NEWS
Salin Artikel

Kisah Memprihatinkan Siswa dan Guru di Pedalaman Bengkulu

Sekolah ini didirikan tahun 2011 oleh sejumlah pemuda setempat. Mereka mendirikan sekolah dengan semangat ingin memperbaiki dunia pendidikan di kawasan terpencil Bengkulu yang sangat memprihatinkan. 

Dengan dana terbatas, sekolah pun dibangun. Gedung sekolah terbuat dari setengah papan. Hanya ada dua ruangan yang disekat menjadi empat ruangan. 

"Tiga dibuat ruang kelas, satu ruang guru, TU, kepala sekolah, dan perpustakaan," ujar Kepala MTs Zikir Pikir, Sukamdani, Senin (18/12/2017).

Sukamdani mengatakan, kondisi gedung memprihatinkan. Bahkan tidak layak digunakan proses belajar 34 orang siswa di sekolah tersebut.

Status gedung adalah milik bangunan desa. Sejak delapan tahun melakukan kegiatan belajar mengajar (KBM), sekolah ini minim bantuan pemerintah.

Saat ini sekolah tersebut hanya memiliki sembilan tenaga pengajar honorer yang digaji Rp 100.000 per bulan.

"Guru pengajarnya adalah pemuda desa dengan gaji Rp 100.000 per bulan. Dalam satu minggu masing-masing guru mengajar dua kali. Ini beban moral bagi kami selaku putra daerah," jelas Sukamdani.

Ia mengisahkan, awal pendirian sekolah tersebut berangkat dari keprihatinan atas kondisi masyarakat Desa Tik Teleu yang kurang mampu melanjutkan sekolah. Sedangkan semangat sekolah anak-anak cukup tinggi.

Namun karena terkendala biaya, mereka harus menelan semua mimpinya. Sebab lokasi SMP/MTs terdekat hanya bisa diakses oleh ojek atau harus memiliki kendaraan sendiri. Dengan kondisi keuangan masyarakat kampung, hal itu tidak memungkinkan.

"Kalau tidak begitu (mendirikan bangunan sekolah) anak-anak tidak bisa melanjutkan sekolah ke tingkat SMP. Selanjutnya berangkat juga dari pergaulan remaja masyarakat setempat yang kurang memahami ilmu agama, maka kita berinisiatif untuk mendidrikan MTs bukan SMP," ungkap Sukamdani.

Sebagai biaya operasional, MTs Zikir Pikir hanya bersandar pada Bantuan Operasional Sekolah (BOS). 

"Kalau sekarang sekolah dibantu wali murid Rp 30.000 per bulan, dan itu murni inisiatif orangtua siswa, karena mereka menginginkan sekolah itu harus tetap jalan," ucapnya.

"Dulu kita sempat kekurangan guru, karena banyak yang tidak sanggup digaji cuma Rp 100.000 per bulannya, dan sempat mau tutup sekolahnya karena itu. Kemudian kita pihak sekolah mengundang wali murid untuk membicarakan hal itu," tambahnya.

Sejauh ini, sekolah telah memiliki satu hektar lahan hibah masyarakat untuk didirikan bangunan. Untuk membangun sekolah tersebut, dibutuhkan dana sekitar Rp 300 juta.

"Kami sedang melakukan penggalangan dana baik secara online dan bantuan dari masyarakat. Mudah-mudahan dalam waktu dekat pengumpulan dana masyarakat dapat mendirikan bangunan sekolah," demikian Sukamdani.

https://regional.kompas.com/read/2017/12/19/07095311/kisah-memprihatinkan-siswa-dan-guru-di-pedalaman-bengkulu

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gubernur Khofifah Sebut Kompetensi ASN Jadi Kunci Perbaikan Kualitas Birokrasi

Gubernur Khofifah Sebut Kompetensi ASN Jadi Kunci Perbaikan Kualitas Birokrasi

Regional
Pemprov Papua Berharap Pemda Hidupkan PMI yang Konsisten Jalankan Misi Kemanusiaan

Pemprov Papua Berharap Pemda Hidupkan PMI yang Konsisten Jalankan Misi Kemanusiaan

Regional
Pemprov Papua Kerahkan 96 Nakes untuk Cek Kondisi Hewan Kurban Jelang Idul Adha

Pemprov Papua Kerahkan 96 Nakes untuk Cek Kondisi Hewan Kurban Jelang Idul Adha

Regional
Wujudkan Pemerintahan yang Bersih dan Akuntabel, Pemprov Papua Maksimalkan Sistem E-Government

Wujudkan Pemerintahan yang Bersih dan Akuntabel, Pemprov Papua Maksimalkan Sistem E-Government

Regional
Optimalkan Pendidikan Anak, Pemkot Madiun Cegah Pernikahan Dini hingga Perangi Stunting

Optimalkan Pendidikan Anak, Pemkot Madiun Cegah Pernikahan Dini hingga Perangi Stunting

Regional
Dompet Dhuafa Kirimkan Tim QC ke NTT untuk Cek Kesehatan Hewan Kurban

Dompet Dhuafa Kirimkan Tim QC ke NTT untuk Cek Kesehatan Hewan Kurban

Regional
Bupati Jekek: Saya Yakin PPPK Guru di Wonogiri Mampu Jawab Tuntutan Zaman

Bupati Jekek: Saya Yakin PPPK Guru di Wonogiri Mampu Jawab Tuntutan Zaman

Regional
Dorong Pertumbuhan Industri, Pemprov Papua Akan Bangun PLTA Berkapasitas 100 MW di Jayawijaya

Dorong Pertumbuhan Industri, Pemprov Papua Akan Bangun PLTA Berkapasitas 100 MW di Jayawijaya

Regional
Kejar Target Perekaman E-KTP Wilayah Meepago, Pemprov Papua Buka Layanan di Paniai

Kejar Target Perekaman E-KTP Wilayah Meepago, Pemprov Papua Buka Layanan di Paniai

Regional
Gubenrur Jatim Berikan Bantuan Sambungan Listrik PLN untuk 1.951 Penyintas APG Semeru

Gubenrur Jatim Berikan Bantuan Sambungan Listrik PLN untuk 1.951 Penyintas APG Semeru

Regional
Lumpy Skin Disease Ancam Ketahanan Pangan

Lumpy Skin Disease Ancam Ketahanan Pangan

Regional
Sambut Panen, Gubernur Riau Hadiri Gebyar Makan Durian Bantan 2022

Sambut Panen, Gubernur Riau Hadiri Gebyar Makan Durian Bantan 2022

Regional
Ketua TP-PKK Riau Riau Kunjungi Dua Panti Asuhan di Bengkalis

Ketua TP-PKK Riau Riau Kunjungi Dua Panti Asuhan di Bengkalis

Regional
Gubernur Khofifah Optimistis Gelaran SPE 2022 Bisa Dorong Pertumbuhan Ekonomi di Jatim

Gubernur Khofifah Optimistis Gelaran SPE 2022 Bisa Dorong Pertumbuhan Ekonomi di Jatim

Regional
Bupati Jekek Minta Generasi Muda Beri Warna Baru untuk Dunia Pertanian

Bupati Jekek Minta Generasi Muda Beri Warna Baru untuk Dunia Pertanian

Regional
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.