Gara-gara Garis Hitam di Pipa, Pengundian Nomor Urut Paslon Diwarnai Kericuhan - Kompas.com

Gara-gara Garis Hitam di Pipa, Pengundian Nomor Urut Paslon Diwarnai Kericuhan

Kompas.com - 14/02/2018, 10:46 WIB
Meski dilaporkan karena dugaan ijazah palsu, dua pasangan calon Bupati Polewali Mandar tetap diputuskan menjadi peserta Pilkada Polewali Mandar oleh KPU Polewali, Senin (12/2/2018).KOMPAS.com/ JUNAEDI Meski dilaporkan karena dugaan ijazah palsu, dua pasangan calon Bupati Polewali Mandar tetap diputuskan menjadi peserta Pilkada Polewali Mandar oleh KPU Polewali, Senin (12/2/2018).

POLEWALI MANDAR, KOMPAS.com – Penetapan nomor urut dua pasangan calon bupati dan wakil bupati Polewali Mandar, Sulawesi Barat, yang digelar di gedung nasional Pantai Bahari, Polewali Mandar, berlangsung ricuh, Selasa siang (13/2/2018).

Massa pendukung pasangan calon Salim S Mengga-Marwan protes dan menuding KPU Polewali mandar tidak netral dan merekayasa undian atau proses penetapan nomor urut pasangan calon.

Pasangan Salim-Marwan curiga dua pipa berisi nomor urut pasangan calon yang dicat piloks telah diberi tanda khusus yang mudah dikenali pasangan calon lain.

Sejumlah pendukung paslon Salim-Marwan yang memprotes KPU berteriak dan memaki-maki komisioner KPU yang tengah menggelar rapat penetapan nomor pasangan calon. Sejumlah pendukung yang kecewa bahkan meninggalkan ruangan.

Berkali-kali Kapolres Polewali Mandar AKBP Muh Rifai meminta massa pendukung yang gaduh agar tenang dan tertib mengikuti proses penetapan nomor urut paslon dalam ruangan. Namun imbauan itu tak digubris massa yang memprotes KPU.

Baca juga : Dapat Nomor Urut 2, Sudirman Said Singgung Sila Kedua Pancasila

Kapolres bahkan sempat mengancam akan meminta aparat untuk menertibkan ruangan jika tidak mengindahkan peringatan petugas.

Suasana baru tertib kembali setelah sejumlah kordinator massa berusaha menenangkan massa pendukung.

Tim sukses paslon Salim-Marwan, Syamsul Samad menjelaskan, protes timnya bukan mempersoalkan siapa yang dapat nomor berapa, tetapi mempermasalahkan proses penetapan nomor urut karena diduga direkayasa.

“Bukan persoalan siapa dapat nomor berapa, tapi ini masalah proses penetapan nomor urut yang diduga ada rekayasa,” jelas Samad.

Samad pun menyebutkan sejumlah indikasi rekayasa penetapan nomor urut. Misalnya, ditemukan garis yang tidak sama dengan dua pipa paralon berisi nomor urut yang seharusnya dirahasiakan KPU.

Samad meminta KPU bersikap profesional dan netral dalam melaksanakan tahapan-tahan pilkada karena rawan mengundang protes dan kecurigaan massa.

Ketua KPU Polman, M Daniel membantah ada rekayasa penetapan nomor urut paslon. Adanya coretan hitam seperti garis yang membedakan dengan pipa berisi nomor urut paslon yang telah dicat piloks bukanlah faktor kesengajaan.

Menurut Daniel, kemungkinan itu bisa terjadi saat pipa dicat piloks petugas belum kering dan diletakkan di meja sehingga menimbulkan goresan hitam.

“Tidak rekayasa dan tidak ada kesengajaan. Garis hitam yang ditemukan di salah satu pipa berisi nomor urut paslon kemungkinan itu terjadi saat pipa baru dicat atau dipiloks dan diletakkan di meja sebelum kering hingga menimbulkan goresan,” jelas Daniel.

Baca juga : Pasangan Calon Pilkada Jabar Dibuat Deg-degan Saat Ambil Nomor Urut

Ketua Panwaslu Suaib Alimudin mengatakan akan memeriksa tanda-tanda adanya dugaan rekayasa seperti yang diprotes massa pendukung pasangan Salim-Marwan. Panwaslu berjanji akan memberikan rekomendasi terkait laporan yang diprotes salah satu pasangan calon paling lambat 14 hari setelah kejadian.

Meski diwarnai aksi protes, proses penetapan nomor urut paslon tetap dilanjutkan hingga rapat pleno berakhir. Pasangan Salim-Marwan memperoleh nomor urut 1 dan pasangan Andi Ibrahim Masdar-Muh Natsir Rahmat mendapat nomor urut 2.

Usai rapat pleno, kedua perwakilan paslon dipersilakan menerima salinan putusan penetapan nomor urut yang baru saja dibacakan.

Kompas TV Berikut tiga berita terpopuler versi KompasTV hari ini.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Komentar

Close Ads X