019 berupaya agar suku Massenrempulu mendapat pengakuan nasional sehingga ada keterwakilan dari sisi sosial budaya.

Diantara antara Kota Enrekang dan Tana Toraja terhampar pemandangan indah sebuah bukit bernama Bukit Nona.

Warga setempat menyebut bukit ini dengan nama Buttu Kabobong bermakna sesuatu yang seharusnya disembunyikan.

Sesuai namanya, bukit ini memang memiliki bentuk khas yang disebut mirip dengan alat kelamin wanita.

Lekuk indah perbukitan ini merupakan hasil dari pengangkatan dasar laut akibat tumbukan lempeng benua.

Sisi jalan sepanjang bukit terdapat warung-warung tempat pengunjung berhenti sejenak untuk makan, berbelanja buah-buahan, atau berfoto dengan latar panorama Bukit Nona.

Saat berkunjung ke Kabupaten Enrekang, jangan lupa berkunjung ke Air terjun Lagandang di Dusun Benteng Banua, Desa Bambapuang, Kecamatan Anggeraja.

Air terjun ini berjarak sekitar 15 kilometer dari Kota Enrekang atau 245 kilometer dari pusat Kota Makassar.

Air terjun Lagandang memiliki ketinggian sekitar 40 meter, dengan kolam peandian sedalam tiga hingga empat meter.

Segarnya air terjun yang berasal dari alira sungai pegunungan Bambapuang ini akan menggoda siapapun yang datang kesana.

Apalagi kolam di bawahnya berwarna hijau kebiruan yang jernih alami karena memang belum banyak terjamah oleh manusia.

6. Panorama Desa Wisata Mendatte

Melansir laman jadesta.kemenparekraf.go.id, Desa Mendatte terletak di lembah berjuluk "Suruganna Bambapuang" karena diapit oleh gugusan pegunungan Bambapuang dan di sebelah barat dan Gunung Nona di sebelah timur.

Desa Mendatte berlokasi di Kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang dan terletak di pinggiran jalan poros/trans provinsi Enrekang-Makale.

Selain potensi di sektor agrowisata dan Taman Wisata Alam Butlas, keindahan alam Desa Mendatte juga didukung dengan adanya Sungai Mata Allo, dan Bunker Jepang yang bisa menarik wisatawan.

Kopi arabika hasil alam Kabupaten Enrekang sudah bisa menembus pasar internasional sejak beberapa tahun terakhir.

Kopi Enrekang telah diekspor ke berbagai negara seperti Korea Selatan, Australia, dan Norwegia.

Baru-baru ini, kopi kalosi Enrekang juga dipamerkan di Paviliun Indonesia dalam gelaran Expo 2020 Dubai.

Kopi kalosi enrekang telah dimodifikasi dalam bentuk kopi drip bags sebagai bagian dari upaya melestarikan potensi kopi lokal.

Sumber:
sulselprov.go.id 
jadesta.kemenparekraf.go.id 
pertanian.go.id 
antaranews.com 
makassar.tribunnews.com 
travel.kompas.com 

https://regional.kompas.com/read/2022/02/21/220735878/7-fakta-enrekang-dari-julukan-kota-danke-hingga-penghasil-kopi-arabika-yang

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke