Tim Gabungan Terus Cari Harimau yang Bunuh Wanita Pekerja Sawit di Riau - Kompas.com

Tim Gabungan Terus Cari Harimau yang Bunuh Wanita Pekerja Sawit di Riau

Kompas.com - 13/02/2018, 06:36 WIB
Peresmian Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera (PRHSD), Sabtu (29/7/2017) ditandai dengan pelepasan seekor Harimau Sumatera betina bernama Leony berusia 8 tahun dari kandang perawatan berukuran 54 m2 ke dalam kandang rehabilitasi berukuran 2.500 m2. Dok Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Peresmian Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera (PRHSD), Sabtu (29/7/2017) ditandai dengan pelepasan seekor Harimau Sumatera betina bernama Leony berusia 8 tahun dari kandang perawatan berukuran 54 m2 ke dalam kandang rehabilitasi berukuran 2.500 m2.

PEKANBARU, KOMPAS.com - Tim gabungan terus berupaya menangkap harimau yang menewaskan seorang wanita pekerja perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau.

Tim gabungan itu terdiri dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Polres Inhil, WWF, PKHS, PT THIP dan PT Arara Abadi. Mereka berusaha menangkap harimau dengan memasang perangkap serta kamera tersembunyi.

Jucu bicara BBKSDA Riau, Dian Indriati mengatakan, pihaknya hendak menangkap harimau sumatera sebagai upaya penyelamatan meski satwa itu telah menewaskan satu orang pekerja perusahaan bernama Jumiati di areal PT THIP pada 2 Januari lalu itu.

"Tim Rescue dimaksudkan sebagai upaya mengamankan harimau sumatera, yang telah mengalami perubahan tingkah laku (inhabituasi) yang diindikasikan dengan selalu mendekat kepada manusia dan aktivitas manusia permukiman warga," kata Dian pada Kompas.com, Senin (12/2/2018).

Dia menjelaskan, semakin meningkatnya intensitas perjumpaan tim rescue dengan harimau di tempat-tempat umum (jalan lintas dan pemukiman) menjadi bahan evaluasi untuk dibahas di BBKSDA Riau.

Baca juga : Sedang Mencari Burung, Dua Pria Malah Bertemu Harimau Sumatera

Dian mengatakan, dari hasil rapat tim penyelamat, ada enam poin penting yang mesti dilakukan sesuai arahan pimpinan, antara lain melakukan kajian yang mendalam dengan melibatkan para pihak yang memiliki kepedulian akan keselamatan harimau sumatera; antisipasi terhadap perubahan perilaku harimau sumatera dengan cara meningkatkan sosialisasi dan; menambah papan informasi pada jalur dan lokasi-lokasi yang merupakan tempat harimau sumatera sering muncul.

Poin selanjutnya adalah penanganan satwa agar selalu mengedepankan kesejahteraan (animal welfare) dan mengacu pada Peraturan Kementerian Kehutanan No P.48/Menhut-II/2008 tentang Pedoman Penanggulangan Konflik Antara Manusia dan Satwa.

Dari analisa terhadap perilaku harimau sumatera yang menghindari area jebakan (box trap), Dian mengatakan, pihaknya mengusulkan penambahan jebakan yang terbuat dari bahan alami/kayu.

Selain itu, masyarakat sekitar dan harimau sumatera di areal konflik harus menjadi fokus perhatian utama.

"Kita harap tidak ada lagi konflik harimau dengan manusia di Inhil. Tim akan terus memantau keberadaan harimau dan berupaya melakukan penyelamatan," jelas Dian.

Sebelumnya, seekor harimau menerkam seorang wanita hingga tewas di kawasan perkebunan kelapa sawit di Desa Tanjung Simpang, Kecamatan Pelangiran, Indragiri Hilir (Inhil), Riau, Rabu (3/1/2018) lalu.

Baca juga : Selundupkan Kepala Harimau Sumatera, Kapten TNI Gadungan Ditangkap

Korban bernama Jumiati, karyawan PT THIP. Korban ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan.

Saat kejadian, korban bersama dua orang teman wanitanya hendak pulang ke rumah. Namun dalam perjalanan, mereka diserang harimau.

Dua orang teman korban selamat dengan cara memanjat pohon sawit. Sedangkan jumiati tak sempat menyelamatkan diri dari terkaman binatang buas tersebut.

Setelah kejadian itu, tim gabungan langsung menuju lokasi. Upaya penangkapan dilakukan dengan cara pemancingan menggunakan seekor kambing. Namun upaya tersebut tak berhasil. Petugas juga memasang kamera tersembunyi dan beberapa kali harimau tersebut terekam.

Kompas TV Beda Induk, 2 Harimau Ini Tumbuh Bersama dan Akrab


Komentar

Close Ads X