Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Muhaimin Iskandar: DPR Hadapi Tantangan Baru, Salah Satunya Nadiem Makarim

Kompas.com - 31/10/2019, 07:22 WIB
Reni Susanti,
Khairina

Tim Redaksi

BANDUNG, KOMPAS.com – Wakil Ketua DPR Muhaimin Iskandar mengatakan, kehadiran menteri-menteri muda sebagai mitra Komisi X DPR akan menjadi tantangan tersendiri.

Kehadiran orang-orang muda kreatif seperti Nadiem Makarim yang menakhodai Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Whisnutama sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif akan menuntut kecepatan dan ketepatan anggota Komisi X dalam mengimbangi langkah mereka.

"Komisi X akan hadapi tantangan baru salah satunya menteri usia 35 tahun. Menantang, menarik, berani,” ujar Muhaimin dalam rilis yang diterima Kompas.com, Rabu (30/10/2019).

Baca juga: Serikat Guru Dukung Nadiem Makarim Benahi Kurikulum SMK

“Saya tidak tahu kenapa Pak Nadiem (Makarim), mungkin karena kreativitasnya, tetapi bagaimanapun pandangannya tergantung Komisi X," katanya.

Begitu pun dengan Wishnutama. Ia dinilai orang yang menarik, menantang, berani, dan penuh tantangan. Kini, orang-orang kreatif menjadi menteri.

Sementara itu, Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda menyatakan, pendidikan Indonesia harus mengedepankan adab.

Segala inovasi dan kreativitas dari peserta didik harus bermuara pada terbentuknya mental yang mengedepankan norma sehingga mampu memberikan kemanfaatan kepada sesama.

“Berbagai inovasi dan kreativitas yang diajarkan kepada peserta didik tidak boleh meninggalkan adab sebagai kerangka utama pendidikan di Indonesia. Penekanan terhadap pentingnya adab ini akan menjaga pendidikan Indonesia tidak terjatuh dalam komodifikasi yang serba material,” tuturnya.

Baca juga: Serikat Guru Beri 4 Saran untuk Mendikbud Nadiem Makarim

Huda mengatakan, pendidikan berkualitas harus memenuhi beberapa persyaratan. Pertama, pendidikan harus menumbuhkan ekosistem yang bisa mendorong peserta didik bisa berpikir cerdas.

“Agar bisa cerdas, anak-anak kita harus mempunyai kecukupan gizi yang baik sehingga persoalan biaya pendidikan tidak lagi bicara pada persoalan dasar tentang SPP gratis, tapi bagaimana biaya pendidikan tersebut bisa mencakup penyediaan gizi yang baik bagi peserta didik,” katanya.

Kedua, stakeholder pendidikan harus melakukan proses belajar-mengajar dengan dasar cinta. Dasar kecintaan terhadap ilmu ini akan melahirkan semangat, baik dari regulator, pengajar, maupun peserta ajar.

“Saat ini banyak anak-anak kita yang tidak semangat dalam belajar, baik karena pengaruh gadget yang saat ini begitu luar biasa maupun karena persoalan lain, seperti masalah dalam keluarga,” katanya.

Politisi PKB ini juga menegaskan arti penting seorang guru. Kehadiran guru sebagai seorang pendidik menjadi syarat penting lahirnya pendidikan berkualitas di tanah air.

Karena itu, negara harus hadir untuk menjamin kesejahteraan para guru sehingga mereka optimal dalam mendidik murid-murid mereka.

“Mohon maaf berkembangnya radikalisme di tanah air menurut saya karena banyak orang saat ini mencari ilmu tidak melalui guru, tetapi sekadar membaca sepenggal informasi dari Google,” katanya.

Pendidikan di Indonesia juga harus mengedepankan proses daripada sekadar hasil instan. Karena itu, tahapan dan jenjang pendidikan harus diatur dengan jelas sehingga peserta didik saat lulus benar-benar merupakan manusia utuh dengan yang matang, baik secara inteligensi maupun emosi.

“Pendidikan berkualitas itu membutuhkan waktu panjang sehingga kualitas lulusan tidak hanya cerdas secara inteligensi, tapi juga cerdas secara emosional,” ujarnya.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com