NEWS
Salin Artikel

Cerita Mantan Pemburu di TN Way Kambas, Sengaja Bakar Hutan untuk Mudahkan Perburuan (1)

Raut wajah Suratno sedikit bingung saat teman mainnya mengajak ke dalam kawasan hutan Taman Nasional Way Kambas. Kala itu, Suratno masih berumur sekitar 17 tahun.

Teman mainnya itu membawa kawanan anjing kampung dan beberapa bilah tombak.

Bersama sejumlah orang lain yang telah berkumpul, Suratno masuk jauh ke dalam kawasan hutan, hingga ke area padang rumput.

Anjing-anjing menyalak dan mengejar sejumlah kijang yang berada di padang rumput. Beberapa kijang terkepung anjing. Pemuda-pemuda lain yang baru Suratno kenal, maju dan melemparkan tombak.

“Waktu itu di dalam (kawasan TNWK) masih ada kampung, lupa saya tahun berapa, tapi seingat saya waktu (umur) 17 tahun. Tapi sekarang, kampung-kampung itu sudah nggak ada,” kata Suratno (59) ditemui di rumahnya di Desa Braja Yekti, Kecamatan Braja Selebah, Lampung Timur, Senin (12/7/2020) petang.

Suratno adalah salah satu personel pengamanan swadaya masyarakat di desanya dengan tugas mengusir gajah-gajah liar yang masuk ke kawasan desa. Di masa mudanya, Suratno terkenal sebagai pemburu menjangan (kijang) yang ‘licin’.

Suratno adalah spesialis pemburu yang menggunakan anjing dan tombak. Lebih dari dua dekade Suratno keluar masuk kawasan TNWK dan leluasa memburu kijang.

Suratno biasa berhari-hari di dalam hutan untuk berburu kijang dengan daya jelajah yang luas.

‘Kelicinan’ Suratno dalam ‘jagat’ perburuan di dalam kawasan konservasi itu sudah terkenal. Tidak sekali – dua kali Suratno terpergok, bahkan terpojok oleh polisi hutan yang berpatroli.

Namun, tidak sekalipun Suratno tertangkap.

“Kalah ‘mlebu’ (lari) mereka. Kalau sampai terpojok, saya incar yang paling nggak siap, begitu lolos ya lari, kadang ngumpet di rawa,” kata Suratno sambil terkekeh geli.

Termasuk cara memancing kawanan rusa agar mudah diburu. Salah satunya dengan membakar hutan.

“Bukan katanya lagi (membakar hutan). Tapi, ya memang begitu caranya,” kata Suratno.

Area hutan yang dibakar, kata Suratno, adalah area padang rumput yang menjadi lokasi kijang mencari makan.

Jika rumput atau ilalang terlalu tinggi, tambah Suratno, kijang tidak akan terlihat.

Pembakaran area padang rumput itu juga dilakukan untuk memancing kijang muncul, terlebih di musim kemarau. Suratno mengatakan, rumput lama dibakar agar tumbuh tanaman baru.

“(rumput) dibakar, kalau musim kemarau kan rumputnya kering. Makanya dibakar dulu, jadi nanti tumbuh rumput baru yang segar. Nah, nanti menjangan (kijang) ini berdatangan,” kata Suratno.

Sekali berburu, 5 lokasi dibakar

Dalam satu kali berburu, Suratno tidak membakar tidak hanya satu lokasi. Namun bisa lebih dari tiga sampai lima lokasi, tergantung seberapa lama dia dan rombongannya berada di dalam kawasan hutan.

“(lokasi) yang ini kita bakar, lalu pergi (berburu) di tempat lain. Nanti, kalau lokasi yang tadi dibakar udah tumbuh rumput baru, kita ke sana lagi. Seminggu biasanya udah tumbuh lagi,” kata Suratno.

Sunarto mengadegankan kembali saat dia membakar ilalang dan rumput kering. Hanya bermodalkan korek api, rumput yang kering langsung terbakar hebat dan meluas begitu disulut api.

Metode pembakaran area makan kijang itu diamini Misngat (53) salah satu mantan pemburu lainnya yang kini telah menjadi anggota pengamanan swadaya masyarakat untuk konflik gajah.


Misngat sebenarnya pencari ikan di dalam kawasan hutan TNWK. Namun, dia sempat beberapa kali diajak para pemburu kijang untuk mencari target buruan.

“Kalau musim kering saya diajak (berburu kijang), atau cari burung,” kata Misngat.

Misngat satu desa dengan Sunarto. Bahkan Misngat ikut menjadi anggota pengamanan swadaya masyarakat bersama Sunarto.

Meski tidak pernah melakukan pembakaran secara langsung, Misngat mengaku diberitahu cara memancing satwa buruan di area padang rumput di dalam kawasan TNWK.

“Rumputnya dibakar, setelah dibakar ditinggal. Satu minggu di tempat yang terbakar tadi sudah tumbuh rumput baru. Hewan senang biasanya, jadi ngumpul di situ,” kata Misngat.

(Bersambung)

https://regional.kompas.com/read/2020/07/17/06450031/cerita-mantan-pemburu-di-tn-way-kambas-sengaja-bakar-hutan-untuk-mudahkan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Serahkan Bantuan ke Korban Banjir di Desa Paledah, Wagub UU: Perlu Kolaborasi untuk Tanggulangi Banjir

Serahkan Bantuan ke Korban Banjir di Desa Paledah, Wagub UU: Perlu Kolaborasi untuk Tanggulangi Banjir

Regional
Tanahnya Diganti Rugi Miliaran Rupiah oleh Pemerintah, Warga Wadas Mendadak Jadi Miliarder

Tanahnya Diganti Rugi Miliaran Rupiah oleh Pemerintah, Warga Wadas Mendadak Jadi Miliarder

Regional
Peringati HUT Ke-281 Wonogiri, Bupati Jekek Ajak Masyarakat Bangkit dengan Harapan Baru

Peringati HUT Ke-281 Wonogiri, Bupati Jekek Ajak Masyarakat Bangkit dengan Harapan Baru

Regional
Kasus PMK Hewan Ternak di Wonogiri Masih Nol, Ini Penjelasan Bupati Jekek

Kasus PMK Hewan Ternak di Wonogiri Masih Nol, Ini Penjelasan Bupati Jekek

Regional
Jatim Raih 2 Penghargaan SPM Kemendagri, Gubernur Khofifah Sampaikan Hal Ini

Jatim Raih 2 Penghargaan SPM Kemendagri, Gubernur Khofifah Sampaikan Hal Ini

Regional
BUMDes di Klaten Diminta PT KAI Bayar Rp 30 Juta Per Tahun, Gus Halim Minta Keringanan

BUMDes di Klaten Diminta PT KAI Bayar Rp 30 Juta Per Tahun, Gus Halim Minta Keringanan

Regional
Indeks Reformasi Birokrasi Jabar Lampaui Target 78,68, Sekda Setiawan Sampaikan Pesan Ini

Indeks Reformasi Birokrasi Jabar Lampaui Target 78,68, Sekda Setiawan Sampaikan Pesan Ini

Regional
Fashion Show Batik Daur Ulang Warnai Penutupan KKJ dan PKJB, Atalia Kamil: Ini Tanda Ekraf Jabar Bergerak Kembali

Fashion Show Batik Daur Ulang Warnai Penutupan KKJ dan PKJB, Atalia Kamil: Ini Tanda Ekraf Jabar Bergerak Kembali

Regional
Proses Geotagging Rumah KPM di Bali Capai 65 Persen, Ditargetkan Rampung Akhir Mei 2022

Proses Geotagging Rumah KPM di Bali Capai 65 Persen, Ditargetkan Rampung Akhir Mei 2022

Regional
Peringati Trisuci Waisak, Ganjar Sebut Candi Borobudur Tak Hanya Sekadar Destinasi Wisata

Peringati Trisuci Waisak, Ganjar Sebut Candi Borobudur Tak Hanya Sekadar Destinasi Wisata

Regional
Pertumbuhan Ekonomi Jabar Triwulan I-2022 Capai 5,62 Persen, Lebih Tinggi dari Nasional

Pertumbuhan Ekonomi Jabar Triwulan I-2022 Capai 5,62 Persen, Lebih Tinggi dari Nasional

Regional
KKJ dan PKJB Digelar, Kang Emil Minta Pelaku UMKM Jabar Hemat Karbon

KKJ dan PKJB Digelar, Kang Emil Minta Pelaku UMKM Jabar Hemat Karbon

Regional
Cegah Wabah PMK, Jabar Awasi Lalu Lintas Peredaran Hewan Ternak Jelang Idul Adha

Cegah Wabah PMK, Jabar Awasi Lalu Lintas Peredaran Hewan Ternak Jelang Idul Adha

Regional
Genjot Vaksinasi Covid-19, Pemprov Jabar Optimistis Capai Target

Genjot Vaksinasi Covid-19, Pemprov Jabar Optimistis Capai Target

Regional
Bertemu DPP GAMKI, Bobby Nasution Didaulat Sebagai Tokoh Pembaharu

Bertemu DPP GAMKI, Bobby Nasution Didaulat Sebagai Tokoh Pembaharu

Regional
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.