NEWS
Salin Artikel

Melacak Tragedi Jumat Pon, Jejak Keganasan Tsunami di Banyuwangi

Peristiwa tsunami tersebut dikenal warga Pancer dengan sebutan tragedi Jumat Pon. 

Kyai Afandi bercerita, dia bersama para santrinya selama tiga hari tiga malam mengurusi jenazah korban tsunami yang dikumpulkan di masjid desa pasca-kejadian. 

"Saya dan santri ngopeni, mulai dari memandikan sampai menguburkan (jenazah). Walaupun dikuburkan secara massal tapi tetap satu lubang untuk satu jenazah. Saya ingat saat itu kebagian 84 jenasah yang kemudian dimakamkan di dekat monumen tsunami sana," kata Kyai Afandi kepada Kompas.com, Sabtu (5/1/2018).

Selain dia dan santrinya, ada petugas lainnya yang mengurusi jenazah di wilayah lain. Tsunami pada tahun 1994 bukan hanya menerjang kawasan dusun Pancer, Banyuwangi. 

Namun juga menerjang wilayah Rajegwesi, Lampon dan Pantai Grajakan yang masuk Taman Nasional Alas Purwo. 

Korban meninggal dunia akibat tsunami Banyuwangi mencapai 300 orang. Selain itu, tsunami juga membuat seluruh bangunan luluh lantak dan tidak lagi bangunan yang tersisa.

"Yang terbanyak korbannya ya warga Pancer. Dulu mereka tinggal di tempat yang sekarang jadi Pantai Mustika. Setelah tsunami mereka dipindah ke tempat yang aman," jelas Kyai Afandi.

Dusun Pancer sendiri berada di wilayah Kecamatan Pesanggaran yang berjarak sekitar 70 kilometer dari pusat kota Banyuwangi yang berbatasan langsung dengan Pantai Selatan dan Samudra Indonesia.

Sementara itu, Ponijan, salah satu warga Dusun Pancer yang selamat bercerita saat itu dia baru saja pulang sekitar jam 1 malam dari menonton wayang di Pulau Merah yang berjarak sekitar 5 kilomer dari rumahnya.

Dia pulang setelah lakon goro-goro wayang kulit selesai dimainkan. Sampai di rumah dia sempat makan hingga mendengar suara keras yang berasal dari laut yang hanya berjarak sekitar 50 meter dari bibir pantai.

"Saya intip keluar dan melihat kerlap kerlip cahaya semakin lama mendekat. Saya yakin itu air laut karena kalau malam air laut kelihatan cahaya kecil. Tidak sampai lima menit air masuk ke dalam rumah seperti bah menghantam pintu. Saya terseret sampai atas dan kemudian tiba-tiba jatuh. Airnya hilang," kata Ponijan.

Suwoto, warga Pancer lainnya, juga menceritakan kisahnya selamat dari amukan tsunami Banyuwangi pada 1994.

Pria kelahiran tahun 1923 yang tinggal di tepi pantai ini bercerita, pada hari kejadian, sejak jam 3 sore, air laut yang seharusnya pasang tetap dalam kondisi surut hingga malam hari.

Surutnya air laut tersebut mengakibatkan banyak perahu nelayan kandas sehingga mereka tidak bisa melaut.

"Saya mbatin, pasti akan ada apa-apa. Air yang harusnya pasang, tetap surut. Sebelum tsunami juga tidak ada gempa karena saya belum tidur saat itu. Tiba-tiba saja air datang. Tingginya sekitar 7 meter. Cepat. Wusssh....hilang semua. Saat itu saya selamat karena terbawa air dan pegangan tong," katanya.

Suwoto juga menunjukkan alat sirine sistem peringatan dini tsunami yang diletakkan di bagian belakang rumahnya yang dipasang pasca-tsunami. "Sayangnya alat ini (kini) rusak. Tidak berfungsi," jelasnya.

Tragedi tsunami 1994 di Banyuwangi disebut tragedi Jumat Pon karena terjadi pada Jumat Pon, menurut penuturan salah satu warga, Farida. 

Menurut Farida, saat kejadian tahun 1994 itu dirinya baru berusia 10 tahun. Dia selamat karena terapung diatas kasur lalu ditemukan di atas pohon kelapa.

Tsunami 1994 menyisakan trauma bagi warga Pancer yang selamat. Sebab pada Kamis, 3 April 2014 warga Pancer dan sekitarnya harus mengungsi karena peringatan tsunami yang dikeluarkan pada Rabu (2/4/2014) yang dipicu gempa berkekuatan 8,8 SR di Cile yang terjadi pada Selasa (1/4/2014) malam waktu setempat. 

"Tahun 1994 tsunami terjadi pada Jumat Pon, lalu peringatan tsunami tahun 2014 itu juga Jumat Pon. Jadi saya dan keluarga tengah malam mengungsi di tahun 2014. Saya benar-benar trauma," jelas Farida.

Farida mengatakan, hingga saat ini banyak nelayan di Dusun Pancer memilih tidak melaut saat Jumat Pon karena trauma yang menghancurkan desa mereka. 

Sekitar 500 orang yang berasal dari unsur Polri, TNI AL dan AD, Satpol PP, BPBD, Satpol PP, Tagana dan para relawan serta warga Dusun Pancer menggelar simulasi penanggulangan bencana tsunami Sabtu (5/1/2018) di Pantai Mustika yang pernah diterjang tsunami pada tahun 1994 lalu.

Simulasi bencana tersebut digelar sebagai bentuk antisipasi agar masyarakat pesisir siaga jika terjadi bencana tsunami.

"Dengan simulasi yang melibatkan warga diharapkan jika terjadi bencana, korban bisa diminimalisir. Mereka sudah tahu titik kumpul dan jalur evakuasi," jelas Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan kepada Kompas.com, Sabtu (5/1/2018).

Ia mengatakan, simulasi penanggulangan bencana tsunami juga akan digelar di sembilan kota/kabupaten yang berada di wilayah jalur Pantai Selatan.

"Kita awali di Pantai Mustika, karena berada di dusun Pancer yang paling ujung selatan lalu ke kota-kota lain yang ada di wilayah jalur Pantai Selatan di Jawa Timur. Masyarakat juga harus siaga. Selain itu juga kita lengkapi bantuan jaket penyelamat untuk masyarakat yang ada di pesisir pantai," jelasnya. 

https://regional.kompas.com/read/2019/01/06/07522391/melacak-tragedi-jumat-pon-jejak-keganasan-tsunami-di-banyuwangi

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gubenrur Jatim Berikan Bantuan Sambungan Listrik PLN untuk 1.951 Penyintas APG Semeru

Gubenrur Jatim Berikan Bantuan Sambungan Listrik PLN untuk 1.951 Penyintas APG Semeru

Regional
Lumpy Skin Disease Ancam Ketahanan Pangan

Lumpy Skin Disease Ancam Ketahanan Pangan

Regional
Sambut Panen, Gubernur Riau Hadiri Gebyar Makan Durian Bantan 2022

Sambut Panen, Gubernur Riau Hadiri Gebyar Makan Durian Bantan 2022

Regional
Ketua TP-PKK Riau Riau Kunjungi Dua Panti Asuhan di Bengkalis

Ketua TP-PKK Riau Riau Kunjungi Dua Panti Asuhan di Bengkalis

Regional
Gubernur Khofifah Optimistis Gelaran SPE 2022 Bisa Dorong Pertumbuhan Ekonomi di Jatim

Gubernur Khofifah Optimistis Gelaran SPE 2022 Bisa Dorong Pertumbuhan Ekonomi di Jatim

Regional
Bupati Jekek Minta Generasi Muda Beri Warna Baru untuk Dunia Pertanian

Bupati Jekek Minta Generasi Muda Beri Warna Baru untuk Dunia Pertanian

Regional
Ujaran Kebencian Jelang Pemilu 2024 Meningkat, Masyarakat Papua Diimbau Lakukan Hal Ini

Ujaran Kebencian Jelang Pemilu 2024 Meningkat, Masyarakat Papua Diimbau Lakukan Hal Ini

Regional
Cegah Penyebaran PMK, Bupati Wonogiri Perketat Pengawasan di Pasar Hewan

Cegah Penyebaran PMK, Bupati Wonogiri Perketat Pengawasan di Pasar Hewan

Regional
Patuh Sampaikan LHKPN, Gubernur Riau Syamsuar Dapat Apresiasi dari KPK

Patuh Sampaikan LHKPN, Gubernur Riau Syamsuar Dapat Apresiasi dari KPK

Regional
Mulai Juli 2022, Pemkab Wonogiri Cover Iuran BPJS Ketenagakerjaan Seluruh Perangkat RT dan RW

Mulai Juli 2022, Pemkab Wonogiri Cover Iuran BPJS Ketenagakerjaan Seluruh Perangkat RT dan RW

Regional
Lestarikan Lingkungan, Pemprov Papua Tanam 1.000 Pohon Sagu di Jayapura

Lestarikan Lingkungan, Pemprov Papua Tanam 1.000 Pohon Sagu di Jayapura

Regional
Melalui DD Farm, Dompet Dhuafa Sediakan Pakan Ternak untuk Warga Gunungkidul

Melalui DD Farm, Dompet Dhuafa Sediakan Pakan Ternak untuk Warga Gunungkidul

Regional
Sediakan Hewan Kurban di Sulteng, Dompet Dhuafa Berdayakan Peternak Lokal

Sediakan Hewan Kurban di Sulteng, Dompet Dhuafa Berdayakan Peternak Lokal

Regional
Peringati HUT Ke-104 Madiun, Walkot Maidi Paparkan Target dan Capaiannya

Peringati HUT Ke-104 Madiun, Walkot Maidi Paparkan Target dan Capaiannya

Regional
Gubernur Syamsuar Dukung Pebalap Asal Riau di Kejuaraan Dunia

Gubernur Syamsuar Dukung Pebalap Asal Riau di Kejuaraan Dunia

Regional
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.