Nenek Iwik Bersyukur Bisa Merasakan Hidup di Enam Zaman - Kompas.com

Nenek Iwik Bersyukur Bisa Merasakan Hidup di Enam Zaman

Kompas.com - 12/02/2018, 14:28 WIB
Dedi Mulyadi saat berkunjung ke rumah Nek Iwik, di Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Senin (12/2/2018).KOMPAS. com/IRWAN NUGRAHA Dedi Mulyadi saat berkunjung ke rumah Nek Iwik, di Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Senin (12/2/2018).

TASIKMALAYA, KOMPAS.com - Nek Iwik (98), warga Kampung Munjul, Desa Sukasukur, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, mengaku telah merasakan enam zaman selama hidupnya.

Mulai dari masa kecil di zaman penjajahan Belanda, Jepang, zaman perjuangan kemerdekaan, orde lama, orde baru hingga sampai saat ini masa reformasi.

Saat ini, nenek renta yang mengaku lahir tahun 1920 tersebut hidup bersama empat orang cucunya di sebuah gubuk reyot yang hampir ambruk. Nek Iwik pun terlihat bahagia saat keinginannya bertemu seorang tokoh budaya Jawa Barat, Dedi Mulyadi, akhirnya terwujud pada Senin (12/2/2018).

Keinginannya itu disampaikan oleh salah seorang warga setempat melalui akun sosial media. Pesan tersebut diketahui Dedi Mulyadi hingga akhirnya Dedi menyempatkan menjenguk sang nenek yang beberapa minggu lalu sempat mengeluh sakit.

Nenek yang sudah lama menjanda ini mengetahui sosok Dedi yang suka membantu janda tua dari obrolan tetangganya.

"Alhamdulillah tiasa pendak sareng Cep Dedi. Hatur nuhun sudah mau nepangan Emak. (Alhamdulillah bisa bertemu dengan Nak Dedi. Terima kasih sudah mau menemui)," jelas Nek Iwik, saat dikunjungi Dedi Mulyadi, Senin pagi.

Baca juga : Alhamdulillah, Nuhun Pisan, Kang Dedi

Umur Nek Iwik yang sudah hampir seabad ini pun menjadi perhatian Dedi saat berkunjung. Nenek ini pun menjawab secara pasti kenapa sampai seusianya masih bisa bugar dan kondisinya sehat.

"Tina emameun we cep, kedah dijagi. (Dari makanan saja, Nak, harus dijaga)," jawabnya.

Melihat kondisi rumah Nek Iwik, Dedi Mulyadi pun berjanji akan memperbaiki rumah milik nenek yang sudah empat kali menikah itu.

Saat ini, rumah tersebut memang tergolong tidak layak huni karena hanya berdinding bilik bambu dengan ukuran 5x7 meter. Tiang penyangga rumah tersebut pun diketahui sudah lapuk dan rentan roboh.

"Insya Allah mulai hari ini kita bangun kembali agar layak huni," kata Dedi.

Baca juga : Tangisan Pegawai Saat Dedi Mulyadi Pamit Mundur dari Jabatan Bupati

Langkah Dedi ini dilakukan karena ia merasa melihat Nek Iwik sama seperti melihat almarhumah ibundanya sendiri.

"Saya seperti melihat ibu saya, jadi anggap saja ini sebagai bakti saya kepada ibu saya sendiri yang telah meninggal dunia," pungkasnya.

Kompas TV Dedi menilai hal itu merupakan dukungan karena adanya hubungan kedekatan.


Komentar

Close Ads X