NEWS
Salin Artikel

2 Kali Lebaran Tak Bisa ke Malaysia, Anak TKI di Ponpes Sebatik Hanya Bisa Lepas Rindu Lewat Ponsel

Selama itu pula, mereka harus rela berlebaran di asrama, melewatkan perjumpaan dengan keluarga yang biasanya hanya terjadi setahun sekali karena jarak memisahkan mereka demi menuntut ilmu.

Perjumpaan, hanya bisa dilakukan melalui komunikasi ponsel, itu pun dengan waktu yang dibatasi dan dalam pengawasan.

"Kecuali untuk belajar daring, Hp harus dikumpul di pengasuh pondok. Aturan di pondok sangat ketat karena kita semua tahu kalau tidak bijak menggunakan Hp, maka anak anak akan terjerumus pada perbuatan sia-sia," ujar Pengasuh Ponpes Mutiara Bangsa Sebatik Ustadz Abu Ubaidah saat dihubungi, Rabu (28/4/2021).

Ponpes Mutiara Bangsa memang memiliki aturan ketat terhadap pemakaian ponsel.

Pengasuh hanya akan membagikan ponsel para santri ketika belajar daring dan akan mengumpulkannya kembali saat jam belajar selesai.

Di Ponpes yang berdiri sekitar tahun 2009 ini, ada lebih dari 100 anak anak TKI usia SMP dan SMK. Orangtua mereka menjadi buruh perkebunan kelapa sawit di Malaysia.

Hanya impian mengubah nasib dan tekad kuat ingin meningkatkan derajat orangtua sajalah yang menjadikan mereka rela untuk menahan rindu.

Untuk berkomunikasi dengan keluarga, biasanya dilakukan para santri di hari libur.

Jam pemakaian ponsel juga dibatasi dari pukul 08.00 hingga pukul 15.00 wita.

"Itu demi kebaikan mereka. Jadi barang siapa tidak mau merasakan pahitnya menuntut ilmu yang hanya sesaat, dia tidak akan merasakan buah dari usahanya," imbuh Abu Ubaidah.


Bebas pakai ponsel saat lebaran

Meski memiliki aturan ketat dalam penggunaan ponsel, adakalanya para santri memiliki waktu penuh untuk memegang gawai tersebut yaitu saat hari raya Idul Fitri.

Pada hari besar itu, Ponpes memberi dispensasi bagi para santri untuk menguasai penuh ponselnya.

Namun demikian, para senior tetap akan mengawasi para santri junior dalam pemakaian ponsel.

"Saat itulah kalau mau melihat bagaimana ekspresi mereka melepas kangen dengan orang tuanya. Mereka menyebar di pojok pojok asrama, di balik balik pintu. Semua seakan dikomando, menangis sesenggukan saat video call dengan keluarga mereka," katanya lagi.

Abu Ubaidah mengatakan, mental santri ditempa dengan ketabahan dan dasar ilmu agama yang mumpuni.

Air mata kerinduan yang mereka tumpahkan harus menjadi semangat dan pengingat bahwa mereka jauh dari orangtua untuk menjadi sukses.

Untuk memiliki bekal mengubah nasibnya kelak di kemudian hari.

Sekelumit cerita dan penganan Ramadhan ala Ponpes Mutiara Bangsa

Abu Ubaidah menuturkan, mayoritas anak TKI dibesarkan di tengah perkebunan sawit Tawau Malaysia dan selalu berkutat dengan pekerjaan kasar.

Mereka makan seadanya dan menghabiskan waktu memungut buah kelapa sawit.

Pengalaman itu menjadikan ikatan demikian kuat saat melihat betapa susahnya orang tua mengasuh dan membesarkan mereka.

Pernah suatu ketika, ada santri yang nekat masuk Malaysia melewati jalur ilegal karena tak kuat menahan rindu.


Meski bisa lolos sampai rumah dan sempat menumpahkan kerinduan dengan keluarganya, ia dilaporkan tetangganya dan dijemput aparat.

"Akhirnya dia dibawa polis dan dipenjara selama enam bulan. Begitu dideportasi lewat Pelabuhan Tunon Taka Nunukan, kami ambil dia. Kami suruh dia tinggal di asrama dan sekaligus menjadi pelajaran buat santri lainnya untuk tidak mencoba hal yang sama," tuturnya.

Untuk mengobati kerinduan para santri, Ponpes Mutiara Bangsa selalu menjadikan kebersamaan pada Idul Fitri sebuah momen istimewa.

Juru masak menyajikan makanan yang bisa menjadi santapan kala lebaran.

Buras, ayam lengkuas, ayam kecap dan kue kering sampai tapai ketan, selalu menjadi hidangan istimewa dan paling dinantikan anak-anak TKI.

"Memang tidak bisa mengganti berharganya waktu mereka bersama orang tua kandung. Tapi jalinan erat persahabatan dalam sebuah halaqah, makan berjemaah bagi santri yang senasib, bisa sedikit mengalihkan rasa rindu pada keluarga," katanya.

https://regional.kompas.com/read/2021/04/28/134327078/2-kali-lebaran-tak-bisa-ke-malaysia-anak-tki-di-ponpes-sebatik-hanya-bisa

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Peduli Warga Terdampak Pandemi di Salatiga, Partai Golkar Gelar Baksos dan Pengobatan Gratis

Peduli Warga Terdampak Pandemi di Salatiga, Partai Golkar Gelar Baksos dan Pengobatan Gratis

Regional
Turunkan Angka Kemiskinan di Jateng, Ganjar Targetkan Pembangunan 100.000 RSLH

Turunkan Angka Kemiskinan di Jateng, Ganjar Targetkan Pembangunan 100.000 RSLH

Regional
8 Peristiwa Viral karena Gunakan Google Maps, dari Sekeluarga Tersesat di Hutan hingga Truk Masuk Jurang

8 Peristiwa Viral karena Gunakan Google Maps, dari Sekeluarga Tersesat di Hutan hingga Truk Masuk Jurang

Regional
Semangati Pengusaha Jasa Dekorasi, Wagub Jatim: Jangan Pernah Kendur dan Pesimis

Semangati Pengusaha Jasa Dekorasi, Wagub Jatim: Jangan Pernah Kendur dan Pesimis

Regional
Kepada Kepala Daerah di Jatim, Wagub Emil: Mari Kita Pastikan Tidak Ada Pungutan Liar di SMA/SMK

Kepada Kepala Daerah di Jatim, Wagub Emil: Mari Kita Pastikan Tidak Ada Pungutan Liar di SMA/SMK

Regional
Kisah Warga Desa Pana di NTT Alami Krisis Air Bersih, Kini Teraliri Harapan Pun Bersemi

Kisah Warga Desa Pana di NTT Alami Krisis Air Bersih, Kini Teraliri Harapan Pun Bersemi

Regional
DMC Dompet Dhuafa Gelar Aksi Bersih-bersih Rumah Warga Terdampak Gempa Banten

DMC Dompet Dhuafa Gelar Aksi Bersih-bersih Rumah Warga Terdampak Gempa Banten

Regional
Tanggapan Tim Ahli LPPM ULM, Usai Uji Coba Raperda Jalan Khusus DPRD Tanah Bumbu

Tanggapan Tim Ahli LPPM ULM, Usai Uji Coba Raperda Jalan Khusus DPRD Tanah Bumbu

Regional
BPS Catat Penurunan Angka Penduduk Miskin Jateng hingga 175.740 Orang

BPS Catat Penurunan Angka Penduduk Miskin Jateng hingga 175.740 Orang

Regional
Berdayakan Masyarakat Jateng, Ganjar Dapat Penghargaan dari Baznas

Berdayakan Masyarakat Jateng, Ganjar Dapat Penghargaan dari Baznas

Regional
Ada Kasus Omricon di Kabupaten Malang, Wagub Emil Pastikan Terapkan PPKM Mikro Tingkat RT

Ada Kasus Omricon di Kabupaten Malang, Wagub Emil Pastikan Terapkan PPKM Mikro Tingkat RT

Regional
Zakat ASN Pemprov Jateng 2021 Terkumpul Rp 57 Miliar, Berikut Rincian Penyalurannya

Zakat ASN Pemprov Jateng 2021 Terkumpul Rp 57 Miliar, Berikut Rincian Penyalurannya

Regional
Berencana Kembalikan Bantuan dari Ganjar, Fajar Malah Di-'bully' Warganet

Berencana Kembalikan Bantuan dari Ganjar, Fajar Malah Di-"bully" Warganet

Regional
Cegah Omicron di Jateng, Ganjar: Tolong Prokes Dijaga Ketat

Cegah Omicron di Jateng, Ganjar: Tolong Prokes Dijaga Ketat

Regional
Sambut Tahun Baru, Dompet Dhuafa Gelar Doa Bersama di Lapas Narkotika Gunung Sindur

Sambut Tahun Baru, Dompet Dhuafa Gelar Doa Bersama di Lapas Narkotika Gunung Sindur

Regional
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.