Salin Artikel

Tarawih Pertama di Lampung, Jemaah Masuk Bilik Disinfektan Sebelum Shalat

Bilik disinfektan berukuran sekitar 1 x 1,6 meter tersebut diletakkan di pintu masuk mushala.

Pengurus Musala Nurul Ikhwan, Fathurrohman (Fathur) mengatakan, bilik disinfektan itu sengaja dibuat karena masih banyak jemaah yang hendak beribadah di mushala.

“Ini upaya kami bertawakal, ada pencegahan penyebaran virus corona dengan menyediakan bilik disinfektan tersebut,” kata Fathur ditemui di musala yang berada di Jalan Minak Sangaji, Kelurahan Sumber Rejo, Kecamatan Kemiling, Kamis (23/4/2020) malam.

Pantauan Kompas.com, pelaksanaan shalat tarawih di Musala Nurul Ikhwan ini memiliki standard operational procedure (SOP) sebelum jemaah memasuki mushala.

Jamaah diminta cuci tangan dengan sabun sebelum mengambil wudhu. Kemudian jemaah memasuki bilik disinifektan untuk disterilkan.

Keluar dari bilik disinfektan, jemaah kembali mencuci tangan dengan cairan antiseptik yang disediakan di pintu masuk mushala.

“Bagi jemaah yang membawa sajadah sendiri, diminta mengibaskannya di dalam bilik disinfeksi,” kata Fathur.

Jemaah juga diminta tetap menggunakan masker selama pelaksaaan shalat.

Bilik disinfeksi yang disediakan oleh mushala sedikit berbeda dengan bilik disinfektan lain. Di Mushala Nurul Ikhwan, bilik disinfektan menggunakan uap, bukan disemprot.

Menurut Fathur, uap dari cairan disinfektan membuat pensterilan lebih merata dan tidak membuat basah pakaian jemaah.

“Belajar dari pengalaman waktu masih kerja di industri makanan untuk pensterilan,” kata Fathur.

Kemudian, di dalam mushala juga dilengkapi lampu ultraviolet. Fathur mengklaim, cahaya ultraviolet membuat hangat dan memfertilisasi virus dan bakteri.

“Lampu ini dinyalakan sepanjang hari, kecuali di saat waktu shalat, karena tidak baik jika kulit manusia terkena cahaya ultraviolet dalam jangka waktu yang lama,” kata Fathur.

Menurut Fathur, pihak mushala menyediakan bilik disinfektan dan sejumlah protokol demi memberikan rasa aman bagi para jemaah.

Sehingga, ibadah bisa tetap dijalankan namun dengan tidak mengenyampingkan upaya pencegahan virus corona.

“Bukan hanya karena semata keyakinan saja, tapi juga harus ada upaya untuk mencegahnya. Upaya ini masih banyak yang perlu diperbaiki atau dikritisi, kami membuka pintu untuk kritik yang membangun,” kata Fathur.

https://regional.kompas.com/read/2020/04/24/07481021/tarawih-pertama-di-lampung-jemaah-masuk-bilik-disinfektan-sebelum-shalat

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke