Salin Artikel

"Usai Menganiaya, Tersangka Memanggil Petugas: Pak, Ada Tahanan yang Lemas"

Menurut keterangan polisi, GKR dianiaya oleh tahanan lainnya yang berinisial C. Usai menganiaya, C memanggil petugas piket lantaran kondisi GKR lemas.

Kejadian ini membuat Edo Kondologit mengamuk dan meminta keadilan. Keluarga pun sempat menggeruduk Mapolres Sorong pada Senin (31/8/2020).

Ia dibekuk karena kasus dugaan pencurian, pembunuhan disertai pemerkosaan seorang nenek berusia 70 tahun di Pulau Doom, Sorong, Kamis (27/8/2020).

GKR diduga berada di bawah pengaruh alkohol ketika sedang berupaya mencuri telepon genggam dan televisi korban. Saat itu, korban memergoki GKR.

Keduanya pun terlibat saling dorong hingga korban terjatuh dan diduga dicekik dengan tali. Dalam peristiwa itu, korban tewas.

"Kemudian tersangka memerkosa korban sebanyak satu kali," kata Ary dalam keterangan tertulisnya.

GKR mencoba kabur ketika polisi mencari barang bukti. Saat dibawa ke Pelabuhan Halte Doom, GKR kembali mencoba kabur dan mencoba mengambil senjata api polisi.

"Tim mengambil tindakan tegas terukur terhadap tersangka kemudian tersangka dibawa ke RS Sele Be Solu untuk mendapatkan pengobatan," kata dia.

Sepulang dari rumah sakit, GKR ditahan di Mapolres Sorong.

Ia kemudian diperiksa polisi. GKR saat itu tak mengakui perbuatannya dan dikembalikan lagi ke dalam tahanan.

Kasat Reskrim Polres Sorong Kota AKP Misbhacul Munir mengemukakan, GKR disebut tewas karena dianiaya oleh tahanan lain berinisial C.

Menurut polisi, tahanan tersebut telah mengakui perbuatannya.

Bahkan setelah menganiaya, tahanan tersebut sempat memanggil petugas piket sekitar pukul 22.30 WIT.

"Usai menganiaya korban hingga tak sadarkan diri, tersangka sempat memanggil petugas piket jaga, Pak.. Pak, ada tahanan yang lemas," kata Misbhacul.

"Korban kemudian dibawa ke rumah sakit sudah meninggal dunia. Saat ini polisi sedang melakukan penyelidikan lebih lanjut. Satu tersangka inisial C sudah mengakui perbuatannya," papar dia.

Berdasarkan CCTV ruang tahanan yang kemudian dicek oleh petugas piket, tahanan C itu melakukan penganiayaan pada dada dan wajah GKR berulang-ulang.

Edo menuntut keadilan atas kematian adik iparnya. Video Edo emosi perihal peristiwa itu, viral di media sosial.

"Kita menuntut keadilan, kaluarga akan proses ini. Kita akan menuntut Propam, menuntut Polda, Polsek," kata dia.

Ada beberapa hal yang menurutnya tak dapat diterima dalam kejadian ini.

Antara lain perihal alasan kepolisian menembak kaki adik iparnya supaya tak melarikan diri.

"Di dalam polres ya bukan dI luar. Masih diproses, ditembak itu alasan mau melarikan diri. Melarikan diri bagaimana, ditembak itu kedua kakinya," kata Edo dikutip dari Tribunnews.com, Senin (31/8/2020).

"Alasannya apa, seberat apa emang pelanggarannya sampai ditembak dua begitu, memang polisi ini hakim, enggak bisa begitu," tegas dia.

Ia mempertanyakan tanggung jawab pihak kepolisian dalam kasus GKR.

"Berbelit-belit, mereka enggak pernah terbuka kok. Mereka alasan (dianiaya) karena tahanan. Loh tahanan ngehajar dibiarin? Tahanan kan dalam pengawasan kalian, ada CCTV kok, terus kalian biarkan, kalian mau cuci tangan?" ucap Edo.

"Karena yang menyebabkan darahnya banyak itu dianiaya tahanan ya pasti orang mati lah. Dari pagi belum makan, dia belum makan, juga pengaruh narkoba, minuman keras, kalian aniaya seperti begitu," jelas Edo.

Keluarga geruduk Mapolres

Kecewa terhadap polisi, keluarga Edo Kondologit menggeruduk Mapolres Sorong Kota, Senin (31/8/2020) sekitar pukul 12.30 WIT.

"Bapak polisi bisa melihat sendiri betapa sedihnya seorang ibu anaknya meninggal dalam keadaan tidak wajar dengan kaki tertembak dan dianiaya oleh para tahanan itu," ujar Edo.

Ia menilai meninggalnya GKR di tahanan tak wajar. Keluarga Edo mendesak, kasus kematian GKR diusut tuntas, termasuk jika ada polisi yang terlibat.

Edo mengatakan, seharusnya polisi menjadi pengayom masyarakat.

"Tapi hal itu terbalik, polisi menganiaya dan membunuh itulah image dari masyarakat. Tolong polisi ubah itu," kata dia.

Tim ini dibentuk untuk menyelidiki tewasnya GKR. Hal itu dikemukakan oleh Kepala Divisi Humas Polri Irjen (Pol) Argo Yuwono.

Tim akan meneliti perihal kemungkinan kesalahan prosedur.

"Kapolda Papua Barat telah membuat tim yang dipimpin oleh Direskrimum Polda Papua Barat dan Kabid Propam Polda Papua Barat guna menyelidiki apakah ada kesalahan prosedur terhadap tindakan anggota," ucap Argo melalui keterangan tertulis, Senin (31/8/2020).

"Apabila ada pelanggaran yang dilakukan anggota tentunya akan ditindak," lanjut dia.

Sumber: Kompas.com (Penulis : Kontributor Sorong, Maichel, Devina Halim | Editor : David Oliver Purba, Fabian Januarius Kuwado), Tribunnews

https://regional.kompas.com/read/2020/09/01/05361041/usai-menganiaya-tersangka-memanggil-petugas-pak-ada-tahanan-yang-lemas

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke