NEWS
Tentukan Pilihanmu
0 hari menuju
Pemilu 2024
Salin Artikel

Kisah Para Siswa Penyandang Disabilitas yang Tidak Ingin Dianggap Sebagai Beban

Dalam sekolah ini penyandang tuna wicara, rungu, netra, hingga grahita. 

Mereka memiliki kesempatan dalam menimba ilmu mulai dari jenjang Taman Kanak-kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).

Menurut Kepala SLB Bhayangkari, Dede Idawati, saat ini ada sebanyak 61 siswa dan siswi yang menimba ilmu di institusi pendidikan yang dipimpin olehnya.

Dengan selain ilmu eksak yang coba diberikan sesuai kemampuan penyandang disabilitas, mereka juga perlahan diajari beberapa keterampilan.

Hal ini disampaikan Dede, selepas menemani para siswa dan siswi melaksanakan upacara peringatan Sumpah Pemuda, Minggu (27/10/2019) sore.

"Untuk yang perempuan (siswi), kami coba bekali mereka dengan keterampilan tata boga, masak, buat kue dan makanan," kata Dede. 

"Sementara yang laki-laki (siswa), ada keterampilan menyablon kaos." 

Pembekalan ini dimaksudkan oleh pihak sekolah, supaya mereka yang mampu menguasai keterampilan tersebut nantinya dapat mandiri di tengah masyarakat. 

Sekaligus agar mereka dapat bersaing dalam mencari lapangan pekerjaan dengan anak-anak lain yang dikaruniai bentuk fisik normal.

Kebutuhan tempat workshop menurut Dede, nantinya bakal diperuntukkan bagi lulusan SLB yang bisa mendesain maupun sablon kaos. 

Serta bagi lulusan SLB yang membutuhkan untuk mereka mencari rezeki. Dengan harapan, bakat mereka dapat tetap terjaga dan tersalurkan.

Hal itu dikarenakan, beberapa dari lulusan SLB Kemala Bhayangkari yang mampu menguasai keterampilan desain dan sablon kaos, tidak mampu bersaing. 

Penyebabnya, kurangnya pemahaman masyarakat tentang kemampuan mereka di bidang desain dan sablon kaos.

"Padahal, sejak kami mulai dua tahun lalu, kaos hasil karya para siswa ini tidak kalah dengan yang dihasilkan orang normal," kata Dede. 

"Bahkan, kemarin sudah ada yang sempat beli itu dari Jawa Barat, Kalimantan, Bali, serta Makassar," ucap Dede yang mengaku sudah 20 tahun mengabdi di SLB Kemala Bhayangkari.

Kendati ia tidak menampik, memang dibutuhkan ketelatenan dan keuletan dalam membimbing mereka.

"Pengalaman saya pribadi itu paling lama 10 kali pertemuan, agar siswa ini bisa desain dan sablon kaos. Meski biasanya banyak juga yang enam atau tujuh kali pertemuan sudah bisa," ujar Lailatul.

Ia menjelaskan, untuk kelas keterampilan desain dan sablon kaos sesuai jadwal, baru dilakukan setiap Kamis dan Jumat.

Hal itu dikarenakan, pada hari yang lain dipergunakan oleh para siswa di SLB Kemala Bhayangkari untuk mempelajari ilmu akademis.

"Jadi Senin sampai Rabu itu pelajaran umum, baru Kamis dan Jumat itu vokasi. Bagi yang siswa keterampilan sablon kaos, sementara yang siswi di kelas tata boga," ucap dia.

Untuk tahun ini, ada sebanyak 13 dari 61 siswa SLB Kemala Bhayangkari yang mengikuti kelas keterampilan desain dan sablon kaos.

Mereka lebih dulu diseleksi sesuai kemampuan, dengan keterampilan ini baru diperuntukkan bagi mereka yang sudah tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan SMA.

"Paling sulit itu saat desain gambar di komputer, sebelum dijadikan cetakan sablon," kata Muhammad Rizky Khoirudin siswa tuna wicara yang sudah kelas 10 SMP, seperti yang diterjemahkan oleh Lailatul.

"Sementara proses paling lama, afdruk foto untuk dijadikan bahan sablon (cetakan)," lanjutnya. 

Selepas mengikuti upacara Sumpah Pemuda, Yani kemudian melihat secara langsung dan sekaligus memesan beberapa kaos hasil karya para siswa penyandang disabilitas tersebut.

"Bagus, sangat luar biasa, tidak kalah dengan produksi orang normal (secara fisik). Ini menjadi bahan bagi saya, dan akan saya sampaikan hal ini, aspirasi ini, kepada teman-teman lain yang ada di Dewan (DPRD)," kata Yani.

"Saya tadi sudah titip pesan kepada mereka, saya harap mereka jangan patah semangat. Karena kemajuan Gresik, juga berkat partisipasi mereka semua," tambah dia.

Hal senada juga diutarakan oleh Wakapolres Gresik, Kompol Dhyno Indra Setyadi, yang juga turut hadir dalam upacara Sumpah Pemuda di SLB Kemala Bhayangkari.

Dengan selepas upacara, Dhyno sempat mencicipi hasil masakan siswi berkebutuhan khusus yang tergabung dalam keterampilan kelas tata boga.

"Dari karya yang dihasilkan seperti olahan keripik dan dikemas cukup bagus, juga kerajinan sablon kaos, saya rasa bisa bersaing dengan produk-produk yang lain. Tadi saya juga sudah mencicipi keripik buatan mereka, dan rasanya cukup enak," tutur Dhyno.

https://regional.kompas.com/read/2019/10/28/11301421/kisah-para-siswa-penyandang-disabilitas-yang-tidak-ingin-dianggap-sebagai

Rekomendasi untuk anda
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke