Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Wildan di ISIS Dimulai dari Sekolah di Mesir (2)

Kompas.com - 14/08/2014, 12:11 WIB

LAMONGAN, KOMPAS.com — Wildan Mukhollad, anggota pasukan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang menjadi pelaku bom bunuh diri di Irak, ternyata adalah pemuda dari Lamongan, Jawa Timur. Menurut penelusuran Surya, Wildan berasal dari Kecamatan Solokuro, wilayah yang sama dengan daerah asal trio bom Bali, Ali Amrozi, Ali Ghufron alias Muchlas, dan Ali Imron. Sepak terjang Wildan tidak disetujui oleh keluarganya. (Baca juga: Pelaku Bom Bunuh Diri ISIS di Irak Ternyata dari Lamongan (1).

Kisah bergabungnya Wildan dengan pasukan ISIS dimulai ketika ia bersekolah di SMA Al-Azhar, Mesir. Dia memilih sekolah di negara yang menjadi kiblat ilmu-ilmu, selepas dari bangku Madrasah Tsnawiyah (MTS) Al-Islam, Tenggulun Solokoro, Lamongan.

Di Mesir, Wildan memiliki kakak perempuan, Nashiroh, yang lebih dulu tinggal di sana. Namun, pada 2012, Nashiroh, kakak yang tinggal di Mesir itu, kehilangan kontak dengan Wildan.

Begitu juga dengan keluarga di Lamongan, mereka kesulitan menghubungi pria yang selalu ranking satu saat bersekolah di MTs Al-Islam itu.

Tidak ada yang tahu aktivitas Wildan. Baru pada pertengahan 2012, Wildan memberi kabar kepada Nashiroh bahwa dia berada di Aleppo, Suriah.

Aleppo selama ini menjadi medan pertempuran antara tentara pemerintahan Presiden Suriah Bashar al-Assad dan tentara ISIS. Saat itu, berita tentang ISIS belum seheboh sekarang.

dok.Surya Wildan Mukhollad memotret dirinya sendiri setelah tiba di Irak untuk berjihad. Foto ini dikirim untuk ibunya seperti ditayangkan di Surya.

Di Irak, Wildan dikenal dengan nama Abu Bakar Al Muhajir Al Wildan Mukhollad bin Lasmin. Hampir setahun dia bergabung dengan pasukan ISIS. Wildan sempat bertugas di Allepo sebelum menyeberang ke Irak.

Sejak itu pula, komunikasi Wildan dan keluarganya menjadi jarang. Keluarganya di Lamongan dan Mesir kesulitan menghubunginya. Keluarga baru bisa berkomunikasi ketika Wildan berinisiatif menelepon.

Kadang Wildan juga chatting dengan saudara laki-lakinya yang lain. Keluarga pun berembuk. Mereka sepakat Wildan harus pulang. Terlebih lagi, kondisi ayahnya bertambah parah. Pada Februari 2012, ayah Wildan meninggal.

Keluarga merasakan kesedihan yang luar biasa lantaran keinginan sang ayah bertemu Wildan tidak kesampaian. Ibu Wildan juga terkejut mengetahui sepak terjang Wildan selama di perantauan.

Berbagai cara ditempuh untuk meluluhkan hati Wildan agar mau kembali ke Tanah Air.

“Ibunya sampai bilang, 'Nak, kamu tidak ingin nikah ta? Ayo pulang dan menikah di sini',” ujar Muhammad In’am, kakak Wildan, menirukan ucapan ibunya.

Wildan menjawab tawaran ibunya dengan nada lembut. Ia berujar agar keluarga merelakannya.

“Kalau nikah, saya menikah di sini saja, Bu,” kata In’am menirukan jawaban Wildan kala itu.

Untuk urusan nikah-menikah, organisasi yang dipimpin Abu Bakr Al Baghdadi itu memang menyiapkan istri bagi para serdadunya yang berstatus bujangan.

Bukan hanya istri, ISIS juga menyediakan rumah bagi siapa saja yang mau berperang bersama mereka (baca juga: ISIS Sediakan Istri bagi Bujang yang Hijrah ke Irak). (idl/ben)


BERSAMBUNG: Pemuda Lamongan Ini Hilang Setahun Sebelum Aksi Bom Bunuh Diri ISIS di Irak (3)

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Sumber
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com