Salin Artikel

Didatangi PMI Solo, Keluarga dengan Balita yang Tinggal di Becak Enggan Pindah

SOLO, KOMPAS.com - Palang Merah Indonesia (PMI) Solo, Jawa Tengah langsung bergerak cepat menemui keluarga Dul Rohmat (30) yang setiap hari tidur di becak.

"Kami langsung kirim petugas dompet kemanusiaan PMI ke sana untuk menemui keluarganya Pak Dul Rohmat yang tidur di becak," kata CEO PMI Solo, Sumartono Hadinoto saat dihubungi Kompas.com di Solo, Jawa Tengah, Rabu (6/5/2020).

Dul yang bekerja sebagai buruh bangunan terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) di tempatnya bekerja akibat dampak virus corona.

Selama ini, warga Desa Asemrudung, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Grobogan tersebut tinggal di indekos kawasan Jagalan, Solo.

Karena tidak bisa membayar uang sewa indekos setiap bulannya, mereka memutuskan hidup menggelandang dan tidur di becak yang mereka sewa setiap hari sebesar Rp 5.000.

"Kita kasihan sama anaknya yang masih kecil. Mereka kita tawari tinggal di Griya PMI atau diantarkan pulang ke rumahnya di Purwodadi. Tapi tidak mau," terang Sumartono.

Mereka tidak mau tinggal di Griya PMI dan dipulangkan ke kampung halaman di Purwodadi karena sudah merasa nyaman tidur di becak. PMI pun akhirnya melaporkan ke Dinsos.

"Sudah disampaikan ke Dinsos. Karena kami (PMI) merasakan kasihan anaknya kalau di becak terus," ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, Dul Rohmat (30) beserta istri, Fatimah (33) dan anaknya yang masih berusia 13 bulan bernama Dafa harus tidur di becak setiap hari.

Warga asal Desa Asemrudung, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah tersebut sudah sekitar satu bulan tinggal dan tidur di becak.

Saat ditemui oleh Kompas.com, keluarga Dul sedang berada di depan kantor DPRD Solo. Mereka sedang menunggu para dermawan memberikan nasi takjil untuk buka puasa.

"Alhamdulillah, ada yang ngasih (makan). Entah dari mana tahu-tahu datang ngasih makan. Kaya ini tadi tahu-tahu ada yang ngasih," kata istri Dul, Fatimah di Solo, Jawa Tengah, Rabu (6/5/2020).

Perempuan yang akrab disapa Imah mengatakan, alasan jauh-jauh dari Purwodadi ke Solo untuk mencari pekerjaan. Dia berharap dengan merantau ke Solo bisa merubah keluarga.

"Di sana tidak ada pekerjaan. Karena tempatnya pelosok untuk cari uang tidak bisa. Bisanya di sawah. Kalau tidak panen ya tidak bisa dapat penghasilan," kata dia.

Dul dan keluarga kemudian memutuskan merantau ke Solo. Selain mengajak anak dan istrinya, Dul juga mengajak adiknya bernama Listiyowati (22).

Selama di Solo, mereka menyewa indekos di kawasan Jagalan, Kecamatan Jebres. Adapun biaya sewa setiap bulannya sebesar Rp 600.000.

Karena biaya sewanya terlalu mahal, mereka memutuskan untuk pindah. Mereka mendapat indekos dengan biaya sewa Rp 400.000 per bulan.

Baru beberapa bulan ditempati, sang suami terkena dampak pemutusan hubungan kerja (PHK) dari tempat kerjanya proyek pembangunan akibat pandemi wabah virus corona (Covid-19).

"Karena suami tidak kerja karena PHK ada virus corona tidak ada pengasilan. Uang sewa indekos juga tidak bisa bayar. Terpaksa sewa becak Rp 5.000 per hari untuk tidur di jalan," ungkap Imah.

Pernah suaminya ditawari pekerjaan oleh orang lain, tetapi karena masih kondisi pandemi wabah corona, sampai sekarang belum mendapat kepastian kapan mulai kerja.

Sementara untuk mencukupi kebutuhan hidup setiap hari, mereka hanya mengandalkan bantuan.

"Kalau dapat sembako seperti beras, minyak gitu saya jual karena tidak bisa masak di jalan. Uangnya buat bayar sewa becak sama buat beli pampersnya adik. Penting peralatan adik tidak ada yang kurang," terang Imah.

"Kalau mi instan dan telur kita bisa minta dibuatkan di hik (wedangan) paling nambah uang berapa bisa buat makan. Terus kalau teh dan gula bisa buat minum sendiri karena punya termos berisi air panas," sambung dia.

https://regional.kompas.com/read/2020/05/06/22041041/didatangi-pmi-solo-keluarga-dengan-balita-yang-tinggal-di-becak-enggan

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke