Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

"Bangkai" Jembatan Kuning Diincar Warga dan 5.000 Huntara Disiapkan, Ini 5 Fakta Baru Gempa Sulteng

Kompas.com - 15/10/2018, 17:13 WIB
Michael Hangga Wismabrata,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pemerintah menegaskan tidak akan mendirikan bangunan apa pun di atas lokasi bencana yang melanda Sulawesi Tengah beberapa waktu lalu.

Lokasi tersebut adalah lokasi yang masuk dalam zona rawan likuefaksi dan jalur Palu Koro.

Lalu, kisah tentang keluarga Raisa, bayi 19 bulan yang terpaksa kehilangan kaki kanannya saat gempa melanda Palu.

Berikut fakta baru terkait peristiwa gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah.

1. Menko Polhukam: "Tak ada lagi perumahan di zona rawan likuefaksi"

Anak-anak bermain di sekitar tenda tempat tinggal terpadu bagi pengungsi terdampak gempa di Loli Saluran, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Sabtu (13/10). Palang Merah Indonesia bekerja sama Bulan Sabit Merah Turki mendirikan 350 tenda tempat tinggal terpadu bagi korban terdampak gempa dan tsunami Palu-Donggala. ANTARA FOTO/Sahrul Manda Tikupadang/kye/18SAHRUL MANDA TIKUPADANG Anak-anak bermain di sekitar tenda tempat tinggal terpadu bagi pengungsi terdampak gempa di Loli Saluran, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Sabtu (13/10). Palang Merah Indonesia bekerja sama Bulan Sabit Merah Turki mendirikan 350 tenda tempat tinggal terpadu bagi korban terdampak gempa dan tsunami Palu-Donggala. ANTARA FOTO/Sahrul Manda Tikupadang/kye/18

Pemerintah dipastikan tidak akan membangun perumahan di zona rawan likuefaksi dan jalur patahan Palu Koro.

Menko Polhukan, Wiranto, mengatakan, pemerintah telah belajar dari bencana gempa di Palu serta melihat begitu berbahayanya dampak likuefaksi terhadap bangunan.

"Jangan sampai masuk ke Palu Koro lagi atau tempat-tempat yang sangat labil. Ini membutuhkan satu persyaratan dan perencanaan yang lebih matang yang melibatkan lembaga terkait," kata dia usai rapat koordinasi khusus di Kemenko Polhukam, Jakarta, Senin (15/10/2018).

Untuk saat ini, kata Wiranto, pemerintah fokus pada pembangunan hunian sementara di wilayah terdampak bencana.

Baca Juga: Rangka Jembatan Kuning Palu "Dipreteli" Sejumlah Orang

2. 5.000 unit Huntara akan dibangun

Prajurit TNI AD membangun tenda tempat tinggal terpadu bagi pengungsi terdampak gempa di Loli Saluran, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Sabtu (13/10). Palang Merah Indonesia bekerja sama Bulan Sabit Merah Turki mendirikan 350 tenda tempat tinggal terpadu bagi korban terdampak gempa dan tsunami Palu-Donggala. ANTARA FOTO/Sahrul Manda Tikupadang/kye/18SAHRUL MANDA TIKUPADANG Prajurit TNI AD membangun tenda tempat tinggal terpadu bagi pengungsi terdampak gempa di Loli Saluran, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Sabtu (13/10). Palang Merah Indonesia bekerja sama Bulan Sabit Merah Turki mendirikan 350 tenda tempat tinggal terpadu bagi korban terdampak gempa dan tsunami Palu-Donggala. ANTARA FOTO/Sahrul Manda Tikupadang/kye/18

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, hunian sementara (huntara) yang akan dibangun untuk korban terdampak gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah jumlahnya bisa lebih dari 5000 unit.

Jumlah tersebut diperkirakan melebihi jumlah hunian tetap (huntap) yang akan didirikan.

Sebab, huntara dibangun untuk seluruh warga yang rumahnya rusak akibat gempa maupun tsunami. Sedangkan huntap diperuntukan bagi warga yang rumahnya direlokasi.

"Jumlah huntara belum pasti, sampai sekarang masih didata. Tapi huntara pasti lebih banyak. Sebab, huntara dibutuhkan untuk warga yang direlokasi, dan yang rumahnya rusak tapi tidak direlokasi," kata Sutopo di kantor BNPB, Utan Kayu, Jakarta Timur, Kamis (11/10/2018).

Baca Juga: Jumlah Hunian Sementara untuk Korban Bencana Sulteng Diperkirakan Lebih dari 5000 Unit

3. Spesifikasi hunian sementara menurut pemerintah

Menko Polhukam WirantoDYLAN APRIALDO RACHMAN/KOMPAS.com Menko Polhukam Wiranto

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com