Salin Artikel

Kisah Irma Rintis Usaha Brownies Tempe, Nyaris Gulung Tikar akibat Pandemi

Di dalam ruangan dengan ukuran 3X3 meter itu berjejer meja, oven, kulkas, rak berukuran kecil dan beberapa perkakas lain.

Sementara, di bagian belakang terdapat pintu yang menghubungkan dengan dapur.

Sejak setahun terakhir, bangunan yang berada di depan rumah itu menjadi tempat produksi brownies dan cookies tempe.

Sebuah makanan unik hasil karya Irma Kusmayanti (42) yang diklaim pertama di Banyumas.

Tidak mudah bagi Irma mengawali usaha kecil pembuatan makanan ringan tersebut.

Mantan manajer sebuah manajemen salon dan sales marketing di perusahaan ekspedisi ini memutuskan keluar dari pekerjaan Juli 2019 dan menekuni usahanya.

Namun, baru beberapa bulan mengawali usaha, muncul pandemi virus corona (Covid-19). Usaha rintisan yang sudah memiliki omzet lumayan itu pun terancam gulung tikar.

"Sebelum pandemi omzet bisa Rp 8 juta sampai Rp 12 juta, eh kena pandemi, penjualan sampai nol. Bulan Februari-Maret enggak ada penjualan sama sekali," tutur single parent dengan satu anak ini, Rabu (21/10/2020).

Saat itu gejolak batin juga dialami Irma. Pasalnya sang ibu merupakan orang yang paling tidak setuju dengan keputusan Irma keluar dari pekerjaan dan menekuni usaha tersebut.

"Keluarga sampai bilang tuh kan salah keluar kerja, sedih sekali. Saya pribadi merasa bersalah, karena ibu enggak mau saya keluar kerja, sampai akhirnya ibu meninggal tanggal 6 April," kata Irma.

"Tapi itu jadi motivasi saya. Saya mau tunjukkin bahwa pilihan saya enggak salah, saya bertahan di sini dan bisa berkembang," sambung Irma.

Pesanan produk dengan merk Madame Mbois ini datang silih berganti dari warga lokal maupun dari luar kota.

Bahkan, ke depan Irma berencana mengekspor produknya ke Eropa.

Saat ini ia tengah melengkapi legalitas yang diperlukan dan ditargetkan rampung tahun ini.

Lantas dari mana ide pembuatan brownies dan cookies tempe?

"Saya lebih ke pertimbangan logika, saya enggak akan pernah bisa ngalahin pasarnya perusahaan brownies yang sudah besar, yang merek-merek terkenal itu. Jadi saya harus punya perbedaan," papar Irma.

Brownies dan cookies buatannya juga dapat menjadi pilihan alternatif olahan tempe.

Selama ini pelancong yang ke Banyumas hanya mengenal mendoan sebagai makanan olahan tempe.

"Kalau bisa membuat orang merasa belum ke sini kalau belum mencicipi brownies dan cookies tempe," harap perempuan kelahiran Bogor ini.

Irma menjelaskan, pembuatan brownies dan cookies itu sama halnya dengan brownies dan cookies pada umumnya.

Perbedaannya, adonan kedua makanan tersebut dicampur dengan tempe yang digiling halus. Selain itu, toping juga menggunakan tempe yang dipotong kecil-kecil dan digoreng kering.

Irma mengklaim, brownies dan cookies buatannya lebih sehat karena menggunakan tepung mocaf, yaitu tepung berbahan singkong sebagai pengganti tepung terigu.


Sementara itu, Ketua Koperasi Berkah Rindang Kinasih, Ambarsari mengatakan, produk tersebut telah dipasarkan ke Jakarta dan sejumlah kota di Jawa Tengah.

"Anggota koperasi kami juga berperan menjadi reseller, setiap bulan mengambil sekitar 50 pack untuk setiap item, itu di luar pesanan khusus," kata Ambar.

Menurut Ambar, bisnis brownies dan cookies tempe ini ke depan sangat prospektif. Pasalnya cita rasanya sangat khas, perpaduan manis cokelat dan gurih tempe.

"Khususnya brownies tempe belum ada kompetitor, ini peluang besar. Karena ini produk kering bisa diekspor, kemarin sudah kami ajukan, hanya ada beberapa yang perlu dibenahi," ujar Ambar.

https://regional.kompas.com/read/2020/10/22/07554021/kisah-irma-rintis-usaha-brownies-tempe-nyaris-gulung-tikar-akibat-pandemi

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke