NEWS
Salin Artikel

Kisah Rumah Baca Bintang, Pelopor Literasi di Desa Terpencil dengan Kondisi Memprihatinkan

Berjuang dengan segala keterbatasan tak menyurutkan langkahnya untuk membiasakan generasi muda akrab dengan buku-buku bacaan.

Baginya, pendidikan adalah modal penting bagi anak-anak untuk bisa menembus dinding peradaban yang penuh keniscayaan.

Pada Kamis (29/8/2019), Kompas.com berkesempatan berkunjung ke "Rumah Baca Bintang" yang dikelola Yulianto secara pribadi di Dusun Jajar, RT 03/RW 03. 

Rumah Baca Bintang ini sekaligus merupakan kediaman Yulianto bersama kedua orang tuanya.

Lokasi Rumah Baca Bintang dapat ditempuh dari Kota Purwodadi, Grobogan, sekitar 1,5 jam.

Yulianto merintis Rumah Baca Bintang di pertengahan 2011.

Namun, ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan dalam mengawali upaya positifnya tersebut.

Dilarang orangtua hingga bongkar kamar pribadi

Orangtua Yulianto tidak menghendaki dibangunnya Rumah Baca Bintang.

Penolakan itu muncul lantaran tempat belajar untuk anak-anak itu harus merampas sebagian ruangan di dalam rumah.

Apalagi, rumah orang tua Yulianto hanya berukuran sekitar 6x12 meter.

Ayah dan Ibunya khawatir aktivitas internal di dalam rumah tangga nantinya menjadi terbatasi karena harus berbagi dengan rutinitas Rumah Baca Bintang.

Meski sedikit jengkel, Musmin (58) yang seorang buruh bangunan dan Soni Hindarti (51) yang hanya sebagai ibu rumah tangga itu pun akhirnya menyerah dengan keinginan kuat putranya tersebut.

"Kami tak habis pikir maunya anak itu apa. Rumah kami kan kecil. Tapi tak apalah, kami pun coba ikuti alurnya," ujar Musmin.

Setelah menangkap sinyal lampu hijau dari orangtuanya, Rumah Baca Bintang terealisasi dengan menempati sebagian ruang tamu seluas 3x4 meter. Saat itu, koleksi buku untuk anak-anak yang terpajang sekitar 150 buku.

Keseluruhan buku itu dikumpulkan oleh Yulianto dari hasilnya menabung sejak kecil.

Perlahan, jumlah anak-anak yang berdatangan ke Rumah Baca Bintang kian banyak. 

Pada awal 2015, Yulianto terpaksa mengikhlaskan kamar pribadinya dibongkar untuk memperluas ukuran Rumah Baca Bintang.

Kini, Rumah Baca Bintang seluas 5x6 meter tersebut memiliki koleksi buku anak-anak sekitar 2.500 buku.

Rumah Baca Bintang mulai ramai disesaki anak sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama saat sore pukul 15.00 WIB atau waktu pulang sekolah.

Rumah Baca Bintang tutup pada malam hari pukul 21.00 WIB.

Saat ini, dalam sehari jumlah anak-anak yang datang ke Rumah Baca Bintang bisa mencapai 40 orang.

"Saya sisihkan uang sedikit demi sedikit untuk membeli buku anak-anak. Saya hanya ingin anak-anak terbiasa belajar, membaca dan mencintai pendidikan. Itu kan bekal masa depan mereka," tutur anak bungsu dari dua bersaudara ini.

Selama bertahun-tahun merintis Rumah Baca Bintang secara mandiri, lulusan Sarjana Ilmu Perpustakaan (S1) Universitas Terbuka di Purwodadi, Grobogan, ini meyakini bahwa apa yang dia upayakan untuk menggairahkan atmosfer belajar di kalangan anak-anak akan berbuah manis kelak.

"Banyak yang menganggap saya gila. Kenapa sih tidak mencari pekerjaan yang mapan? Dalam hati saya menjawab jika ini adalah pilihan hidup saya. Cita-cita saya, mendampingi anak-anak supaya aktif dan gemar membaca di sela aktivitas saya sebagai pendongeng," ujar Yulianto.

Secara kasatmata, Rumah Baca Bintang kondisinya cukup memprihatinkan.

Konstruksinya hanya berdinding papan kayu usang yang menyisakan lubang di mana-mana.

Lantainya hanya beralaskan semen yang sudah banyak retakan.

Yulianto pun mengakalinya dengan menutupi lantai lapuk itu menggunakan tikar seadanya.

Ventilasi udara di Rumah Baca Bintang pun kurang begitu memadai, sehingga terkadang suhu terasa panas saat berada di dalam.

Hanya ada satu jendela kayu lawas serta bagian atapnya yang tak berplafon.

Bahkan, saat hujan turun, air masuk dari berbagai celah.

Karena belum ada anggaran yang lebih, Rumah Baca Bintang pun terpaksa menyulap kardus dan kotak kayu bekas wadah telur sebagai rak buku.

Ada sekitar 40 rak buku yang terbuat dari barang rongsokan, yang dibeli Yulianto dari para pemulung tersebut.

Rumah Baca Bintang adalah salah satu pelopor literasi di pelosok desa yang bertahan dengan kesederhanaannya. Jauh dari kesan mewah dan apa adanya, rumah baca ini hanya berbekal asa yang melambung tinggi dengan tujuan mulia.

"Inginnya sih dibangun lebih bagus. Tapi mau bagaimana lag,i tak punya uang lebih. Pun demikian tak ada bantuan dari pemerintah maupun donatur. Yang penting anak-anak bisa rajin membaca dan belajar sudah lebih dari cukup," ujar elaki kelahiran Juli 1990 tersebut.

https://regional.kompas.com/read/2019/08/30/08191171/kisah-rumah-baca-bintang-pelopor-literasi-di-desa-terpencil-dengan-kondisi

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Cegah Pernikahan Dini, Bupati Luwu Utara Tandatangani Pakta Integritas Pencegahan Perkawinan Anak

Cegah Pernikahan Dini, Bupati Luwu Utara Tandatangani Pakta Integritas Pencegahan Perkawinan Anak

Regional
Lewat Sistem Hibah, Pemkab Tanah Bumbu Ajak Perusahaan Dongkrak Penghasilan Daerah

Lewat Sistem Hibah, Pemkab Tanah Bumbu Ajak Perusahaan Dongkrak Penghasilan Daerah

Regional
Diundang ke Wamena, Ganjar: Impian Saya Sejak Lama

Diundang ke Wamena, Ganjar: Impian Saya Sejak Lama

Regional
UU Minerba Bikin Penghasilan Daerah Minim, Anggota DPD RI Minta Kewenangan Pertambangan Dikembalikan ke Daerah

UU Minerba Bikin Penghasilan Daerah Minim, Anggota DPD RI Minta Kewenangan Pertambangan Dikembalikan ke Daerah

Regional
Pakar Kebencanaan UGM: Jateng Sangat Peduli terhadap Kebencanaan Indonesia

Pakar Kebencanaan UGM: Jateng Sangat Peduli terhadap Kebencanaan Indonesia

Regional
Bupati Wonogiri Berharap Pemerintah Pusat Tak Bebankan Gaji P3K ke APBD

Bupati Wonogiri Berharap Pemerintah Pusat Tak Bebankan Gaji P3K ke APBD

Regional
Capaian Vaksinasi Wonogiri di Atas 90 Persen, Jekek Minta Masyarakat Tetap Taat Prokes

Capaian Vaksinasi Wonogiri di Atas 90 Persen, Jekek Minta Masyarakat Tetap Taat Prokes

Regional
Percepat Vaksinasi di Wonogiri, Bupati Jekek Siapkan Strategi Home Visit

Percepat Vaksinasi di Wonogiri, Bupati Jekek Siapkan Strategi Home Visit

Regional
Ada Guru Meninggal akibat Covid-19, Bupati Wonogiri Ingatkan Pandemi Belum Berakhir

Ada Guru Meninggal akibat Covid-19, Bupati Wonogiri Ingatkan Pandemi Belum Berakhir

Regional
Soal Penutupan Wisata pada Akhir Tahun, Pemkab Wonogiri Tunggu Kebijakan Pusat

Soal Penutupan Wisata pada Akhir Tahun, Pemkab Wonogiri Tunggu Kebijakan Pusat

Regional
Ganjar Kirim 50 Relawan untuk Bantu Korban Erupsi Gunung Semeru

Ganjar Kirim 50 Relawan untuk Bantu Korban Erupsi Gunung Semeru

Regional
Guru di Wonogiri Meninggal karena Covid-19, Bupati Jekek: Terpapar di Area Wisata, Bukan Sekolah

Guru di Wonogiri Meninggal karena Covid-19, Bupati Jekek: Terpapar di Area Wisata, Bukan Sekolah

Regional
Antisipasi Omicron Saat Nataru, Bupati Jekek Minta Perantau Tak Mudik

Antisipasi Omicron Saat Nataru, Bupati Jekek Minta Perantau Tak Mudik

Regional
Jadi Penyangga Borobudur, Wonogiri Siap Unggulkan Obyek Wisata Ini

Jadi Penyangga Borobudur, Wonogiri Siap Unggulkan Obyek Wisata Ini

Regional
Luwu Utara Rawan Bencana, Bupati IDP Beberkan Pentingnya Pelatihan Pengurangan Risiko Bencana

Luwu Utara Rawan Bencana, Bupati IDP Beberkan Pentingnya Pelatihan Pengurangan Risiko Bencana

Regional
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.